Cek Fakta: Tidak Benar dalam Video Ini Gereja di Prancis Dihancurkan karena Sepi Jemaat

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Sebuah video yang diklaim gereja di Prancis dihancurkan karena sepi jemaat beredar di media sosial. Video tersebut disebarakn oleh salah satu akun Facebook pada 26 November 2021.

Akun Facebook tersebut mengunggah video berdurasi 1 menit. Pada detik-detik pertama, tampak sebuah bangunan gereja tengah dirobohkan dengan alat berat.

Kemudian pada detik ke 38 terdapat pemberitan dari sebuah stasiun televisi berisi kasus pelecehan seksual yang diduga terjadi di gereja.

Video tersebut kemudian dikaitkan dengan kabar sejumlah gereja di Prancis sengaja dihancurkan karena sepinya jemaat dan kasus pelecehan seksual.

"Banyak gereja di Prancis dihancurkan dikarenakan sepinya jamaah dan kasus pelecehan sexual oleh pendetanya...," tulis salah satu akun Facebook.

Konten yang disebarkan akun Facebook tersebut telah 71 kali ditonton dan mendapat 4 komentar warganet.

Benarkah sejumlah gereja di Prancis dihancurkan karena sepi jemaat? Berikut penelusurannya.

*** Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Penelusuran Fakta

Cek Fakta Liputan6.com menelusuri kabar tentang sejumlah gereja di Prancis dihancurkan karena sepi jemaat. Penelusuran mula-mula dilakukan dengan mengunggah gambar tangkapan layar dari video gereja diruntuhkan tersebut ke situs Google Search.

Hasilnya terdapat video serupa yang dimuat situs gloria.tv pada 22 April 2021. Dalam video tersebut terdapat penjelasan bahwa gereja yang diruntuhkan itu adalah Gereja Saint-Jacques d'Abbeville di Prancis.

Berikut gambar tangkapan layarnya:

Gereja tersebut sengaja dirobohkan karena biaya restorasi yang tinggi. Butuh biaya € 350 ribu untuk meruntuhkan gereja Saint-Jacques d'Abbeville pada 2013 lalu.

Liputan6.com juga menemukan video identik tentang pemberitaan pelecehan seksual di gereja. Video tersebut berjudul "French Catholic clergy sexually abused 330,000 children: Report" yang dimuat channel YouTube Al Jazeera English pada 5 Oktober 2021.

Berikut gambar tangkapan layarnya:

"Setelah hampir tiga tahun menyelidiki Gereja Katolik Prancis, sebuah komisi independen mengatakan sekitar 330.000 anak menjadi korban pelecehan seksual selama 70 tahun.

Laporan penting itu mengatakan sekitar 3.000 pelaku kekerasan anak, dua pertiga di antaranya adalah pendeta, beroperasi di dalam gereja sejak 1950-an.

Laporan tersebut merinci apa yang disebutnya sebagai “ketidakpedulian sepenuhnya” dari pihak gereja terhadap para korban.Para uskup Katolik di Prancis menyerukan penyelidikan independen pada 2018, untuk menjelaskan pelanggaran di masa lalu," tulis channel YouTube Al Jazeera English.

Referensi:

https://www.youtube.com/watch?v=W3q7TOWeUqM

https://gloria.tv/post/ijoy4k8kJRtM2YS9X6xkQk33c

Kesimpulan

Kabar tentang sejumlah gereja di Prancis dihancurkan karena sepi jemaat ternyata tidak benar. Bangunan gereja yang diruntuhkan dalam video tersebut merupakan Gereja Saint-Jacques d'Abbeville di Prancis. Gereja yang diruntuhkan pada 2013 lalu disebabkan biaya perawatan yang tinggi.

Banner Cek Fakta: Salah (Liputan6.com/Triyasni)
Banner Cek Fakta: Salah (Liputan6.com/Triyasni)

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Melawan hoaks sama saja melawan pembodohan. Itu yang mendasari kami membuat Kanal Cek Fakta Liputan6.com pada 2018 dan hingga kini aktif memberikan literasi media pada masyarakat luas.

Sejak 2 Juli 2018, Cek Fakta Liputan6.com bergabung dalam International Fact Checking Network (IFCN) dan menjadi patner Facebook. Kami juga bagian dari inisiatif cekfakta.com. Kerja sama dengan pihak manapun, tak akan mempengaruhi independensi kami.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Ingin lebih cepat mendapat jawaban? Hubungi Chatbot WhatsApp Liputan6 Cek Fakta di 0811-9787-670 atau klik tautan berikut ini.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel