Cek Fakta: Hoaks Vaksinasi adalah Program Genosida dan Sebabkan Mandul

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Klaim tentang vaksinasi merupakan program genosida dan menyebabkan mandul beredar di media sosial. Kabar tersebut beredar lewat pesan berantai di aplikasi WhatsApp pada 10 Januari 2022.

Pesan berantai tersebut berisi imbauan program vaksinasi. Sebab, vaksin merupakan program genosida dan dapat menyebabkan kemandulan.

Berikut isi pesan tersebut:

"*STOP PROGRAM*

*VAKSINASI*

*Di Seluruh*

*Wilayah Indonesia*

*Dari Sabang hingga Merauke*.

_Assalamualaikum. Wr. Wb._

*Kepada yang* *terhormat,**saudara-saudaraku**Se-Bangsa dan se-Tanah Air**dari Sabang* *hingga Merauke**Di**Manapun Anda Berada*.

Alhamdulillah, hingga saat ini, kita masih diberi nikmat oleh Allah swt berupa nikmat sehat wal afiat dan umur panjang. Aamiin.Sehungan dengan adanya pernyataan dari media cetak *SOVEREIGN INDEPENDENT tahun 2011*, *Amerika Serikat dan informasi dari para ahli medis Dunia di berbagai Media Sosial tentang bahaya VAKSINASI,* maka kami masyarakat Indonesia dari Sabang hingga Merauke menghimbau dan mengharapkan kepada *Rezim Jokowi yang didukung (Negeri Komunis Cina,* *Taipan 9 Naga, Partai Politik PDIP dan PSI yang dihuni dan dikuasai oleh ratusan kader PKI) dan Anggota DPR RI untuk MENYETOP dan MEMBERHENTIKAN program VAKSINASI* terhadap seluruh Rakyat Indonesia dari Sabang hingga Merauke, termasuk Para Santri Pondok Pesantren dan *Para Siswa Sekolah MI/SD, MTs/SMP, MA/SMA*.Adapun Alasan *PENYETOPAN VAKSINASI* adalah sebagai berikut :

*1. VAKSINASI* menurut informasi dari *koran SOVEREIGN INDEPENDENT tahun 2011* merupakan program *GENOCIDE (pembunuhan Masal secara teratur dan terencana).*

*2. Menurut para ahli kesehatan dunia,* *VAKSINASI* sangat membahayakan, terurama bagi anak-anak usia Sekolah se-tingkat SD, SMP & SMA. Apalagi bagi anak perempuan bisa menyebabkan MANDUL. Untuk itu, kami anjurkan kepada para Wali Murid untuk menonaktifkan anak-anaknya mengikuti program belajar mengajar di Sekolah hingga diberhentikan Program Vaksinasi. Belajar study kelompok bisa di rumah masing-masing dengan memangil guru.

*3. Menurut Laporan Utama Majalah TEMPO Edisi 27 September - 3 Oktober 2021 dan Media-Media Sosial lainnya* telah ada puluhan ribu korban *VAKSINASI*. Di antaranya, mereka banyak yang sakit ringan, berat, cacat seumur hidup dan meninggal dunia. Bahkan akhir-akhir ini banyak siswa SD meninggal dunia dan menjadi korban Pemaksaan Vaksinasi di beberapa Daerah. Ada yang terekpose dan ada yang tidak.

*4. Kepada yang terhormat, para aparat Kepolisian dan Prajurit TNI di kota dan di daerah harus cerdas, pintar dan bijak dalam menyikapi Vaksinasi dengan tidak melakukan sweeping, menggiring dan memaksa Rakyat Indonesia untuk divaksin*. Karena Vaksinasi merupakan *Genocide (pembunuhan massal secara teratur)*. Jagalah nama baik Lembaga Kepolisian dan TNI dari kesan terlibat melakukan kejahatan melalui program Vaksinasi Paksa.

*Ingat ! Tugas Utama TNI dan POLISI saat ini adalah melakukan sweeping dan memulangkan TKA Asing Asal Cina di beberapa Wilayah Indonesia.*

Menurut informasi dari berbagai sumber, termasuk seorang Jendral TNI bahwa *TKA Asing asal Cina adalah Tentara Merah Cina* yang disusupkan. Indonesia harus belajar dari berbagai *Negara yang dikuasai Negeri Komunis Cina* saat ini.

*5. Kepada para Ulama, Kyai, Ustadz, kepala Sekolah, Guru, Wali Santri, Wali Murid dan Masyarakat dari Sabang hingga Merauke harus bersikap tegas, berani, bersatu dan kompak menolak Program Vaksinasi.* Ingat ! Masyarakat Aceh dan Dunia seperti, Amerika dan Eropa menolak dengan tegas program Vaksinasi. Saat ini di Indonesia, Vaksinasi telah dijadikan arena bisnis dan politis oleh para penghianat Bangsa, terutama kelompok *Pengusaha Oligarki (Para Cukong Taipan).*

*6. Para ketua RT, RW, Lurah, Camat, Bupati dan Gubernur di seluruh Wilayah Indonesia harus memberhentikan program Vaksinasi terhadap warganya*. Sebab, Vaksinasi mengandung unsur Genocide (pembunuhan masal).

*7. Departemen Kesehatan, Menteri Kesehatan, para dokter, para tenaga medis dan petugas VAKSINASI* *harus bertanggung jawab di dunia dan akhirat*. Sebab, mereka pelaku utama *Genocide (pembunuhan masal)*.

Ingat Firman Allah swt : _``Barang siapa yang membunuh seseorang tanpa kesalahan, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya``._ (QS Al-Maidah 5 : 32).

*Mantan Menteri Kesehatan, Siti Fadhilah Supari telah mengingatkan Panglima, Intelijen dan Menhan agar siap menghadapi Perang Biologi*.

Bagi Umat Islam, untuk menjaga dan menyelamatkan diri dari berbagai macam jenis Virus, cukup dengan mandi dan berwudhu sambil berdoa, _``Ya Allah, sekira ada penyakit (virus) yang menempel di salah satu anggota badan saya, hilangkankan ia melalui air wudhu dan air mandi ini``_.

Dan jangan lupa, kita mengkonsumsi makanan yang bergizi dan teratur.

*Ingat ! *Virus apapun jenisnya adalah mahluk dan milik Allah swt. Oleh karena itu, kita harus rajin bermunajat dan berdoa kepada-Nya. In syaa Allah, virus akan hilang dan lari dari kita*.

Demikianlah himbauan ini kami sampaikan kepada seluruh Rakyat Indonesia, kepada *Rezim Jokowi,* kepada Para *Anggota DPR RI dan kepada Petugas Vaksinasi, baik yang langsung maupun tidak langsung*.

*Semoga himbauan ini bermanfaat bagi kita semua.* _Aamiin_.

_Wassalamu'alaikum. Wr. Wb._

Jakarta, 1 Januari 2022.

Atas namaBangsa Indonesia,

*Muhammad* *Hisyam Asyiqin.*

*Setelah dibaca, silahkan dishare ke group dan personal lainnya dengan niat berdakwah karena Allah swt dan menyelamatkan saudara-saudara kita Se-bangsa dan Se-Tanah Air.*

*NKRI NEWS*_Selamatkan Bangsa Indonesia & NKRI._

*M. Hisyam Asyiqin*"

Benarkah vaksinasi merupakan program genosida dan menyebabkan mandul? Berikut penelusurannya.

*** Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Penelusuran Fakta

Cek Fakta Liputan6.com menelusuri kabar tentang vaksinasi merupakan program genosida dan menyebabkan mandul. Liputan6.com menemukan artikel yang membantah bahwa vaksin merupakan program genosida.

Artikel tersebut berjudul "Satgas Covid-19: Jangan Takut dan Ragu Karena Vaksin Aman dan Halal" yang dimuat situs covid19.go.id pada 19 November 2020.

JAKARTA - Masyarakat diharapkan tidak takut dan ragu ketika vaksin Covid-19 sudah siap untuk diberikan. Pemerintah tengah memastikan vaksin yang akan digunakan aman, memiliki efektivitas dan halal. Pemerintah juga menggandeng Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk memastikan vaksin yang digunakan halal.

Vaksin yang digunakan nanti sudah lulus uji klinis tahap 3, dan menerima emergency use of authorization (EUA) dari Badan Pemeriksa Obat dan Makanan (POM) serta terdaftar di World Health Organization (WHO). "Uji klinis merupakan tahap yang harus dilalui setiap vaksin untuk memastikan aman digunakan manusia dan memiliki efektivitas menghasilkan imunitas tubuh terhadap Covid-19," ungkap Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito, Kamis (19/11/2020) di Kantor Presiden, sebagaimana disiarkan kanal YouTube Sekretariat Presiden.

Dalam pengembangan vaksin Covid-19, melibatkan para pakar bidang kesehatan dan WHO. Hal ini bertujuan untuk memonitor dan memastikan bahwa vaksin ini aman digunakan. Selain itu, kerjasama yang erat dijalin untuk menginvestigasi dan mengkomunikasikan isu-isu yang muncul dalam pengembangan vaksin. Jika ditemukan isu-isu yang perlu ditindaklanjuti, maka pemerintah akan melaporkan ke WHO dan akan dievaluasi oleh Global Advisory Comitte on Vaccine Safety .

Bahkan untuk memastikan kesiapan program vaksinasi Covid-19, pada Rabu lalu (18/11/2020), Presiden Joko Widodo sudah melakukan peninjauan simulasi vaksinasi Covid-19 yang dilakukan Puskesmas Tanah Sereal, Kota Bogor, Jawa Barat. Dari simulasi itu, masyarakat mengikuti seluruh tahapan vaksinasi dari mulai pendaftaran, memperoleh vaksinasi dan menunggu selama 30 menit paska vaksinasi untuk melihat reaksi penyuntikan vaksin, sebelum diperbolehkan pulang.

Selain itu penetapan regulasi pengadaan vaksin yang dilakukan pemerintah sudah mengikuti standar internasional yang berlaku. Alur perizinan produksi, maupun izin edar juga dilakukan secara ketat untuk memastikan keamanan dan kesesuaian vaksin dengan standar yang berlaku.

"Sekali lagi saya tekankan, vaksin yang akan digunakan nanti aman. Efek samping yang terjadi, hanya bersifat minor dan sementara. Efek samping yang sangat besar sangat jarang ditemui, kita selalu memonitor dan mengantisipasi semua keadaan ini. Vaksin juga dapat melindungi diri kita dan orang lain yang tidak dapat divaksin karena alasan kesehatan tertentu," tegas Wiku.

Selain itu, Liputan6.com juga menelusuri klaim bahwa vaksin dapat menyebabkan mandul. Penelusuran dilakukan dengan memasukkan kata kunci "vaksin mandul" di kolom pencarian Google Search.

Hasilnya terdapat beberapa artikel yang membantah klaim tersebut. Satu di antaranya artikel berjudul "Cek Fakta: Hoaks Vaksin Covid-19 Bisa Bikin Wanita Mandul, Ini Buktinya" yang dimuat Liputan6.com pada 2 Maret 2021.

Dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa vaksin dapat menyebabkan mandul adalah hoaks. Hal itu disampaikan dokter relawan COVID-19 dan edukator kesehatan, dr. Muhammad Fajri Adda’I.

"Tidak. Bohong itu," katanya melalui WhatsApp, Selasa (2/3/2021).

Kemudian, dr. Fajri menjelaskan asal mula kabar yang salah ini. Kabar itu dimulai dari dokter Jerman, Wolfgang Wodarg yang menyebut ada protein di plasenta yang namanya syncytin-1. Wolfgang Wodard menyebut kalau syncytin-1 ini spesifikasinya mirip dengan coronavirus.

"Jadi, Wolfgang Wodarg ini khawatir kalau kita disuntik, vaksinnya salah mengenali. Bukannya mengenali coronavirus, tapi syncytin-1 yang ada di sel uterus dan menganggu kesuburan serta plasenta," ujarnya menjelaskan.

Namun, kata dr. Fajri, kekhawatiran Wolfgang itu sudah terbantah. Penelitian yang dilakukan Pfizer menyebut, walau spesifikasi antara syncytin-1 dan coronavirus mirip, protein yang ada di vaksin bakal menyerang syncytin-1.

"Miripnya tidak 100 persen, hanya beberapa persen. Datanya, 23 wanita hamil yang diteliti dalam penelitian Pfizer, aman-aman saja," ucap dr. Fajri.

Penelusuran kembali dilanjutkan dengan menelusuri klaim bahwa Majalah Tempo edisi 27 September - 3 Oktober 2021 memberitakan puluhan ribu korban meninggal dunia karena vaksinasi.

Dilihat dari situs majalah.tempo.co, Majalah Tempo edisi 27 September 2021 justru mengangkat tema banyaknya hoaks yang beredar terkait korban meninggal dunia akibat vaksin.

Berikut gambar tangkapan layarnya:

Referensi:

https://covid19.go.id/p/berita/satgas-covid-19-jangan-takut-dan-ragu-karena-vaksin-aman-dan-halal

https://www.liputan6.com/cek-fakta/read/4496181/cek-fakta-hoaks-vaksin-covid-19-bisa-bikin-wanita-mandul-ini-buktinya

https://majalah.tempo.co/edisi/2566/2021-09-25

Kesimpulan

Klaim tentang vaksinasi merupakan program genosida dan menyebabkan mandul ternyata tidak benar alias hoaks. Faktanya, vaksin bukan program genosida dan tidak terbukti menyebabkan mandul.

banner Hoax (Liputan6.com/Abdillah)
banner Hoax (Liputan6.com/Abdillah)

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Melawan hoaks sama saja melawan pembodohan. Itu yang mendasari kami membuat Kanal Cek Fakta Liputan6.com pada 2018 dan hingga kini aktif memberikan literasi media pada masyarakat luas.

Sejak 2 Juli 2018, Cek Fakta Liputan6.com bergabung dalam International Fact Checking Network (IFCN) dan menjadi patner Facebook. Kami juga bagian dari inisiatif cekfakta.com. Kerja sama dengan pihak manapun, tak akan mempengaruhi independensi kami.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Ingin lebih cepat mendapat jawaban? Hubungi Chatbot WhatsApp Liputan6 Cek Fakta di 0811-9787-670 atau klik tautan berikut ini.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel