Cek Fakta: Hoaks Peneliti Australia Sebut Jokowi sebagai Presiden Tanpa Kemampuan

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Sejak Senin, 7 September 2020 beredar foto berupa tangkapan layar yang seolah-olah menampilkan situs berita. Tangkapan layar itu mencatut nama Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi).

Tangkapan layar itu menyebut Jokowi merupakan presiden yang tidak punya kemampuan sesuai dengan peneliti Australia. Tangkapan layar itu diunggah Nazril Faturrahman dan dibagikan ke Grup Facebook, TETAP JOKOWI.

Begini narasi yang ada di tangkapan layar unggahan Nazril Faturrahman:

"Peneliti Autralia Sebut: Jokowi " Presiden Tak Berkemampuan " Tapi Memiliki Daya Rusak."

Lalu, benarkah peneliti Australia menyebut Jokowi sebagai Presiden tanpa kemampuan?

Penelusuran Fakta

CEK FAKTA Liputan6 (Liputan6.com/Abdillah)
CEK FAKTA Liputan6 (Liputan6.com/Abdillah)

Tim Cek Fakta Liputan6.com menelusuri kebenaran informasi tersebut. Tim membuat tangkapan layar dengan bagian foto Jokowi dan memasukkannya ke mesin pencari, Google Image.

Hasil penelusuran Google Image
Hasil penelusuran Google Image

Hasil penelusuran mengarahkan Tim Cek Fakta Liputan6.com ke situs idntoday.co. Namun judul berita tersebut tidak seperti yang diunggah oleh Nazril Faturrahman.

Judul aslinya yakni: "Peneliti Australia Sebut Jokowi Seperti Wali Kota di Istana Presiden".

Artikel itu membawas sepak terjang Presiden Jokowi dari pengusaha mebel menjadi pemimpin negara mengundang penelitian oleh peneliti di Australia. Hasil penelitian menyebut, Jokowi sebagai sosok kontradiksi. Jokowi juga disebut belum mencerminkan sebagai presiden, pemimpin negara, tapi masih di level wali kota.

Dijelaskan dalam artikel tersebut, Ben Bland, Direktur Program Asia Tenggara di lembaga Lowy Institute menjelaskan hal tersebut kepada ABC Indonesia soal buku terbarunya berjudul 'Man of Contradictions - Joko Widodo and the Struggle to Remake Indonesia'.

Dalam 6 bab buku setebal 180 halaman ini, Ben memaparkan bagaimana "seorang pembuat mebel" berhasil menangkap imajinasi bangsa Indonesia tentang sosok pemimpin yang diidam-idamkan, namun juga penuh "kontradiksi".

"Kontradiksi tidak sepenuhnya konsep yang negatif, tapi menyiratkan Jokowi sedang bertarung untuk mendamaikan banyak persoalan," ujar Ben.

Peneliti asal Australia itu juga memaparkan cara Jokowi mengejar mimpi-mimpi ekonomi, memposisikan diri di tengah pergulatan demokrasi dan otoritarianisme, serta di panggung internasional.

Ben mengakui jika sosok Jokowi adalah pemimpin yang populer, kembali terpilih dengan suara mayoritas yang naik serta memiliki banyak modal politik.

"Pertanyaan saya adalah bagaimana ia memanfaatkan itu? Ia terus mengatakan ingin mendorong Indonesia melewati reformasi, tapi sejauh ini ia sangat berhati-hati," ujarnya kepada ABC Indonesia.

Artikel dengan bahasan yang sama juga dimuat di Tribunnews dengan judul: "Peneliti Australia Sebut Jokowi Seperti Wali Kota di Istana Presiden".

Kesimpulan

Altered dan Missing Context (Liputan6.com/Abdillah)
Altered dan Missing Context (Liputan6.com/Abdillah)

Dengan penelusuran yang dilakukan Cek Fakta Liputan6.com, unggahan Nazril Faturrahman adalah konten yang dimanipulasi. Faktanya, artikel asli tersebut berjudul: "Peneliti Australia Sebut Jokowi Seperti Wali Kota di Istana Presiden".

Tentang Cek Fakta

Liputan6.com merupakan media terverifikasi Jaringan Periksa Fakta Internasional atau International Fact Checking Network (IFCN) bersama puluhan media massa lainnya di seluruh dunia.

Cek Fakta Liputan6.com juga adalah mitra Facebook untuk memberantas hoaks, fake news, atau disinformasi yang beredar di platform media sosial itu.

Kami juga bekerjasama dengan 21 media nasional dan lokal dalam cekfakta.com untuk memverifikasi berbagai informasi yang tersebar di masyarakat.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan kepada tim CEK FAKTA Liputan6.com di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel