Cegah COVID-19 Menyebar, Perilaku 3M dan 3T Harus Dilakukan Bersamaan

Raden Jihad Akbar
·Bacaan 1 menit

VIVA – Hasil riset menunjukkan, hingga saat ini tercatat masih ada 29 persen masyarakat yang belum paham dengan konsep Testing, Tracing dan Treatment (3T). Sementara untuk perilaku 3M, sebanyak 99 persen responden mengaku telah paham.

Managing Director IPSOS Indonesia, Soeprapto Tan, mengemukakan dengan data yang didapatkan IPSOS di atas, menyiratkan seolah-olah masyarakat menganggap perilaku 3M dan 3T adalah dua hal yang terpisah. Padahal kedua hal tersebut diakuinya merupakan satu paket dalam memutus mata rantai penularan COVID-19.

Baca juga: Kejar Produksi 1 Juta BOPD, 600 Sumur Migas Ditargetkan Dibor 2021

“(Kampanye) 3M di awal-awal sangat kencang sekali dan sampai sekarang kampanyenya. [Jika] 3M tidak jalan, 3T pasti akan lebih parah. Sekarang 3M sudah, saatnya kita mulai ngomongin 3T,” ujarnya dalam Dialog Produktif secara daring yang bertema ‘Optimisme Masyarakat terhadap 3T (Tracing, Testing, Treatment)’ di Media Center Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional, dikutip Jumat, 13 November 2020.

Tak hanya itu, ketika vaksin COVID-19 nantinya sudah ditemukan dan bisa didistribusikan, dia menyebutkan perilaku 3M dan 3T harus tetap dijalankan.

“Kalau misalkan mendapatkan vaksin paling cepat Mei atau Juni [tahun depan], kebiaasan terhadap 3M dan 3T harus tetap kita jalankan sampai benar-benar pemerintah memberikan informasi bahwa COVID-19 sudah tidak ada,” ujarnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Monica Nirmala, Penasihat Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Menko Marinvest) untuk terus melakukan peningkatan testing dan tracing.

Dia mengatakan bahwa semua orang harus mengambil peranan untuk memutus mata rantai penularan virus Corona dengan berpartisipasi melaksanakan 3M dan 3T secara bersamaan.