CEO BioNTech: Vaksin kemungkinan diluncurkan pada Desember

·Bacaan 4 menit

Frankfurt am Main (AFP) - Salah satu pendiri BioNTech, Ugur Sahin, mengatakan Kamis bahwa vaksin Covid-19 terdepan yang sedang dikembangkan perusahaan Jerman-nya bersama Pfizer dapat diluncurkan sebelum tahun ini berakhir di Amerika Serikat atau Eropa.

"Kami bekerja dengan kecepatan penuh," kata dia kepada AFP dalam wawancara via Zoom, mengonfirmasikan bahwa kedua perusahaan berencana mengajukan otorisasi penggunaan darurat vaksin mereka di AS pada Jumat, sementara badan regulasi Eropa akan menerima kumpulan data lagi "pekan depan" .

"Ada kemungkinan kami masih bisa menerima persetujuan dari AS atau Eropa atau kedua wilayah tahun ini," kata Sahin (55) yang juga kepala eksekutif BioNTech.

"Kami bahkan mungkin mulai mengirimkan vaksin pada Desember," tambah dia, "jika semua orang bekerja sama dengan erat".

Calon vaksin BioNTech/Pfizer dan satu lagi yang sedang dikembangkan oleh perusahaan AS Moderna telah memimpin dalam pengejaran global untuk vaksin Covid-19, setelah data uji coba skala besar bulan ini menunjukkan suntikan mereka sekitar 95 persen efektif melawan Covid-19.

Terobosan kembar telah mengangkat harapan untuk diakhirinya pandemi yang telah menginfeksi lebih dari 56 juta orang dan menyebabkan lebih dari 1,3 juta korban meninggal dunia di seluruh dunia sejak virus pertama kali muncul di China akhir tahun lalu.

AS, Uni Eropa dan banyak negara lain telah memesan ratusan juta dosis calon vaksin teratas yang sedang dibuat.

Petugas kesehatan, pengasuh, dan orang-orang yang dianggap berisiko tinggi terkena Covid-19 yang parah ditetapkan menjadi yang pertama dalam antrean suntikan vaksin.

Berbicara dari kota Mainz di Jerman barat, Sahin mengatakan jika semua pemain yang terlibat - pemerintah, perusahaan farmasi dan perusahaan logistik vaksin - "melakukan pekerjaan yang sangat baik", maka "kita dapat berhasil memvaksinasi 60 hingga 70 persen penduduk sampai musim gugur 2021."

"Dan ketika kita telah mencapai itu maka kita bisa memiliki musim dingin yang normal. Tanpa penutupan lagi."

Di luar AS dan UE, lebih dari 30 negara berada pada tahap negosiasi yang berbeda untuk mengamankan vaksin BioNTech/Pfizer, kata Sahin.

Mengingat kekhawatiran terus meningkat bahwa negara-negara miskin dapat tertinggal dalam perlombaan itu, Sahin mengatakan BioNTech sedang berbicara dengan organisasi seperti Organisasi Kesehatan Dunia dan Bill and Melinda Gates Foundation untuk menyalurkan vaksin "ke seluruh dunia" dan menemukan cara dalam menekan harganya.

Harga vaksin BioNTech/Pfizer diperkirakan sekitar 20 dolar AS per dosis dengan suntikan penguat harus diambil 28 hari setelah yang pertama.

Sahin dan istrinya Ozlem Tureci, keduanya anak imigran Turki ke Jerman, mendirikan BioNTech di Mainz pada 2008.

Mereka tadinya sedang melawan kanker dengan menggunakan teknologi eksperimental yang dikenal sebagai "mRNA", sebelum pandemi mengalihkan fokus mereka.

Tidak ada vaksin mRNA yang pernah disetujui tetapi upaya BioNTech/Pfizer dan Moderna didasarkan padanya.

Teknologi ini menggunakan versi sintetis dari molekul yang disebut "messenger RNA" untuk meretas ke dalam sel manusia dan secara efektif mengubahnya menjadi pabrik pembuat vaksin.

Pesaing lain dalam pengujian tahap akhir seperti AstraZeneca/Oxford University dan Johnson & Johnson menggunakan pendekatan tradisional untuk menyuntikkan virus yang dimodifikasi guna memicu respons kebal.

Sahin mengatakan dia "sangat yakin" vaksinnya aman, sehari setelah Pfizer dan BioNTech mengumumkan bahwa studi lengkap percobaan mereka - yang melibatkan sekitar 43.000 relawan, lebih dari 21.000 di antaranya menerima suntikan - tidak menunjukkan efek samping yang serius.

Kanselir Jerman Angela Merkel, mantan ilmuwan yang dipuji karena penanganannya terhadap krisis virus corona sejauh ini, pada Kamis mengatakan "kami tidak ingin mengambil risiko apa pun" dari vaksin, dan bahwa kabar terbaru itu menggembirakan.

Sahin memprediksi lebih banyak lagi vaksin dan obat berbasis mRNA yang akan datang sehingga berpotensi mengubah pengobatan kanker.

Sahin mengatakan dia dan istrinya berencana "tentu saja" mendapatkan suntikan sesegera mungkin.

Menjawab para skeptis vaksin, dia mengatakan satu-satunya pilihan adalah tetap memberikan "jawaban, informasi dan transparansi".

Dia memperkirakan bahwa banyak orang akan ingin diinokulasi begitu vaksin tersedia, angka yang hanya akan bertambah ketika orang-orang itu berbagi pengalaman positif mereka.

Satu pertanyaan besar yang masih belum terjawab adalah berapa lama perlindungan vaksin berlangsung.

Sahin memperkirakan bisa jadi "setidaknya satu tahun, jika tidak lebih lama" tetapi dia menekankan bahwa lebih banyak data diperlukan untuk mencapai kesimpulan akhir.

Tantangan utama dari vaksin BioNTech/Pfizer terletak pada penyalurannya karena perlu disimpan pada suhu minus 70 derajat Celcius.

Sahin mengatakan Pfizer dan BioNTech akan menggunakan kotak pendingin khusus untuk menyimpan dan mengangkut vaksin dalam beberapa bulan pertama.

Tetapi mereka sudah mengembangkan "generasi kedua" dari vaksin yang tahan suhu lebih hangat, kata dia.