Cek Fakta: Benarkah Mualaf Ini Kirim Pesan Bernada Kritik ke Presiden Prancis? Simak Faktanya

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta - Klaim soal Shopie Petronin mengirim pesan bernada kritik ke Presiden Prancis, Emmanuel Macron sedang viral di media sosial. Petronin disebut sebagai misionaris Prancis yang menjadi mualaf setelah ditawan oleh kelompok Islam Mali di Benua Afrika.

Melalui pencarian CrowdTangle, Cek Fakta Liputan6.com menemukan tiga akun yang mengklaim Shopie Petronin mengirim pesan bernada kritik ke Presiden Prancis. Mereka adalah Ilmansyah, Komarudin Deka, dan Riski Tri Utami.

Dalam narasi, ada lima paragraf yang mengklaim sebagai pesan Petronin untuk Presiden Prancis. Begini narasi pesan tersebut:

"Ini adalah PESAN dari Ny. MARYAM PETRONIN, wanita Kulit putih Perancis yang MASUK Islam tanpa paksaan kepada Presiden Prancis MACRON:

Tuan Macron

Damai bagi mereka yang mengikuti petunjuk.Saya menerima bahwa Anda heran bagaimana Sophie Petronin,seorang wanita Perancis ras kulit putih murni, telah masuk Islam setelah 75 tahun menjadi non islam dan selama 4 tahun penahanan di antara umat Islam!

Izinkan saya menyederhanakan segalanya untuk Anda, Tuan Macron..

Ya, saya adalah seorang tawanan Muslim...Tetapi mereka tidak pernah menyentuh saya dengan buruk. Perlakuan mereka terhadap saya adalah penghargaan dan penghormatan. Mereka biasa menawari saya makanan dan minuman meskipun sumber daya langka dan mereka menghormati privasi saya.Tidak ada yang pernah melecehkan saya secara verbal atau fisik dan mereka tidak menghina agama saya. Mereka tidak memaksakan Islam pada saya, tetapi saya melihat dalam akhlak mereka orang-orang yang menyucikan diri dengan air dan berdoa kepada Tuhan shalat lima waktu dan puasa bulan Ramadhan.

Tuan Macron...Orang Muslim di Mali memang miskin, ya, dan negara mereka miskin. Tidak ada Menara Eiffel dan mereka tidak tahu parfum Prancis kita, tetapi mereka adalah yang paling bersih dari kita dan hati yang paling murni."

Ketiganya mengunggah klaim itu dalam bentuk video berdurasi 3 menit dan 41 detik pada 8 November 2020, tanpa mencantumkan sumber yang jelas. Jika ditotal dari tiga video itu, sudah lebih dari 3 ribu orang yang menonton.

Lalu, benarkah itu pesan dari Petronin untuk Macron?

Penelusuran Fakta

CEK FAKTA Liputan6 (Liputan6.com/Abdillah)
CEK FAKTA Liputan6 (Liputan6.com/Abdillah)

Untuk menelusuri kebenaran informasi tersebut, Cek Fakta Liputan6.com menggunakan mesin pencari, Google. Hasil penelusuran mengarahkan ke situs BBC dalam artikel yang dipublikasikan pada 9 Oktober 2020, berjudul: "Mali hostages: Sophie Pétronin and Soumaïla Cissé freed in prisoner swap".

Dalam artikel tersebut, Petronin memang benar disandera di Mali oleh kelompok Tuareg yang didukung oleh kelompok Islam pada Desember 2016. Petronin dibebaskan pada 8 Oktober 2020.

Namun, klaim yang menyebut Petronin seorang misionaris adalah salah. Dia merupakan pekerja sosial yang fokus membantu anak yatim dan kekurangan gizi. Petronin juga disebutkan sebagai seorang ahli penyakit cacing Guinea yang ditemukan menyebar melalui air di Mali Utara.

Hasil penelusuran Google juga mengarahkan ke media asal Turki, Anadolu Agency dalam artikel berjudul: "Freed French humanitarian reveals she is Muslim". Artikel tersebut menyebutkan kalau Petronin seorang mualaf.

"Untuk Mali, saya akan berdoa, memohon berkah dan rahmat Allah, karena saya seorang Muslim. Anda mengatakan Sophie, tetapi Anda sekarang melihat Mariam di depan Anda," katanya.

Kendati seorang mualaf, Petronin, yang sekarang berusia 75 tahun tidak mengirimkan pesan bernada kritik kepada Macron. Hal ini dikatakan oleh anak kandung Petronin, Sebastien Chadaud-Petronin.

Sebastien Chadaud-Petronin mengatakan kebenaran ini kepada situs pencari fakta asal Prancis, Check News dalam artikel berjudul: "Non, Sophie Pétronin n'a pas écrit de lettre évoquant sa conversion à l'islam à Emmanuel Macron". Artikel itu dipublikasikan pada 28 Oktober 2020.

"Tidak ada surat atau pesan yang ditujukan kepada Tuan Macron dari Sophie Petronin," ucapnya.

Klaim ini, menurut Check News pertama kali beredar di Prancis dalam bahasa Arab pada 19 Oktober 2020. Kemudian, pesan itu semakin luar beredar di Facebook.

Bantahan dari Sebastien Chadaud-Petronin soal klaim pesan Sophie ke Macron juga bisa ditemukan di situs France Info dengan judul: "Désintox. Non, Sophie Pétronin n'a jamais envoyé de lettre à Emmanuel Macron". Artikel ini dipublikasikan pada 4 November 2020.

Kesimpulan

banner Hoax (Liputan6.com/Abdillah)
banner Hoax (Liputan6.com/Abdillah)

Klaim soal Shopie Petronin mengirim pesan bernada kritik ke Presiden Prancis, Emmanuel Macron sedang viral di media sosial adalah hoaks karena wanita berusia 75 tahun itu tidak pernah mengirim pesan.

Faktanya, anak kandung Petronin, Sebastien Chadaud-Petronin memastikan sang ibu tidak pernah mengirim pesan kepada Macron.

Tentang Cek Fakta

Liputan6.com merupakan media terverifikasi Jaringan Periksa Fakta Internasional atau International Fact Checking Network (IFCN) bersama puluhan media massa lainnya di seluruh dunia.

Cek Fakta Liputan6.com juga adalah mitra Facebook untuk memberantas hoaks, fake news, atau disinformasi yang beredar di platform media sosial itu.

Kami juga bekerjasama dengan 21 media nasional dan lokal dalam cekfakta.com untuk memverifikasi berbagai informasi yang tersebar di masyarakat.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan kepada tim CEK FAKTA Liputan6.com di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Saksikan video pilihan berikut ini: