Cek 5 Tanda Kamu Kena Self Diagnose, Gangguan Mental Karena Terlalu Sering Googling

·Bacaan 3 menit

Fimela.com, Jakarta Pernahkah kamu merasa pusing dan tidak enak badan? Kebanyakan orang di era digital cenderung mencari gejala penyakit yang kamu alami di internet atau Google. Berbagai jawaban di Google seolah menjadi jawaban tepat atas gejala penyakit yang kamu alami.

Seperti misalnya saat kamu mencari gejala pusing dan tidak enak badan di Google, disebutkan bahwa gejala penyakit tersebut adalah gejala kanker. Padahal kamu sendiri belum pernah memeriksakannya ke dokter.

Yang kamu lakukan ini disebut sebagai self-diagnose. Istilah ini digunakan ketika seseorang mendiagnosis penyakit yang sedang ia alami berdasarkan pencarian informasi secara mandiri.

Self-diagnose sendiri ternyata banyak dilakukan untuk memeriksa kesehatan mental.

Tanda self-diagnose

Ilustrasi/copyright shutterstock.com
Ilustrasi/copyright shutterstock.com

"Banyak orang yang mencari tahu gejala kesehatan mental di internet, lalu percaya mentah-mentah bahwa mereka sedang mengalaminya. Padahal, apa yang ada di internet belum tentu sesuai dengan mereka," ungkap Prita Yulia Maharani, M.Psi., Psikolog.

Prita menambahkan bahwa kegiatan mencari tahu gejala kesehatan mental di internet tidak selalu salah. Namun jangan lupa untuk pastikan kembali dengan ahlinya. Kamu bisa kunjungi psikolog dan psikiater profesional untuk cari tahu lebih lanjut.

Untuk memastikan apakah kamu mengalami self-diagnose, ada beberapa tanda yang bisa kamu cek,

1. Panik

Tahukah kamu, kalau manusia memiliki naluri untuk cenderung memikirkan kemungkinan terburuk yang bisa menimpanya? Itulah mengapa lebih mudah bagimu untuk mengasumsikan hal-hal buruk ketika melakukan self-diagnose. Pada akhirnya, self-diagnose hanya akan membuatmu mengalami kepanikan yang tidak seharusnya terjadi.

Kalau saja kamu lebih memilih berkonsultasi ke psikolog, kamu tidak akan merasa panik. Sebab psikolog profesional bisa menjelaskan kondisimu dengan baik tanpa menimbulkan kepanikan dan kecemasan.

2. Kondisi kesehatan mental yang makin parah

Salah satu resiko dari melakukan self-diagnose adalah kamu justru dapat memperparah kondisi kesehatan mentalmu. Ini bisa terjadi karena kamu terlalu panik dan stres, tidak mengobati masalah kesehatan mental yang sedang kamu alami, atau bahkan mendapatkan pengobatan yang salah.

Setiap masalah kesehatan mental memiliki penanganan tersendiri. Ada yang bisa diatasi dengan terapi, ada pula yang membutuhkan obat-obatan tertentu. Kelemahan dari self-diagnose adalah kamu tidak benar-benar tahu penanganan yang tepat untuk masalah kesehatan mentalmu. Bisa jadi kamu salah langkah dengan menggunakan produk yang memiliki efek samping negatif.

3. Mengabaikan penyakit yang sebenarnya

Gejala penyakit atau gangguan kesehatan mental yang belum tentu benar. Bisa saja kamu yakin sedang mengalami anxiety disorder, tetapi sebenarnya kamu mengalami depresi mayor. Bisa jadi pula kebalikannya atau bahkan bukan keduanya.

Saat kamu melakukan self-diagnose, kamu jadi tidak tahu sebenarnya penyakit atau gangguan kesehatan mental apa yang sedang kamu alami. Kamu hanya menduga-duga hal yang belum tentu kebenarannya. Hal ini merupakan masalah karena dengan begitu kamu jadi tidak bisa mendapatkan penanganan yang tepat.

4. Menyangkal masalah kesehatan mental

Biasanya, seseorang akan menyimpulkan hal terburuk saat melakukan self-diagnose. Tetapi, ternyata hal kebalikannya juga berlaku. Tak jarang ada orang yang memilih untuk menyangkal gangguan kesehatan mental yang sedang dialami.

Mereka umumnya merasa masalah kesehatan mental yang ia alami tidak terlalu parah. Ia berpikir, ah, bukan hal penting, kok. Masalah ini nggak terlalu parah. Padahal, denial tidak akan menyelesaikan masalah. Sebab bisa jadi masalah kesehatan mental yang dimiliki membutuhkan penanganan segera agar tidak semakin parah.

5. Enggan konsultasi ke ahli

Setelah googling masalah kesehatan mentalmu, kamu jadi merasa tidak perlu lagi untuk berkonsultasi ke psikolog. Sebab, kamu berpikir bahwa kamu bisa tahu gejala yang dialami tanpa bantuan ahli.

Jika terlalu sering dilakukan, self-diagnose bisa memunculkan trust issue kepada psikolog dan psikiater. Hal ini dapat terjadi karena kamu sudah terlalu percaya diagnosis yang kamu dapat dari internet. Kamu jadi cenderung mempercayai internet, bukan para ahli.

Simak video berikut ini

#elevate women

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel