Cek Fakta: Tidak Benar Swab Test Menghancurkan Amigdala untuk Membuat Patuh

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta- Cek Fakta Liputan6.com mendapati klaim swab test menghancurkan amigdala untuk membuat patuh. klaim tersebut diunggah salah satu pengguna Facebook, pada 29 Oktober 2021.

Unggahan tersebut berupa rangkaian gambar, pertama berupa karikatur menyerupai seorang sedang memasukan benda panjang ke hidung seorang lainnya, berikutnya gambar jaringan tubuh manusia bagian hidung yang sedang dimasukan benda panjang, dan ketiga gambar seorang yang sedang melakukan swab test.

Pada rangkaian foto tersebut terdapat tulisan sebagai berikut:

"In acient Egyot, they bruised teh amygdala ini order to make slaves more submissive and compliant". Jika diartikan dalam Bahasa Indonesia adalah "Di Mesir kuno, mereka meremukkan amigdala untuk membuat budak lebih patuh dan patuh.Di Mesir kuno, mereka meremukkan amigdala untuk membuat budak lebih patuh dan patuh."

Kemudian unggakan rangkaian foto tersebut diberi keterangan seperti berikut:

"Dicolok biar nurut.

Means that? Bahan bahan utk menghancurkan kelenjar Pineal itu Uda ada dr jmn Mesir kuno yg prakteek kek gini. Diturunkan turun temurun sampai skrg dipraktekkan lagi.

So, bhn bhn setipe dg lithium & Darpa Hidrogel itu Uda ada dulu.Kl tidak, mrk tidak akan nulis submissive(nurut).

Motto : hancurkan (kelenjar Pineal), gantikan dg Darpa Hidrogel.

Makin dicolok makin besar peluang antena Pineal rusak.

Dikebut nih yaa, Uda ga sabaran mau praktek jombi jombian.. via pipji😩😩👎"

Benarkah klaim swab test menghancurkan amigdala untuk membuat patuh? Simak penelusuran Cek Fakta Liputan6.com.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Penelusuran Fakta

Cek Fakta Liputan6.com menelusuri klaim swab test menghancurkan amigdala untuk membuat patuh, menggunakan Google Search dengan kata kunci 'Swab Test Amigdala'. Penelusuran mengarah pada artikel berjudul "Fact Check-COVID-19 test swabs cannot touch the brain or bruise the amygdala to make people submissive" yang dimuat situs reuters.com, pada 9 November 2021.

Artikel situs reuters.com menyebutkan, rangkaian foto tersebut menyesatkan di beberapa tingkatan. Pertama, karya seni itu tidak menunjukkan amigdala, bagian otak yang menangani rasa takut, panik, dan emosi kuat lainnya, yang sedang rusak.

Itu berasal dari lukisan dinding di makam Theban di Ipi, yang menggambarkan seorang dokter mata melakukan prosedur mata pada seorang pengrajin.

Versi gambar yang lebih jelas menunjukkan bahwa tongkat itu bersentuhan dengan mata pria itu.

Lebih jauh lagi, secara anatomis tidak mungkin tes Covid-19 digunakan sedemikian rupa, karena usap nasofaring yang digunakan tidak dapat mencapai otak.

Profesor neuroteknologi di Imperial College London Simon Schultz, mengatakan, tes Covid-19 tidak dapat merusak amigdala. Paslanya, Amigdala jauh dari beberapa sentimeter ke dalam lubang hidung yang dimasukkan tes swab.

Juru bicara Public Health England menjelaskan bahwa tidak ada area di saluran pernapasan atau rongga hidung di mana otak dapat diakses.

Lempeng cribriform membentuk atap rongga hidung, dan usapan nasofaring tidak menyentuh pelat cribriform.

Schultz juga menambahkan, seseorang tidak akan tunduk setelah menerima tes Covid-19.

“Dari apa yang kita ketahui tentang amigdala manusia, pasti ada banyak kerusakan untuk menimbulkan pengaruh yang nyata,” jelasnya.

Menurut Schultz, gagasan "ketundukan" kemungkinan berasal dari Sindrom Klüver-Bucy, tetapi ini membutuhkan lebih banyak kerusakan pada amigdala, seperti lesi bilateral lobus temporal medial yang mencakup amigdala.

Hal ini, katanya, dapat menyebabkan kepatuhan, tetapi juga banyak hal lain, seperti paksaan untuk memasukkan sesuatu ke dalam mulut, dan ketidakmampuan untuk mengenali benda atau orang yang dikenalnya.

“Tak perlu dikatakan, orang yang menjalani tes COVID tidak menunjukkan gejala seperti itu”.

Sumber:

https://www.reuters.com/article/factcheck-coronavirus-egypt/fact-check-covid-19-test-swabs-cannot-touch-the-brain-or-bruise-the-amygdala-to-make-people-submissive-idUSL1N2RZ2B6?fbclid=IwAR2vZJ5reE6w9qhg5-Ix3D8Vqcl2_btzEoHtQYWF03jI_v_ORIn1Gq37K5Y

Kesimpulan

Hasil penelusuran Cek Fakta Liputan6.com, klaim swab test menghancurkan amigdala untuk membuat patuh tidak benar.

Tidak ada area di saluran pernapasan atau rongga hidung yang dapat mengakses otak. Gambar karikatur yang diklaim proses penghancuran amigdala pada budak agar nurut juga tidak benar, faktanya adalah menggambarkan seorang dokter mata melakukan prosedur mata pada seorang pengrajin.

Banner Cek Fakta: Salah (Liputan6.com/Triyasni)
Banner Cek Fakta: Salah (Liputan6.com/Triyasni)

Tentang Cek Fakta Liputan6.com

Melawan hoaks sama saja melawan pembodohan. Itu yang mendasari kami membuat Kanal Cek Fakta Liputan6.com pada 2018 dan hingga kini aktif memberikan literasi media pada masyarakat luas.

Sejak 2 Juli 2018, Cek Fakta Liputan6.com bergabung dalam International Fact Checking Network (IFCN) dan menjadi patner Facebook. Kami juga bagian dari inisiatif cekfakta.com. Kerja sama dengan pihak manapun, tak akan mempengaruhi independensi kami.

Jika Anda memiliki informasi seputar hoaks yang ingin kami telusuri dan verifikasi, silahkan menyampaikan di email cekfakta.liputan6@kly.id.

Ingin lebih cepat mendapat jawaban? Hubungi Chatbot WhatsApp Liputan6 Cek Fakta di 0811-9787-670 atau klik tautan berikut ini.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel