Cek Fakta: Obat Temuan Warga Pontianak Belum Terbukti Klinis Atasi COVID-19

Liputan6.com, Jakarta - Kabar tentang seorang warga Pontianak, Kalimantan Barat yang berhasil menemukan obat corona COVID-19 beredar di media sosial. Kabar ini disebarkan situs suarapemredkalbar.com lewat artikel berjudul "Obat Corona Ditemukan Orang Pontianak".

Berikut isinya:

PONTIANAK, SP – Mantan apoteker dan penemu obat Demam Berdarah Dengue (DBD) asal Pontianak, Fahrul Lutfi meyakini bahwa virus corona (Covid-19) dalam tubuh pasien yang terjangkit bisa dibunuh atau disembuhkan dengan obat DBD hasil temuannya 10 tahun yang lalu itu.

Kata dia, meskipun belum bisa dinyatakan sebagai obat khusus Covid-19, namun obat yang diberi nama Formav-D ini merupakan obat alternatif dan sudah teruji efektif ketika dikonsumsi oleh beberapa Orang Dalam Pemantauan (ODP), bahkan dirinya yang beberapa waktu lalu mengalami gejala terjangkit virus tersebut.

Keyakinan atas keampuhan obat ini berawal dari sembuhnya ia dari gejala-gejala virus tersebut. Dia bercerita, tepat 27 Februari 2020 kemarin, ia sedang berada di Bali. Sehari setelahnya gejala seperti demam tinggi dan batuk-batuk mulai menyerang tubuhnya. Bahkan, dahak yang keluar berwarna hitam pekat. Perasaan khawatir terjangkit virus itu mulai menghantui. Apalagi saat itu dirinya banyak berinteraksi dengan orang banyak.

“Saya kaget selama ini dahak warnanya putih, kuning atau hijau. Lalu kenapa ini hitam. Makanya saya berasumsi bahwa saya terjangkit virus corona, apalagi di Bali itu banyak orang asing dan saya berinteraksi dengan mereka,” kata dia saat ditemui Suara Pemred di kediamannya, Sabtu (4/4).

Tak menunggu waktu yang lama setelah mengkonsumsi obat itu, kondisi tubuhnya kemudian berangsur sembuh. Namun, gejala yang sama ternyata juga dialami asisten pribadinya yang kebetulan ikut ke Bali.

“Asisten saya mengalami gejala yang sama, artinya kita terinfeksi. Saya berikan obat itu, demamnya hilang dan batuknya hilang,” ungkapnya.

Tak berhenti di situ, beberapa hari lalu dirinya diminta untuk memberikan obat itu kepada ODP yang berinteraksi langsung dengan salah seorang pasien positif virus corona di Pontianak yang telah meninggal. Sebelum dilakukan tes untuk mengetahui terjangkit atau tidak, ODP yang berjumlah lima orang itu dimintanya untuk mengkonsumsi obat tersebut.

“Setelah dilakukan pemeriksaan dan hasilnya negatif (tidak terjangkit) walaupun mereka kontak langsung dengan pasien Covid-19 itu. Dengan dasar itulah saya berfikir bahwa virus ini dapat dibunuh dengan anti virus yang saya temukan 10 tahun yang lalu,” yakinnya.

Seperti yang diketahui, Covid-19 ini merupakan virus influenza. Berbeda dengan virus-virus flu lainnya yang bisa disembuhkan dengan mengkonsumsi obat demam biasa, istirahat cukup dan dapat sembuh dengan sendirinya, namun tidak dengan virus corona ini.

Kata Lutfi, seiring berkembangnya jaman, virus-virus ini mulai bermutasi atau berubah sifat seperti virus-virus terdahulunya yaitu Flu Hongkong, Flu Burung, MERS, SARS dan lainnya.

“Mereka seperti berevolusi dan muncullah virus corona yang berevolusi dari virus biasa yang tidak mematikan, kemudian menjadi virus yang mematikan,” terangnya.

Dia mengatakan, Covid-19 ini merupakan sebuah virus yang terdiri dari dinding sel protein. Untuk membunuhnya, maka diperlukan sebuah obat yang mampu menghancurkan dinding-dinding sel itu.

Secara kimia, diakuinya bahwa hingga saat ini belum ada satupun obat yang mampu bekerja menghancurkan dinding sel itu. Namun secara alami, yakni dengan Formav-D ini mampu menghancurkan dinding sel itu, karena pada dasarnya kandungan dalam obat ini adalah enzim.

“Seperti virus DBD, HIV atau virus apapun baik yang menyerang kulit, pencernaan, sistem kekebalan tubuh dan yang terbaru ini Covid-19 ini. Sudah saya buktikan ternyata efektif,” tegasnya.

Dia mengatakan, dalam waktu dekat ini dirinya akan berkoordinasi dengan Walikota dan instansi terkait untuk membahas penanganan Covid-19 di Pontianak. Kerjasama penanggulangan virus ini akan dilakukan. Untuk itu, dia meminta agar masyarakat tidak khawatir dan takut terhadap virus tersebut.

“Jadi sekarang saya yakinkan kepada warga Pontianak jangan khawatir, jangan takut lagi dengan virus Corona. Virus ini bisa kita bunuh dengan obat ini (Formav-D). Silahkan lakukan aktivitas biasa. Jika ada yang terinfeksi saya akan berikan obat ini,” tutupnya.

Menurutnya, selama belum ditemukan obat untuk suatu penyakit, maka tidak ada salahnya mencoba Formav-D. Diketahui obat tersebut sudah digunakan oleh masyarakat Kota Pontianak dalam menyembuhkan pasien DBD dan tipes.

“Mungkin saja Covid-19 dengan Formav-D menjadi salah satu solusinya,” katanya.

Menurut Luthfi, Formav-D ditemukan pada tahun 2006 secara tak sengaja. Setelah dikenal karena keampuhannya, pada tahun 2010 semakin banyak yang menggunakan Formav-D untuk pengobatan penyakit DBD dan typus. Kini, ia siap jika temuan obatnya diujicobakan kepada pasien suspect atau positif corona (Covid-19).

Luthfi berhasil menemukan obat Demam Berdarah Dengue (DBD) yang cukup mujarab. Obat yang diberi nama Formav-D itu diklaim berhasil mengobati puluhan penderita DBD dan malaria. Keampuhan Formav-D bahkan sudah tersebar ke sejumlah daerah dan permintaan semakin bertambah.

Sang penemu itu adalah Fachrul Luthfi. Dia pernah bekerja sebagai asisten apoteker dalam meracik obat herbal di sebuah perusahaan farmasi di Pontianak selama 13 tahun.

“Tahun 2006 secara tidak sengaja saya meracik dua jenis obat tradisional asli Indonesia dan dari luar negeri,” kata Lutfi.

Ketika itu, ada anak dari seorang sahabatnya mengidap penyakit DBD, kemudian Luthfi memberikan obat hasil racikannya kepada anak itu. Setelah mengkonsumsi herbal tersebut, selang beberapa waktu suhu tubuh anak itu kembali normal. Kemudian keesokan harinya diperiksakan ke dokter, anak itu dinyatakan sembuh total.

“Sejak saat itu saya mensosialisasikan Formav-D untuk membantu teman-teman dan kerabat yang terserang DBD,” kata Lutfi.

 

Penelusuran Fakta

Cek Fakta Liputan6.com menelusuri kabar tentang warga Pontianak, Kalimantan Barat yang menemukan obat corona COVID-19.

Penelusuran dilakukan menggunakan situs pencari Google Search dengan memasukkan kata kunci "obat corona Pontianak".

Hasilnya terdapat artikel yang membantah warga Pontianak tersebut menemukan obat virus corona COVID-19. Satu di antaranya artikel berjudul "Soal Penemuan Obat Virus Corona di Pontianak, Dinkes Kalbar: Jangan Asal Klaim" yang ditayangkan situs Liputan6.com pada 6 Maret 2020.

Liputan6.com, Pontianak - Terkait kabar penemuan obat virus corona (Covid-19) di Pontianak, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, Harisson mengatakan, jangan asal klaim tanpa ada bukti riset yang benar-benar teruji.

"Kita tidak boleh mengklaim telah menemukan obat corona hanya dengan bukti yang katanya sudah bisa mengobati beberapa orang Orang Dalam pengawasan (ODP). Karena ODP kan belum tentu positif terkonfirmasi Covid-19 dan orang yang sudah dikategorikan PDP saja belum tentu terkonfirmasi Covid-19," kata Harisson dikutip Antara.

Harisson mengatakan, seperti kita ketahui dalam dunia ilmiah ilmu kedokteran, bahwa untuk pembuktian suatu zat mempunyai efek terapi tertentu penelitiannya akan sangat panjang, mulai dari penelitian secara invitro maupun invivo.

Selanjutnya zat tersebut akan diuji coba dulu terhadap hewan, seperti tikus, kelinci, kera, dan lain-lain, yang sebelumnya telah ditulari dengan virus atau bakteri tertentu. Setelah zat atau obat yang digunakan pada hewan tidak memberikan dampak negatif dan menunjukkan penyembuhan, barukan sampai percobaan ke tahap akhir yaitu pada manusia yang menjadi relawan baik yang tidak terinfeksi maupun yang terinfeksi virus atau bakteri tertentu yang sedang di teliti.

"Dalam penelitian pun akan ada metode pembandingan atau komparasi misalnya antara efek atau pengaruh pada orang yang terinfeksi yang diberikan obat atau zat ini dan efek pada orang yang terinfeksi tapi tidak diberikan zat yang sedang diteliti," tuturnya.

Perbandingan ini akan membuktikan bahwa apakah benar obat itu dapat memberikan efek terapi atau malah orang yang tidak diberi obat yang sedang ditelitipun ternyata bisa sembuh. Karena Covid-19 adalah self limiting disease yang artinya pasien dapat sembuh dengan sendirinya asal daya tahan tubuh nya kuat.

"Penelitian ini akan sangat panjang, termasuk harus diteliti dalam dosis berapa obat tersebut tidak mempunyai efek, dalam dosis berapa obat tersebut mempunyai efek terapi dan dalam dosis berapa obat tersebut justru meracuni," katanya.

Mantan Kadis Kesehatan Kapuas Hulu itu menambahkan, dirinya sangat mendukung peneliti, ilmuwan Kalbar untuk melakukan penelitian terhadap penyakit ini, namun gunakan metode penelitian secara ilmiah, agar hasil memang benar-benar sudah teruji dan sahih.

"Jangan buru-buru melempar ke masyarakat terhadap hasil yang belum terbukti secara ilmiah, karena hanya akan menimbulkan kegalauan," kata Harisson.

Apa yang disampaikan Harisson tersebut berkaitan dengan adanya klaim dari seorang mantan asisten apoteker di Pontianak, Fahrul Lutfi yang mengklaim menemukan Formav-D pada 10 tahun lalu untuk menyembuhkan pasien Demam Berdarah Dengue (DBD).

Namun ia yakin obat tersebut juga bisa digunakan untuk mengobati Covid-19​​​​​, karena dia sudah menguji pada dirinya sendiri dan kepada lima ODP yang ada di Pontianak.Atas beberapa contoh kasus itulah, Lutfi meyakini kalau temuannya 10 tahun lalu itu juga bisa digunakan untuk mengobati Covid-19.

Lutfi menjelaskan, Covid-19 merupakan virus yang memiliki dinding sel protein. Untuk menghadapinya, diperlukan obat yang dapat menghancurkan dinding sel tersebut. Hal itu dapat dilakukan Formav-D yang pada dasarnya memiliki kandungan enzim.

 

Kesimpulan

Kabar tentang warga Pontianak, Kalimantan Barat yang menemukan obat virus corona COVID-19 ternyata tidak benar. Formav-D yang diciptakan asisten apoteker Fahrul Lutfi belum teruji secara klinis bisa menyembuhkan virus corona COVID-19.

Formav-D diciptakan pada 10 tahun lalu untuk menyembuhkan pasien Demam Berdarah Dengue (DBD).

 

Banner Cek Fakta: Salah (Liputan6.com/Triyasni)

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Liputan6.com merupakan media terverifikasi Jaringan Periksa Fakta Internasional atau International Fact Checking Network (IFCN) bersama puluhan media massa lainnya di seluruh dunia. 

Cek Fakta Liputan6.com juga adalah mitra Facebook untuk memberantas hoaks, fake news, atau disinformasi yang beredar di platform media sosial itu. 

Kami juga bekerjasama dengan 21 media nasional dan lokal dalam cekfakta.com untuk memverifikasi berbagai informasi yang tersebar di masyarakat.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan kepada tim CEK FAKTA Liputan6.com di email cekfakta.liputan6@kly.id.