Cegah Rebutan Kue, Erick Thohir Bakal Rapikan BUMN Kesehatan

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menyusun strategi agar sektor kesehatan tak lagi impor besar-besaran. Selama ini, sektor kesehatan mengimpor 90 persen dari total kebutuhan dalam negeri.

"Untuk ketahanan kesehatan, salah satunya bagaimana membangun ekosistem kesehatan terintegrasi. Dimana penguatan juga kepada kapabilitas domestik. Jadi kita jangan impor terus dimana 90 persen kita impor. Kita coba balance dengan kekuatan kita," ujar Erick dalam diskusi virtual, Jakarta, Rabu (20/5/2020).

Erick mengatakan, ke depan industri kesehatan tidak lagi saling berebut kapasitas maupun pasar. Pihaknya akan merapikan seluruh BUMN Kesehatan agar bekerja sesuai dengan kemampuan dan target pasarnya.

"Kita bikin klasifikasi jelas. Misal Kimia Farma fokus pada chemical drugs, Indofarma berpihak kepada herbal, Biofarma fokus pada stem cell, biosimilar vaksin dan lain-lainnyanya," jelas Erick.

"Jadi tidak saling berebut kuenya. Juga di non-drugs atau alat kesehatan kita klasifikasi juga apa yang Biofarma, apa Kimia Farma. Karena Kimia Farma kuat di ritel, kosmetik, nutrisi biar saja di Kimia Farma," sambungnya.

Dia menambahkan, BUMN Kesehatan juga nantinya akan dikerjasamakan dengan universitas. Hal tersebut akan sama-sama menguntungkan baik BUMN maupun universitas.

"Ini yang terjadi di industri kesehatan di BUMN. Semuanya overlapping dan tidak jelas keberpihakannya. Ini yang kita mau ubah ke depan. Bahwa RnD, Bio farma, Indofarma, Kimia Farma, IHC bekerjasama dengan perguruan tinggi dan riset," tandasnya.

Reporter: Anggun P. Situmorang

Sumber: Merdeka.com

Kementerian BUMN Ungkap Ada Mafia Alat Kesehatan

Menteri BUMN Erick Thohir mengunjungi salah satu gerai Kimia Farma di Jakarta.

Sebelumnya, Staf Khusus Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Arya Sinulingga menjelaskan soal adanya mafia dalam arus perdagangan dan pengadaan alat kesehatan di Indonesia.

Arya menyatakan, selama ini Menteri BUMN Erick Thohir memperhatikan kondisi health security (keamanan dalam bidang kesehatan) di Indonesia yang masih rapuh sehingga menjadi celah bagi mafia tersebut beraksi.

"Awalnya, setelah dilantik menjadi Menteri, pak Erick sudah punya gambaran besar tentang food security, energy security dan health security. Dan ketika didalami, health security Indonesia itu akan berat jika suatu saat terjadi sesuatu," kata Arya dalam pernyataannya, Jumat (17/4/2020).

Dengan kondisi bahan baku obat-obatan dan alat kesehatan yang masih impor 90 persen, Erick melihat hal tersebut sebagai ancaman jika tidak segera diatasi. Oleh karenanya, subholding farmasi pun dibentuk.

Tujuannya agar Indonesia tidak ketergantungan impor bahan baku dan barang jadi, padahal sebenarnya Indonesia bisa membuat barang tersebut.

"Contohnya APD, masker, itu seperti ini. Pabriknya ada, tapi bahannya dari luar. Jadi seperti tukang jahit. Bahan baku dari luar, lalu dijahit di Indonesia, lalu diambil lagi oleh mereka. Makanya dibentuklah subholding BUMN farmasi," jelas Arya.