Cegah Pandemi Selanjutnya, Kementan Bersama FAO dan USAID Luncurkan Program Ketahanan Kesehatan Global

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta Pandemi COVID-19 yang menyebar di hampir seluruh negara di dunia dan berdampak signifikan di segala sektor telah membuktikan bahwa tidak ada negara yang sepenuhnya siap bila ada pandemi selanjutnya.

Terlebih lagi berbagai ancaman pandemi seringkali berkaitan dengan penyakit 'Zoonosis', penyakit hewan yang menular pada manusia. Oleh karena itu, perhatian terhadap penyakit pada hewan dan ancaman munculnya penyakit zoonosis menjadi prioritas pemerintah di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Sebagai upaya untuk menjaga dunia agar aman dari ancaman penyakit menular dan pandemi, Indonesia bersama 70 negara di dunia saling bekerjasama untuk mempercepat dukungan politik dan lintas sektoral melalui inisiasi global yang disebut Global Health Security Agenda (GHSA).

Untuk mendukung GHSA tersebut, Kementerian Pertanian bersama dengan Badan Pangan dan Pertanian Dunia melalui Emergency Center for Transboundary Animal Diseases (FAO ECTAD) dan Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) resmi meluncurkan Program Ketahanan Kesehatan Global (Global Health Security Programme / GHSP) secara virtual pada hari Selasa, 29 Juni 2021.

Peluncuran Program Ketahanan Kesehatan Global (Global Health Security Programme / GHSP) oleh Kementerian Pertanian bersama FAO ECTAD dan (USAID) secara virtual pada Selasa, 29 Juni 2021.
Peluncuran Program Ketahanan Kesehatan Global (Global Health Security Programme / GHSP) oleh Kementerian Pertanian bersama FAO ECTAD dan (USAID) secara virtual pada Selasa, 29 Juni 2021.

Melalui program Ketahanan Kesehatan Global atau GHSP ini, Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Kasdi Subagyono mengungkapkan harapannya agar agar sinergi dan harmonisasi pelaksanaan proyek GHSP dengan proyek lainnya di Kementerian Pertanian dapat berjalan dengan tetap memastikan aspek administrasi yang baik. Meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan sesuai peraturan yang berlaku, dengan mengambil best practices dan lesson learned dari pengalaman implementasi proyek-proyek sebelumnya.

"Saya ingin menyampaikan penghargaan kepada semua mitra kerja Kementerian Pertanian baik dari kementerian/lembaga, asosiasi serta mitra pembangunan internasional. Khususnya FAO Indonesia dan USAID, yang selama ini telah mendukung dan secara bersama-sama bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia dalam upaya penguatan layanan kesehatan hewan nasional yang berkelanjutan. Harapannya upaya yang kita lakukan juga dapat berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs),” ujar Kasdi.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementerian Pertanian, Nasrullah menjelaskan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara pelopor GHSA dan telah aktif berkontribusi sebagai anggota tetap Tim Pengarah sejak tahun 2016 – 2024. Kontribusi besar Indonesia dalam inisiatif global ini juga mendapat perhatian besar dari presiden.

"Kerja sama ini diharapkan bisa melakukan pencegahan, deteksi dini dan pengendalian penyakit-penyakit menular baru, terutama yang berpotensi mengancam kesehatan dan ekonomi Indonesia. Selain itu, semoga bisa berkontribusi pada peningkatan kesehatan manusia, ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat," papar Nasrullah.

Nasrullah menambahkan, program ini juga selaras dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) pemerintah, terutama terkait keamanan pangan dan kesehatan. Ia berharap program ini bisa menjadi kesempatan untuk meningkatkan komitmen bersama dalam melangkah ke depan.

Program GHS Fokus di Area

Direktur Kesehatan Hewan Ditjen PKH Kementan, Dr. drh. Nuryani Zainuddin, M.Si memberikan sambutan dalam peluncuran program Ketahanan Kesehatan Global.jpg
Direktur Kesehatan Hewan Ditjen PKH Kementan, Dr. drh. Nuryani Zainuddin, M.Si memberikan sambutan dalam peluncuran program Ketahanan Kesehatan Global.jpg

GHSP adalah program baru dari kolaborasi panjang Kementerian Pertanian dan FAO ECTAD-USAID dalam mencegah pandemi. Kerja sama ini berawal saat pandemi Avian Influenza pada tahun 2006, dimana Indonesia merupakan negara dengan kasus flu burung H5N1 dengan kematian manusia terbanyak hingga tahun 2014.

Sementara jumlah kasus flu burung pada manusia telah menurun secara signifikan, situasi endemik virus H5N1 masih menjadi ancaman bagi industri perunggasan dan kesehatan manusia. Selain flu burung, banyak daerah di Indonesia yang masih endemik penyakit zoonosis seperti rabies dan antraks.

Program GHS yang akan berjalan selama empat tahun ke depan berfokus pada dukungan teknis di empat area:

a) Kolaborasi multi sektor dan pengembangan kebijakan

b) Surveilans, laboratorium dan identifikasi risiko

c) Kesiapsiagaan dan respons penyakit dengan One Health

d) Kesehatan unggas nasional dan pengendalian resistensi antimikroba.

Direktur Kesehatan Hewan, Dr. drh. Nuryani Zainuddin, M.Si mengungkapkan bahwa Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian sebagai bagian operasional pelaksanaan kerja sama program GHA nantinya akan mendukung penuh kegiatan yang telah disusun.

"Harapannya memberikan manfaat sebesar-besar bagi masyarakat dan dunia, dalam rangka meningkatkan produktivitas ternak, maupun kesehatan hewan dan manusia di masa mendatang khususnya di Indonesia," ujar Nuryani Zainuddin.

Dukungan FAO dan USAID

FAO dan USAID bekerja sama dengan pemerintah membangun kapasitas untuk mencegah ancaman pandemi yang berasal dari Zoonosis di Indonesia, sehingga negara dapat dengan cepat merespons dan mengendalikan wabah zoonosis.

Richard Trenchard - Perwakilan ad interim FAO untuk Indonesia memberikan sambutan dalam peluncuran program Ketahanan Kesehatan Global.jpg
Richard Trenchard - Perwakilan ad interim FAO untuk Indonesia memberikan sambutan dalam peluncuran program Ketahanan Kesehatan Global.jpg

Bersama dengan Pemerintah Indonesia, FAO memperkuat kapasitas kesehatan hewan di berbagai daerah dan memberikan pelatihan dan dukungan teknis pada surveilans penyakit, diagnostik laboratorium, pelaporan dan investigasi wabah, serta kesiapsiagaan dan respons melalui pendekatan One Health.

“Selain dampak kesehatan yang luar biasa, COVID-19 telah mengganggu ketahanan pangan dan ekonomi dunia. Secara global, setidaknya lebih dari 132 juta orang diprediksi menderita sebagai akibat dari COVID-19. Kita tidak ingin keadaan darurat kesehatan global seperti ini terjadi lagi.Kita perlu mendeteksi potensi wabah sedini mungkin dan FAO selalu siap bekerja sama dengan Indonesia untuk merespons lebih awal dan secara efektif.” kata Richard Trenchard, Perwakilan ad interim FAO untuk Indonesia.

Laura Gonzales, PLT Wakil Direktur USAID untuk Indonesia memberikan sambutan dalam peluncuran program Ketahanan Kesehatan Global.jpg
Laura Gonzales, PLT Wakil Direktur USAID untuk Indonesia memberikan sambutan dalam peluncuran program Ketahanan Kesehatan Global.jpg

Pelaksana Tugas Wakil Direktur Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) Indonesia Laura Gonzales mengatakan bahwa suatu kehormatan pihaknya dapat terus bekerja sama dengan Indonesia dalam menangani penyakit menular yang muncul.

“Melalui pendekatan One Health, Program Ketahanan Kesehatan Global USAID akan menurunkan risiko zoonosis dan penyakit infeksi, resistensi antimikroba, serta ancaman biologis lainnya dengan memperkuat sistem kesehatan hewan Indonesia. GHS akan melanjutkan keberhasilan sebelumnya - dan pembelajaran yang kita dapatkan dari respons COVID-19 - untuk lebih mengasah kemampuan deteksi, kesiapsiagaan, serta respons zoonosis dan penyakit infeksi di Indonesia," ujar Laura Gonzales.

(*)

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel