Cek Fakta: Tidak Benar Donald Trump Kalah Pemilu Amerika Serikat karena Kotak Suara

·Bacaan 5 menit

Liputan6.com, Jakarta - Klaim tentang penyebab kekalahan Donald Trump dalam Pemilu Amerika Serikat karena kotak suara beredar di media sosial. Klaim tersebut disebarkan akun Facebook Achid Keiko pada 10 November 2020

Akun Facebook Achid Keiko mengunggah gambar wajah Donald Trump dan dua buah kotak di bagian bawahnya. Kotak sebelah kiri diberi garis hijau menandakan kotak suara yang digunakan pemilu Amerika Serikat.

Sedangkan kotak yang di sebelah kanan diberi garis merah merupakan kotak kardus dengan digembok besi. Terdapat juga narasi dalam gambar tersebut. Berikut isinya:

"KENAPA TRUMP BISA KALAH? Karena Di Amerika Kotak Suara Nya".

Akun Facebook Achid Keiko mengaitkan gambar tersebut dengan penyebab kekalah Donald Trump dalam Pemilu Amerika Serikat.

"Poin2 penyebab kekalahan dump eh Trump...

- seandainya Arif 19 dan Wahyu,, anda pasti menang..

- harusnya anda melibatkan orang gila dalam voter karena orang gila pasti memilih orang gila..

- anda harusnya melibatkan camat2 Amerika,, kepala2 desa Amerika..

- harusnya anda mendadak menjadi imam dadakan,, religius dadakan dalam kampanye..

- harusnya anda berkampanye membangun mobnas seperti esempe,, esde,, esema...

- anda harusnya memelihara abu gosok atau Deni sibesar,, bacotan nya selangit Trump...

馃槀馃槀馃槀馃槀馃槀馃槀馃槀馃槀馃槀馃槀馃槀," tulis akun Facebook Achid Keiko.

Konten yang disebarkan akun Facebook Achid Keiko telah 14 kali dibagikan dan mendapat 19 komentar warganet.

Penelusuran Fakta

Cek Fakta Liputan6.com menelusuri klaim penyebab kekalahan Donald Trump dalam Pemilu Amerika Serikat karena kotak suara.

Penelusuran dilakukan menggunakan situs pencari Google Search dengan memasukkan kata kunci "kenapa trump bisa kalah dalam pemilu amerika serikat".

Hasilnya terdapat beberapa artikel yang menjabarkan penyebab kekalahan Trump dalam Pemilu Amerika Serikat.

Satu di antaranya artikel berjudul "Joe Biden Menangi Pemilu AS, Ini Alasan Donald Trump Kalah" yang dimuat situs tempo.co pada 9 November 2020.

TEMPO.CO, Jakarta - Joe Biden mengalahkan inkumben Donald Trump di Pemilu AS pada pekan lalu. Ia berhasil mengumpulkan lebih dari 270 suara elektoral. Adapun kemenangan tersebut disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satu faktornya adalah kemampuan Joe Biden menampilkan dirinya sebagai anti-tesis dari Donald Trump dalam menyikapi dan mengkomunikasikan sebuah isu.

Sepanjang 2020, Donald Trump memang banyak melakukan hal-hal yang membuat dahi berkerut. Terutama, dalam menyikapi tiga isu besar yang terjadi di Amerika. Ketiga isu tersebut adalah soal pandemi COVID-19, runtuhnya perekonomian Amerika, serta pembunuhan George Floyd. Sebagai contoh, dalam penanganan Pandemi COVID-19, Donald Trump malah mengacuhkan masukan pakar.

Donald Trump mengira dengan mencoba menjadi "dirinya sendiri" yang blak-blakan, tampil beda, dan menghina, dia akan mengamankan dukungan di Pemilu AS 2020. Nyatanya, hal yang ia lakukan malah menunjukkan bahwa sesungguhnya ia tidak siap untuk menangani isu-isu penting. Padahal, dari hasil wawancara Tempo dengan sejumlah warga Amerika, mereka mencari Presiden AS yang bisa menyelesaikan masalah-masalah yang ada. Alhasil, mereka pun malas memilih Donald Trump.

"Jika saja dia lebih tenang, koheren, dan menyakinkan dalam merespon pandemi COVID-19, dia pasti bisa menutupi selisih suara yang ia butuhkan," ujar pakar strategi kampanye Republikan, Ryan Williams, dikutip dari Reuters, Ahad, 8 November 2020.

Salah satu masukan pakar yang Donald Trump acuhkan adalah soal memakai masker. Ketika Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) mengeluarkan himbaun memakai masker, Donald Trump malah meremehkannya. Ia menyebut hal tersebut hanya "himbauan" jadi tidak bersifat wajib.

Hal lain yang diacuhkan Donald Trump adalah masukan untuk lockdown. Khawatir roda ekonomi akan tertahan dan pada akhirnya mengganggu elektabilitasnya, Donald Trump memilih untuk mengabaikannya. Alhasil, sampai sekarang, pandemi COVID-19 masih terjadi di Amerika dengan jumlah kasus lebih dari 10 juta. Perekonomian AS pun belum kunjung membaik.

Hal itu diperparah komunikasi yang buruk. Ketika Donald Trump mengetahui para pakarnya mendapat rating bagus saat memberikan update harian COVID-19, ia memutuskan untuk mengambil alihnya. Walhasil, dalam penyampaiannya, informasi penting itu kerap dipaparkan dengan gaya Donald Trump yang sarat improviasi (baca: suka-suka dia). Dalam satu momen, Donald Trump bahkan menyarankan disinfektan diinjeksikan ke tubuh pasien untuk menyembuhkan COVID-19.

Puncaknya, Donald Trump sendiri tertular COVID-19. Tak lama setelah ia dinyatakan positif, staf-stafnya pun menyusul. Perkembangan terbaru, Kepala Staf Kepresidenan Mark Meadows pun juga tertular pada Pemilu AS kemarin. Untungnya, Donald Trump sembuh dalam tiga hari.

Ketika sembuh, Donald Trump bukannya menggunakan pengalamannya untuk memperingatkan bahaya COVID-19. Sebaliknya, Donald Trump mencoba menampilkan dirinya sebagai pria yang kebal. Ia kembali berkampanye tanpa masker dan menyerang segala kekhawatiran soal COVID-19. Kampanye-kampanye bahkan melibatkan ribuan pendukung tanpa protokol kesehatan mumpuni.

"Covid, covid, covid melulu. Pada tanggal 4 November, kalian tidak akan lagi mendengarnya," klaim Donald Trump saat itu.

Gaya serupa dipakai Donald Trump ketika kasus pembunuhan George Floyd meledak. Bukannya mendukung para demonstran yang mengeluhkan isu rasisme, Donald Trump mengambil posisi kontra. Ia bahkan tidak menunjukkan sikap solidaritas saat demonstrasi kematiaan George Floyd terjadi di Washington DC.

Menggunakan kuasanya, Donald Trump menerjunkan aparat dan garda nasional untuk memukul mundur demonstran. Setelah itu, ia berjalan menuju gereja di dekat Gedung Putih dan berfoto dengan alkitab di sana.

Kala itu, Donald Trump mencoba menyuarakan pesan law and order, bukan anti-rasisme. Namun, alih-alih mendapat dukungan, pesan yang disampaikan Donald Trump itu malah makin memanaskan kritik warga Amerika, terutama komunitas kulit hitam. Dampaknya, ketika Pemilu AS berlangsung, 87 persen pemilih kulit hitam lebih memilih Joe Biden.

Ahli strategi kampanye Republikan, Ron Bonjean, menyebut Donald Trump menyia-nyiakan banyak kesempatan menggaet pendukung baru. Walaupun penting untuk menjaga basis pendukung utama, Bonjean berkata Donald Trump tidak boleh lupa memperluas cakupan simpatisannya.

"Jika saja di sadar bahwa ada cara untuk memperluas jangkauannya (dan mengubah pendekatannya), hal itu akan memberinya keunggulan pada Pemilu AS kemarin," ujar Bonjean.

Hingga Pemilu AS berakhir, gaya komunikasi Donald Trump belum berubah. Ia masih menyakini dirinya yang menang dan menebar klaim/ tuduhan soal suara pemilihnya dicuri. Twitter sampai enam kali menegurnya karena membuat klaim-klaim menyesatkan. Pada akhirnya Trump tetaplah Trump.

Kesimpulan

Klaim penyebab kekalahan Donald Trump dalam Pemilu Amerika Serikat karena kotak suara ternyata tidak benar. Ahli strategi kampanye Republikan, Ron Bonjean mengungkapkan beberapa penyebab kekalahan Trump dalam Pemilu Amerika Serikat.

Satu di antaranya menyia-nyiakan banyak kesempatan menggaet pendukung baru. Konten yang disebarkan akun Facebook Achid Keiko masuk kategori palsu.

Banner Cek Fakta: Salah (Liputan6.com/Triyasni)
Banner Cek Fakta: Salah (Liputan6.com/Triyasni)

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Liputan6.com merupakan media terverifikasi Jaringan Periksa Fakta Internasional atau International Fact Checking Network (IFCN) bersama puluhan media massa lainnya di seluruh dunia.

Cek Fakta Liputan6.com juga adalah mitra Facebook untuk memberantas hoaks, fake news, atau disinformasi yang beredar di platform media sosial itu.

Kami juga bekerjasama dengan 21 media nasional dan lokal dalam cekfakta.com untuk memverifikasi berbagai informasi yang tersebar di masyarakat.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan kepada tim CEK FAKTA Liputan6.com di email cekfakta.liputan6@kly.id.