Cerianya Pasien COVID-19 di Solo Dikarantina di Bangunan Sekolah

·Bacaan 3 menit

VIVA – Pemerintah Kota Solo menyediakan delapan tempat karantina terpusat untuk menampung para pasien COVID-19 yang terkategori ringan alias orang tanpa gejala (OTG). Sebagian besar tempat karantina itu memanfaatkan bangunan sekolah di Kota Solo.

Sejumlah pasien yang menghuni salah satu tempat karantina di Kota Solo, yakni SDN Cemara 2, tampak mengikuti kegiatan senam pagi di halaman sekolah. Mereka bersemangat dan bersorak-sorai mengikuti gerakan senam yang dipimpin oleh seorang instruktur.

Para penghuni tempat karantina terpusat itu juga berjemur di bawah sinar matahari di pagi hari. Mereka duduk berjajar memanjang untuk menikmati hangatnya cahaya matahari pagi. Bahkan, petugas yang mengurusi tempat karantina itu juga berkali-kali meminta mereka untuk berjemur.

Usai berjemur, mereka diminta untuk masuk ke kamar masing-masing di ruang kelas bangunan sekolah. Selanjutnya dua petugas yang mengenakan baju hazmat langsung masuk untuk membagikan botol berisi minuman bervitamin kepada para pasien.

Setelah itu pelepasan belasan pasien OTG yang telah dinyatakan sembuh usai menjalani karantina selama beberapa hari. Wajah-wajah semringah terlihat dari para pasien yang telah dibolehkan pulang. Mereka tak kuasa menahan air mata ketika harus berpisah dengan para pasien lain yang masih harus menjalani karantina.

Seorang pasien yang telah dibolehkan pulang, Subiasih, mengaku sangat senang karena hari yang ditunggu-tunggu telah tiba untuk bisa pulang dan berkumpul dengan keluarganya. Ia dikarantina di tempat ini selama delapan hari setelah isolasi mandiri di rumah selama enam hari.

“Alhamdulillah, ya, Allah hari ini saya bisa kembali pulang dan bertemu keluarga,” katanya dengan mata berkaca-kaca saat ditemui usai keluar dari tempat karantina terpusat di SDN Cemara 2 Solo, Kamis, 15 Juli 2021.

Selama dikarantina, ia mengaku tidak merasa sedih seperti apa yang dia bayangkan sebelumnya. Di tempat karantina itu dia justru merasa bahagia dan senang karena bisa bertemu dengan pasien lainnya dari berbagai macam latar belakang dan profesi. Apalagi selama karantina antara satu pasien dengan pasien lainnya saling menolong.

“Semuanya di dalam saling membantu. Seumpama ada yang sakit, ada yang kurang obat, kita bantu. Kita juga menyiapkan makan untuk si mbah-mbah yang telah sepuh yang ikut karantina. Pokoknya penuh dengan kekelaurgaan,” katanya.

Sedangkan mengenai urusan makan, ia mengaku selama menjalani karantina makanannya selalu enak dan bergizi, dan bahkan hampir selalu berlebih. Para petugas juga sangat ramah dan sangat peduli dengan para pasien di tempat karantina itu.

Wakil Wali Kota Solo Teguh Prakosa mengatakan bahwa hari ini terdapat 11 pasien kategori OTG yang telah diizinkan meninggalkan tempat karantina terpusat di SDN Cemara 2 Solo. Mereka telah genap menjalani masa karantina selama 14 hari dan sudah dinyatakan negatif COVID-19.

Pemerintah Solo menyiapkan delapan gedung sekolah untuk difungsikan sebagai tempat karantina, salah satunya SDN Cemara 2 Solo. Sedangkan sekolah lainnya yang disulap menjadi tempat karantina meliputi bangunan sekolah SMPN 8, SMPN 25, SMPN 11, SMPN 6, SMPN 15, SDN 1 dan 2 Cengklik, dan SDN Panularan.

Namun, dari delapan sekolah yang telah disiapkan itu, menurut Teguh, yang sudah terisi baru tiga sekolah. Setiap sekolah yang difungsikan sebagai tempat karantina terpusat berkapasitas seratus orang.

“Jumlah pasien OTG yang menjalani karantina terpusat itu ada sekitar 815 orang, termasuk di Asrama Haji Donohudan dan Solo Techno Park,” katanya.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel