Cegah Stunting saat Pandemi, Yuk Lakukan 4 Langkah Dasar Ini

Rochimawati, Diza Liane Sahputri
·Bacaan 3 menit

VIVA – Menurut World Health Organization (WHO), stunting merupakan kegagalan pertumbuhan dan perkembangan, yang dialami anak-anak akibat asupan gizi yang tidak mencukupi dalam jangka waktu yang lama. Pandemi COVID-19 sendiri memicu kekurangan gizi sehingga berdampak pada gizi buruk serta berakibat fatal.

Anak-anak yang mengalami stunting, terutama pada usia dini, juga dapat mengalami keterbelakangan pada organ lain, termasuk otak. Menurut Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan 2019, angka prevalensi anak pendek di bawah 5 tahun di Indonesia mencapai 27,7 persen. Artinya, 28 dari 100 anak hidup dengan masalah ini.

"Stunting tidak hanya menganggu perkembangan fisiknya, namun juga mengganggu perkembangan otak anak. Apabila perkembangan otaknya terganggu, maka bisa memengaruhi kemampuan dan prestasi di sekolah, produktivitas serta kreativitas di usia-usia produktif,” tulis Kementerian Kesehatan melalui akun twitternya, beberapa waktu lalu.

Dalam keadaan normal tanpa pandemi saja, tidak semua kalangan masyarakat dapat memenuhi asupan makanan yang bergizi dan bervitamin, selain karena tingkat edukasi yang rendah juga karena keadaan ekonomi masyarakat yang tidak merata. Hal ini menjadi penyebab mengapa angka stunting di Indonesia tergolong cukup tinggi.

Untuk itu, sangat penting memberi asupan yang tepat pada anak di usia dini, khususnya di masa pandemi ini. Berikut rangkumannya dikutip dari laman Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

1.000 hari pertama

Pemberian nutrisi penting harus diberikan di 1000 hari pertama kehidupan atau saat usia 0-2 tahun. Dimulai dari pemberian ASI sampai usia 6 bulan. Dilanjutkan dengan ASI dan MP-ASI untuk anak usia 6-12 bulan. Kemudian, ASI ditambah makanan keluarga untuk anak usia12-24 bulan.

Selain usia pemberian nutrisi, jenis makanan juga harus sesuai. Mulai dari pemilihan tepung multivitamin hingga lauk pauk yang tepat. Seperti apa nutrisi yang tepat?

Makanan fortifikasi

Pada masa pandemi, usaha seseorang untuk menjaga kesehatan dengan menjaga asupan makanan yang bergizi dan bervitamin menjadi semakin sulit, yang tentu saja semakin memperburuk angka stunting di Indonesia.

PT Sasa Inti mengambil peran dalam edukasi masyarakat mengenai pentingnya proses olah dan pemilihan kandungan nutrisi yang baik pada makanan.

Hal ini tak mudah dilakukan bagi beberapa kalangan masyarakat yang lebih familiar dengan mengkonsumsi makanan untuk mengenyangkan, salah satunya gorengan yang mudah ditemui dimana saja. Albert Dinata, Marketing Director, Consumer Acquisition & Retention Sasa, menuturkan, sebagai salah satu bahan gorengan Sasa Tepung Bumbu Bervitamin sudah mendapatkan sertifikasi dari BPOM.

"Kandungan vitamin dan mineral pada Sasa Tepung Bumbu Bervitamin tidak hilang bahkan setelah proses penggorengan. Dengan opsi gorengan yang lebih sehat tentunya dapat meningkatkan kesehatan. Ini sesuai dengan misi Sasa yakni Bring Happiness via Simply Prepared Healthier and Delicious Food," tuturnya.

Sebagai tindak lanjut Petisi Gerakan Indonesia Lebih Sehat bersama Sasa Tepung Bumbu Bervitamin, Sasa mendonasikan Rp 200 juta kepada Rotary Club yang bergerak untuk pemberantasan stunting. Sementara itu, pemilihan jenis lauk pauk harus bergizi tinggi agar mencegah stunting. Apa saja?

Protein hewani

Nutrisi penting ini yang kerap diabaikan. Sebab, banyak orang tua yang berpikir bahwa lauk pauk bisa mencakup jenis protein apapun seperti tempe dan tahu. Padahal, dua makanan tersebut termasuk ke dalam protein nabati yang tak mencukupi kebutuhan gizi untuk anak.

Menurut Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Damayanti Rusli Sjarif, protein nabati boleh diberikan untuk si kecil. Akan tetapi, dalam pencegahan stunting, protein nabati sebaiknya tidak dihitung sebagai asupan protein. Sebab, protein nabati tak memiliki asam amino dan zat besi yang mencukupi.

Sumber protein hewani yakni daging ayam dan telur ayam. Di dalamnya, terdapat protein, zat besi, magnesium hingga vitamin. Telur juga mengandung gizi yang lengkap sehingga cocok dikonsumsi setiap hari.

Ikan juga memiliki asam lemak omega 3 untuk perkembangan otak anak secara maksimal meski harganya cukup murah. Juga, daging sapi yang kaya akan zat besi dan asam folat untuk pertumbuhan anak. Lantas, bagaimana dengan camilan yang dikonsumsi?

Camilan

Makanan ringan juga sangat baik dikonsumsi si kecil. Usahakan pemberiannya hanya dua kali sehari di sela-sela waktu makan berat. Artinya, camilan tak boleh diberikan mendekati waktu makan.

Pastikan juga camilan yang diberikan memiliki nilai gizi yang baik dan aman seperti pudding, buah, dan biskuit. Untuk madu, sebaiknya hanya pada anak usia satu tahun ke atas.