Cerai dengan Adaro, Anak Usaha United Tractors Belum Berniat Cari Pelanggan Baru

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - PT Pamapersada Nusantara (PAMA), anak usaha PT United Tractors Tbk (UNTR) akan mengakhiri kontrak dengan anak usaha PT Adaro Energy Tbk (ADRO), yakni PT Adaro Indonesia pada 31 Juli 2021.

Presiden Direktur PT United Tractors Tbk, Frans Kesuma mengaku saat ini perseroan belum memiliki calon pelanggan baru sebagai pengganti Adaro.

"Sampai saat ini kalau dari PAMA untuk customer yang baru yaitu memang belum ada," ujar Frans dalam press conference, Jumat (9/4/2021).

Di sisi lain, Frans mengatakan, pelanggan dari PAMA merupakan merupakan pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B). Sementara sejumlah perusahaan pemegang PKP2B akan segera habis masa lisensinya.

"Kita tahu juga PKP2B hampir semuanya akan habis masa lisensinya, dan itu akan diperpanjang tahun ini dan tahun depan,” kata dia.

Alih-alih mencari pelanggan baru, Frans mengatakan PAMA tengah mempertimbangkan untuk menggenjot volume produksi dari pelanggan eksisting. Selain mempertimbangkan keterbatasan pelanggan besar, Frans menilai kondisi penambangan batu bara kini telah menunjukkan perbaikan.

"Untuk PAMA, mengingat bahwa memang cukup terbatas customer yang besar, maka yang sedang dipertimbangkan atau yang diharapkan adalah penerapan volume dari customer eksisting. Tentu sangat memungkinkan kalau kita melihat bahwa kondisi sekarang batubara cukup cukup menjanjikan atau recovery dibandingkan dengan tahun 2020 ya," ujar dia.

Perseroan berencana meningkatkan volume produksi dari pelanggan eksisting, Hal ini sebafai antisipasi belum ada pelanggan baru untuk PAMA.

"Untuk customer yang baru untuk PAMA itu belum ada rencana. Rencananya adalah bagaimana bisa meningkatkan volume produksi dari customer yang sekarang juga sudah menjadi customer PAMA,” tutur dia.

Rampungkan Proyek PLTU Jawa 4

Entitas Grup Astra, PT United Tractors Tbk (UNTR), tengah merampungkan proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Jawa 4.

Direktur Finance and Accounting UNTR, Iwan Hadiantoro membeberkan, perkembangan dari proyek tersebut per Desember 2020 sudah mencapai sekitar 98 persen. Namun, operasional PLTU akan tertunda karena ada pandemi COVID-19.

"Kami perkirakan mungkin akan ada kemunduran sekitar 6 bulan dari inisial target kita. dan saat ini diperkirakan Tanjung Jati baru akan mulai beroperasi itu di awal Tahun 2022 nanti,” ujar dia dalam press conference usai RUPST,” Jumat (9/4/2021).

PLTU Jawa 4 (Tanjung Jati B Unit 5 dan 6) berlokasi di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah yang akan berdaya 2x1.000 megawatt (MW) dengan total investasi mencapai USD 4,2 miliar. Pada saat beroperasi nanti, kata Iwan, kebutuhan tahunan batu bara PLTU Tanjung Jati ini sekitar 7,5 juta ton.

Sejauh ini, PT Bhumi Jati Power sebagai pemilik Tanjung Jati sudah menetapkan ada beberapa supplier untuk penyediaan batu baranya. Salah satunya berasal dari anak perusahaan UNTR, PT Tuah Turangga Agung.

"Kita estimate, TTA akan berkontribusi sekitar 2-2,5 juta ton untuk kebutuhan batu bara di Tanjung Jati setiap tahunnya,” pungkas dia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini