[Cek Fakta] Hoaks Bayi 11 Bulan Memakan Habis Usus Ibunya

Liputan6.com, Jakarta - Laman Facebook VIRAL mengunggah foto bayi dengan tampilan yang terlihat tak biasa pada 3 Desember 2019.

Tak hanya mengunggah gambar, laman tersebut juga menambahkan narasi dalam unggahannya itu.

"bayi 11 bulan dalam perut ibunya. Habis usus ibunya di makan oleh bayi ini. Kemudian dokter mengoprasi ibunya untuk mengeluarkan bayi ini... ketika bayi ini keluar, dia menggigit tangan perawat... setelah 3 jam si perawat meninggal, ibu bayi ini pun meninggal setelah bayi ini keluar. Bayi ini lahir dg berat 8 kg, setelah 3 jam bertambah naik bertnya menjadi 13 kg,,. Bayi ini lahir hari jumaat, tidak tahu Allah ingin kasi peringatan apa untuk kita semua. Bayi ini kemudian dibunuh, dokter memberinya suntik mematikan sampai 17 kali baru bayi ini mati. Ini kisah benar2 terjadi di india wallahu A'lam."

Sejak ditayangkan di Facebook, unggahan tersebut telah dibagikan sebanyak 55 kali dan mendapatkan 30 komentar.

Video bayi tersebut juga viral, sejumlah situs online mengabarkannya dengan narasi bayi itu memakan usus ibunya atau harus disuntik 17 kali agar meninggal.

Benarkah klaim yang menyebut bahwa itu adalah bayi 11 bulan yang memakan habis usus ibunya? Dan benarkah asalnya dari India? 

Penelusuran Fakta

Berdasarkan penelusuran, gambar bayi serupa dimuat situs Hindustan Times dalam artikel berjudul Nagpur: Harlequin baby dies two days after birth, yang dipublikasikan pada 14 Juni 2016.

Dalam artikel itu disebutkan, seorang bayi perempuan dengan kelainan genetik langka, dalam istilah medis dikenal sebagai Harlequin Ichthyosis, yang terjadi satu dalam 300 ribu kelahiran.  

Bayi tersebut lahir dengan berat badan 1,8 kilogram. Ia sempat mendapat perawatan di Lata Mangeshkar Medical College and Hospital sebelum akhirnya meninggal dunia.

Sang bayi terlahir dari ibu berusia 23 tahun asal Amravati di Maharashtra, India.

"Ayah bayi tersebut, seorang petani miskin dari Amravati, dan neneknya terkejut saat melihat kondisinya. Namun, mereka akhirnya bisa menerima situasi tersebut," kata pejabat rumah sakit, Dr Kajal Mitra.

Sang ibu juga terkejut saat melihat bayinya. Beberapa jam, sebelum jiwa kecil akhirnya itu pergi, keluarganya menyebut bayi itu sebagai anugerah dari Yang Maha Kuasa.

Kabar berpulangnya bayi dengan Harlequin Ichthyosis tersebut juga dikabarkan India Today dalam video berjudul, Harlequin Baby Dies In Hospital

 

Situs pencari fakta asal India, altnews.in dalam artikel berjudul, Video of baby suffering from rare genetic disorder shared as ‘demon’ baby born in Assam membantah hoaks yang beredar soal bayi dengan Harlequin Ichthyosis -- termasuk yang menyebutnya sebagai 'bayi iblis' yang lahir di Assam.

Narasi hoaks yang beredar di India juga hampir mirip dengan yang viral di Indonesia. Bahwa bayi itu terlahir dalam usia kandungan 11 bulan dan membunuh ibunya saat proses kelahiran. Konon, perawat yang menanganinya tewas 3 jam setelah menyentuhnya. 

"Rakshas born in asam Baby born after 11 months of pregnancy Killed mother during birth The nurse who took care of it died within 3 hours of touching"

Seperti dikutip dari artikel berjudul Harlequin Ichthyosis, Penyebab Bayi Lahir Tanpa Kulit yang dimuat Liputan6.com, sebagian besar bayi yang lahir dengan kondisi Harlequin Ichthyosis meninggal saat masih bayi mau pun belia.

Namun, beberapa mampu bertahan hidup. Salah satunya Amerika Serikat bernama Stephanie Turner. Saat lahir, dokter mendiagnosis ia mengidap penyakit langka ini, bahkan sang dokter mengatakan hanya bisa hidup beberapa hari saja.

Nyatanya, Stephanie masih hidup hingga usia dewasa dan melahirkan anak laki-laki.

Kesimpulan

Kabar viral yang menyebut soak bayi 11 bulan yang memakan habis usus ibunya adalah hoaks belaka. 

Banner hoaks

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Liputan6.com merupakan media terverifikasi Jaringan Periksa Fakta Internasional atau International Fact Checking Network (IFCN) bersama 49 media massa lainnya di seluruh dunia. 

Cek Fakta Liputan6.com juga adalah mitra Facebook untuk memberantas hoaks, fake news, atau disinformasi yang beredar di platform media sosial itu.

Kami juga bekerjasama dengan 21 media nasional dan lokal dalam cekfakta.com untuk memverifikasi berbagai informasi hoax yang tersebar di masyarakat.

Jika anda memiliki informasi seputar hoax yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan kepada tim CEK FAKTA Liputan6.com di email cekfakta.liputan6@kly.id.