Cenderung Oversupply, PLN Beberkan Pasokan Listrik di Jamali

Dusep Malik, Mohammad Yudha Prasetya
·Bacaan 1 menit

VIVA – PT PLN mengatakan bahwa pihaknya melihat kecenderungan akan adanya kelebihan pasokan listrik atau oversupply, pada kapasitas pembakit listrik regional Jawa, Madura, dan Bali (Jamali).

Hal itu diutarakan oleh Direktur Bisnis Regional Jawa, Madura, dan Bali, Haryanto WS, dalam telekonferensi di acara Webinar Efisiensi Penyediaan Tenaga Listrik PT PLN (Persero).

Haryanto menjelaskan, kelebihan pasokan listrik itu dapat dilihat dari total kapasitas pembakit listrik regional Jawa, Madura, dan Bali, yang sampai Desember 2020 tercatat mencapai 40,1 GW.

"Kontribusi konsumsi 70 persen dari sales total nasional," kata Haryanto dalam telekonferensi, Selasa 23 Februari 2021.

Dia menambahkan, tahun ini masih akan ada lagi tambahan kapasitas 2.500-3.000 MW, dan tahun depan masih akan bertambah 4.000-5.000 MW. Kemampuan supply pembangkit ini diakui Haryanto sangat cukup, dan bisa menjadi modal untuk melayani kebutuhan pasokan listrik di wilayah Jamali tersebut.

Apalagi, dengan adanya kecenderungan kelebihan pasokan listrik itu, Haryanto memastikan jika PLN juga harus meningkatkan permintaan akan kebutuhan pasokan listrik di wilayah Jamali tersebut.

"Ini akan cenderung oversupply. Nah ini PR kita untuk meningkatkan demand," ujarnya.

Dia menegaskan, sebenarnya upaya meningkatkan permintaan akan kebutuhan pasokan listrik di wilayah Jamali tersebut memang harus menjadi prioritas PLN, karena saat ini sekitar 61 persen pelanggan PLN terdiri dari para pelanggan tegangan rendah (TR).

Sementara, lanjut Haryanto, total jumlah pelanggan tegangan tinggi (TT) hanya sekitar 7 persen saja, dan pelanggan tegangan menengah (TM) sebanyak 32 persen. Komposisi inilah yang diakui Haryanto menjadi aspek pembeda antara kebutuhan pasokan listrik bagi regional Jamali dengan wilayah regional lainnya.

"Para pelanggan kita 61 persen ini adalah pelanggan TR (tegangan rendah). Sementara yang tegangan menengah (TM) itu ada 32 persen, dan pelanggan listrik tegangan tinggi (TT) hanya sekitar 7 persen," ujarnya.