Cerita 3 Pengusaha Perempuan Berhasil Meraih Hibah Modal Usaha

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Dengan wajah berseri-seri, tiga pengusaha perempuan, Arlin Chondro, Lidya Angelina Rinaldi, dan Anisa Azizah bercerita perjalanan mereka mengikuti Diplomat Success Challenge (DSC) XI. Mereka adalah, sebagaimana diungkap Surjanto Yasaputera selaku dewan komisioner DSC, tiga dari 15.589 pengaju proposal bisnis dalam gelaran DSC 2020.

"Ini adalah jumlah (proposal bisnis) terbanyak sepanjang 11 tahun penyelenggaraan DSC," katanya dalam jumpa pers virtual, Selasa (26/1/2021). Angka itu, sambung program initiator DSC, Edric Chandra, di luar ekspektasi, mengingat pandemi COVID-19 "pecah" pada Maret tahun lalu.

Perombakan konsep, di mana penerapan protokol kesehatan jadi acuan utama di dalamnya, pun diterapkan sampai babak akhir DSC. Dari belasan ribu, babak kualifikasi pertama disisihkan jadi 1,5 ribu challenger. "Di situ tantangan mereka membuat vlog, menjelaskan ide bisnisnya dalam bentuk video blog," kata Edric.

Kemudian, tahap audisi di Jakarta, Yogyakarta, dan Surabaya yang menyisakan 150 challenger. Sampai akhirnya dipilih lagi 20 besar untuk tahap inkubasi. Di sini, mereka kemudian diberi tantangan, seperti market challenge, untuk akhirnya dipilih dalam berbagai kategori.

Hingga akhirnya Arlin, Lidya, dan Anisa kampiun sebagai tiga challenger teratas DSC 2020. Arlin sendiri merupakan pemilik usaha Peek Me Naturals, merek lokal essential oil dan aromaterapi yang dibuat dari bahan-bahan alami.

Kemudian, ada Lidya yang berbisnis bahan-bahan masakan berbahan dasar vanilla asli Indonesia di bawah merek La Dame in Vanilla. Disusul Anisa yang bergerak bersama Tech Prom Lab, di mana mereka memproduksi batu bata berpori dari limbah batu bara.

Catatan Selama Mengikuti DSC

Final dan pemberian penghargaan Diplomat Success Challenge (DSC) XI. (dok. tim DSC)
Final dan pemberian penghargaan Diplomat Success Challenge (DSC) XI. (dok. tim DSC)

Sebagai startup, Anisa mengatakan bahwa Tech Prom Lab memang tengah mengembangkan bisnis, dan motiviasi itulah yang membuatnya mengajukan proposal bisnis dalam penyelenggaraan DSC 2020. "Kami perlu bantuan dari segi mentoring maupun pengembangan usaha," tuturnya.

Sementara Arlin menganggap, sebagai pengusaha, bagian dalam praktiknya adalah soal belajar. Niatnya pun terlaksana selama mengikuti program dan ekosistem wirausaha dari Wismilak Foundation tersebut, baik dari mentor, panitia, maupun sesama challenger.

Narasi senada juga disuarakan Lidya. Dari hasil diskusi dengan pelaku bisnis lokal lain, program DSC dinilai tepat untuk mempertajam bisnis yang dijalankan. "Bisa jadi catatan untuk nantinya upgrade bisnis," katanya.

Lidya dan Anisa sepakat bahwa tahap market challenge jadi yang paling berkesan untuk mereka. "Paling membekas juga karena ada diskualifikasi saat itu, padahal sudah sangat akrab dengan teman-teman satu tim," kata Anisa.

Tahap itu dinilai Lidya mampu membuka perspektif dari kacamata berbeda. Kepribadian dan kerja sama tim diasah di sana dan ia bisa membaca karakter untuk nantinya diimplementasikan pada bisnisnya.

"Yang berkesan untuk saya malah usai market challenge, di mana setelah dapat semua masukan, kita harus kembali ke bisnis sendiri, menerapkan ke diri sendiri," sambung Arlin.

Surjanto mengatakan, ketiganya dipilih melalui berbagai penilaian. Termasuk di antaranya adalah metode menjawab tantangan dalam waktu tertentu. "Kami lihat bagaimana mereka berinteraksi dengan kelompok, bagaimana memimpin, presentasi, meyakinkan dewan komisioner, di mana semua itu akan bisa membantu dalam bisnis real mereka," tuturnya.

Selanjutnya, attitude dari masing-masing challenger juga jadi poin penilaian lain yang tak luput.

Pemanfaatan Hibah Modal Usaha

Final dan pemberian penghargaan Diplomat Success Challenge (DSC) XI. (dok. tim DSC)
Final dan pemberian penghargaan Diplomat Success Challenge (DSC) XI. (dok. tim DSC)

Lidya mengatakan, hibah modal usaha yang diterimanya akan dimanfaatkan untuk mengimplementasikan saran dari mentor selama mengikuti DSC. "Karena kami relate dengan petani (vanilla), banyak sekali masukan mentor untuk mempertajam edukasi petani agar kontrol kualitas lebih baik," katanya.

Kemudian, akan dipakai untuk pemasaran demi meningkatkan kesadaran publik sehingga berujung efek loyal terhadap brand. Kemudian, berencana menambah varian produk melalui kolaborasi dengan merek lokal guna memperluas jangkauan pasar.

Sementara, Arlin bakal mengalokasikan dana itu untuk pembelian bahan baku produksi. "Buat regulasi BPOM. Lalu, kami menerima masukan bahwa product market sudah bagus, tapi untuk marketing dan sales harus ditingkatkan supaya lebih luas. Makanya enam bulan ke depan akan fokus di marketing," katanya.

Kemudian, Anisa akan memanfaatkan dana itu untuk meningkatkan kualitas produk. Ke depan, katanya, sesuai masukan mentor, pihaknya juga ingin memperluas pemasaran. Dalam hal ini menyasar segmen tertentu sebagai market opener yang akan merujuk produknya pada audiens lebih luas.

Infografis Bisnis Game di Indonesia

Infografis Bisnis Game di Indonesia (Liputan6.com/Deisy Rika)
Infografis Bisnis Game di Indonesia (Liputan6.com/Deisy Rika)

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: