Cegah Kelahiran Prematur dengan Memahami Faktor Risiko

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta - Berdasarkan temuan riset Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 1 dari 10 anak lahir prematur pada 2010. Kondisi tersebut memicu estimasi kelahiran prematur sebanyak 15 juta atau kurang dari satu juga bayi meninggal karena prematuritas.

Kelahiran prematur sendiri merujuk pada kelahiran pada usia kehamilan kurang dari 37 minggu. Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Konsultan Fetomaternal Dr. dr. Rima Irwinda, Sp.OG(K) menyampaikan faktor risiko kelahiran prematur terdiri atas faktor yang dapat dimodifikasi dan yang tidak dapat dimodifikasi.

Satu di antaranya adalah kehamilan multipel. Meski, kehamilan multipel yang hamil secara spontan (bukan bayi tabung) yang mengandung tiga janin dikatakan dr. Rima sangat jarang terjadi.

"Tapi, sekarang ini kehamilan karena bayi tabung atau IVF itu cukup banyak, maka kehamilan multipel prevalensinya jadi semakin besar," kata dr. Rima pada webinar Bicara Gizi dengan tema "Tantangan dan Penanganan Kesehatan bagi Ibu dan Anak Kelahiran Prematur" yang diselenggarakan oleh Danone Specialized Nutrition Indonesia dalam rangka memperingati Hari Prematuritas Sedunia, Rabu, 17 November 2021.

dr. Rima melanjutkan, kehamilan multipel dapat berdampak pada terlalu meregangnya rahim hingga menyebabkan kontraksi. Dari tahun ke tahun, angka kehamilan multipel kian tinggi, salah satunya karena program bayi tabung yang menyebabkan prevalensi juga ikut tinggi.

"Selain itu, risiko yang menyebabkan kelahiran preterm adalah ibu-ibu dengan riwayat kelahiran preterm sebelumnya juga berisiko mengalami preterm di kehamilan berikutnya. Atau mungkin ini hamil pertama, tapi ibunya pasien artinya neneknya janin, juga melahirkan preterm sebelumnya itu juga merupakan salah satu faktor risiko," tambahnya.

Faktor risiko lainnya adalah adanya kelainan atau variasi bentuk uterus atau serviks, salah satunya bentuk uterus yang terbagi dua. Kondisi ini membuat kemampuan meregangnya menjadi lebih kecil dibandingkan rahim normal saat kehamilan berusia cukup besar.

"Kemungkinan kontraksinya akan lebih besar sehingga menyebabkan kelahiran preterm," jelas dr. Rima.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Ragam Faktor Risiko

Ilustrasi Bayi Prematur Foto oleh Lisa Fotios dari Pexels
Ilustrasi Bayi Prematur Foto oleh Lisa Fotios dari Pexels

Ibu-ibu dengan riwayat penyakit diabetes melitus, infeksti (malaria, sifilis, HIV), hipertensi, anemia, hingga asma juga memicu terjadinya kelahiran prematur. Infeksi tersebut akan memicu adanya inflamasi.

"Atau penyalahgunaan obat, alkohol, atau rokok juga berperan faktor risiko untuk preterm, atau usia ekstrem misalnya usia ibunya di bawah 20 tahun atau usia di atas 40 tahun," terang dr. Rima.

Jarak kehamilan terlalu singkat atau dikatakan kurang dari 18 bulan merupakan salah satu faktor risiko terjadinya kelahiran prematur di kehamilan berikutnya. dr. Rima menyarankan, sehabis melahirkan untuk tidak hamil dahulu dengan jarak kurang dari 18 bulan. Untuk mencegahnya, pasien dapat menggunakan kontrasepsi.

"Atau, ibunya punya penyakit-penyakit tertentu selama kehamilan yang membuat kelahiran preterm, bukan karena mulas tetapi terindikasi oleh dokter untuk dilahirkan. Misalnya ibu menderita hipertensi dalam kehamilan atau preeklamsia, maka bila ada komplikasi akibat preeklamsia tersebut, dokter harus melahirkan janinnya lebih awal tujuannya untuk menyelamatkan ibu," ungkapnya.

Kondisi lain yang memicu kelahiran terlalu dini ketika ibu mengalami perdarahan yang cukup hebat. "Misalnya pada kasus-kasus plasenta previa, yaitu plasenta yang menutupi jalan lahir, apabila terlalu banyak perdarahan yang terjadi, maka juga perlu dilahirkan tujuannya untuk menyelamatan ibu, tapi juga akan memengaruhi keselamatan dari bayi," jelas dr. Rima.

Faktor pemicu lain adalah obesitas, data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 pada perempuan usia lebih dari 18 tahun dengan indeks massa tubuh (MT) lebih dari 25 itu ada 32,9 persen. Dengan semakin besarnya IMT terutama di atas 24, risiko melahirkan prematur juga semakin besar.

"Begitu pula dengan kenaikan berat badan selama kehamilan. Bukan hanya obesitas saja, apabila kenaikan berat badan selama kehamilan tidak adekuat, misalnya kurang dari yang direkomendasikan disesuaikan dengan indeks massa tubuh, itu merupakan salah satu risiko kelahiran preterm," lanjut dr. Rima.

Peranan Penting Nutrisi

Ilustrasi bayi prematur Foto oleh Laura Garcia dari Pexels
Ilustrasi bayi prematur Foto oleh Laura Garcia dari Pexels

Risiko lain adalah adanya defisiensi mikronutrien. "Jadi, nutrisi itu sangat berperan. Kalau ada defisiensi mikronutrien sebagai contoh vitamin A, B6, B12, D, folat, PUFA, Zinc, selenium, kalsium, besi, magnesium juga meningkatkan risiko kelahiran preterm," tambahnya.

dr. Rima lebih lanjut mengungkap, faktor-faktor yang tidak dapat dimodifikasi adalah riwayat kelahiran prematur, ras, usia kurang dari 18 tahun dan lebih dari 40 tahun, status sosial ekonomi rendah, kelainan uterus atau serviks, hingga overdistensi uterus (cairan ketuban berlebih, kehamilan multipel). Namun, ada pula sederet faktor risiko yang dapat dimodifikasi yang sebaiknya diperhatikan oleh para ibu untuk meningkatkan kewaspadaan mencegah kelahiran prematur.

"Stop merokok selama kehamilan atau saat sebelum hamil kalau bisa stop merokok. Bukan hanya ibunya, perokok pasif juga berpengaruh. Lalu, perawatan antenatal selama kehamilan kalau sebelumnya tidak teratur, bisa dirutinkan, terutama pasien-pasien dengan faktor risiko," terangnya.

Faktor lain yang dapat dimodifikasi adalah jarak kehamilan pendek yang dapat diatur dengan kontrasepsi juga anemia yang dapat dicari penyebabnya dan diperbaiki. Ada pula infeksi saluran kemih, infeksi genital, dan penyakit periodontal juga dapat diobati.

"Juga nutrisi, namun memang kita tidak bisa mengobati saat pasien datang sudah dengan kontraksi dan pembukaan. Karena memperbaiki nutrisi membutuhkan waktu cukup lama, idealnya modifikasi dari faktor risiko ini dilakukan saat pasien belum hamil, minimal tiga bulan sebelumnya bisa memperbaiki nutrisi terlebih dahulu," jelas dr. Rima.

Langkah tersebut ditempuh mengingat menurunkan berat badan pada pasien yang obesitas tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Faktor lain adalah stres, yang sulit dipungkiri selalu ada, namun ibu disarankan untuk dapat menerapkan manajemen stres agar tidak menyebabkan kelahiran prematur.

Infografis 8 Cara Cegah Bayi Baru Lahir Tertular Covid-19

Infografis 8 Cara Cegah Bayi Baru Lahir Tertular Covid-19 (Liputan6.com/Triyasni)
Infografis 8 Cara Cegah Bayi Baru Lahir Tertular Covid-19 (Liputan6.com/Triyasni)
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel