Cerita Akhir Pekan: Apa Kabar Wisata Komodo di Masa Pandemi?

·Bacaan 6 menit

Liputan6.com, Jakarta - Pariwisata jadi satu di antara segudang industri yang harus merasakan imbas dari masa pandemi corona Covid-19 yang melanda dunia. Tak terkecuali dengan wisata komodo di Nusa Tenggara Timur (NTT), yang belakangan tengah mencuri atensi publik karena beredarnya potret komodo mengadang truk di proyek pembangunan di Pulau Rinca.

Sebagaimana yang diketahui, Balai Taman Nasional Komodo memutuskan menutup sementara Resort Loh Buaya di Pulau Rinca dari kunjungan wisatawan mulai 26 Oktober hingga 30 Juni 2021. Penutupan itu disebutkan sebagai langkah penataan sarana prasarana atau sarpras wisata alam.

Di sisi lain, jauh sebelum beredarnya potret viral hingga proyek pembangunan di Pulau Rinca, para pelaku di Labuan Bajo berjuang dan berusaha bertahan. Lantas, seperti apa kondisi wisata komodo selama masa pandemi? Tour organizer lokal Aloysius Suhartim Karya, menyebut, jumlah wisatawan di sana selalu naik drastis, tetapi tidak ketika masa pandemi.

Louis, begitu ia akrab disapa, menyampaikan, sebelum pandemi masuk ke Tanah Air, pada Desember hingga Januari, para wisatawan masih berani untuk berkunjung ke wisata komodo. Hal lain yang menjadi pendukung adalah karena mereka telah membayar down payment (DP) dengan tour operator lokal yang ada di Labuan Bajo.

"Begitu awal pandemi mulai menurun. Awal Maret jumlah wisatawan sangat turun waktu itu Indonesia sudah menjadi bagian dari penyebaran Covid-19 kala itu," kata Louis ketika dihubungi Liputan6.com, Jumat, 30 Oktober 2020.

Pemilik Komodo Trekker ini melanjutkan, beberapa bulan lalu pihak pengelola Balai Taman Nasional Komodo mencoba membuka akses kepada publik. Hal ini membuat wisatawan mulai berkunjung ke wisata komodo dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

"Apa yang terjadi akhir-akhir ini pariwisata kita sudah ada kegiatan, tetapi dari April, Mei, Juni itu zero. Ketika akses dibuka, baik penerbangan, bandara, kegiatan wisata, dibuka tiga tahap untuk kunjungan lokal dan Nusantara," lanjutnya.

Geliat perjalanan wisata di Labuan Bajo terasa mulai September lalu. "Kunjungan wisatawan cukup lumayan ke Taman Nasional Komodo untuk mengamati satwa langka komodo," ungkap Louis.

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Strategi Wisata

Foto: Salah satu spot foto di Labuan Bajo, Manggarai Barat (Liputan6.com/Dion)
Foto: Salah satu spot foto di Labuan Bajo, Manggarai Barat (Liputan6.com/Dion)

Salah satu strategi untuk mempertahankan eksistensi wisata di kawasan Labuan Bajo, Louis melihat trending pariwisata kontemporer adalah pariwisata yang berbasis lingkungan. Eksplorasi ini lebih kepada pendekatan petualangan wisata dengan segala entitas suatu destinasi wisata.

"Sejauh ini yang menjadi konsentrasi saya pribadi sebagai salah satu penyedia jasa paket wisata tour operator, saya sedang menjelajahi tempat-tempat baru yang menjadi potensi untuk dapat dipasarkan ke depannya," ungkap Louis.

Dikatakan Louis, kini ia mempersiapkan produk wisata lainnya. Terobosan yang bergelut dengan ekowisata itu dijalankan selain soal wisata komodo yang menjadi salah satu mitigasi agar tidak terjadi over visitor atau mass tourism di kawasan wisata komodo.

"Hal lain juga pemahaman tentang digitalisasi di industri pariwisata khususnya pegiat pariwisata itu harus menjadi kekuatan utama dan senjata," tambahnya.

Langkah tersebut diterapkan sehingga ia mempelajari digitalisasi tersebut, seperti teknik marketing dan lainnya. "Sehingga kita tidak kalah saing yang lain," kata Louis.

Sementara, Komodo Trekker berfokus pada tur hopping island dengan menjelajah alam wisata komodo yang eksotis. Louis mengemas beberapa paket, ada full day tour untuk dua hari dan satu malam untuk mengelilingi pulau, ada pula untuk tiga hari dua malam.

"Ada paket wisata untuk special reqest ini bagi wisatawan minat khusus misalnya biologist ingin melihat nokturnal spesies endemik," jelas Louis.

Dikatakan Louis, paket tiga hari dan dua malam memiliki harga variatif, yang menggunakan kapal standar yang disewa privat dengan dua orang, dikenakan biaya Rp5,5 juta per orang. Harga tersebut sudah termasuk makan, minum, park fee, guide fee, ranger fee, snorkeling, dan lainnya.

"Kenapa saya suka arrange private carter karena yang saya pahami wisata itu kesenangan, kenikmatan, menciptakan pengalaman yang unik nanti harus jadi unforgettable experience," tambahnya.

Sementara, untuk wisatawan yang ingin merasakan pengalaman ekowisata hadir dengan biaya Rp7 juta untuk dua orang. Biaya ini lebih murah karena tidak ada biaya menyewa kapal.

Anjani Trip

Guide taman nasional berinteraksi dengan seekor komodo di Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo, NTT, Minggu (14/10). Pulau Rinca  yang merupakan zona inti Taman Nasional Komodo. (Merdeka.com/Arie Basuki)
Guide taman nasional berinteraksi dengan seekor komodo di Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo, NTT, Minggu (14/10). Pulau Rinca yang merupakan zona inti Taman Nasional Komodo. (Merdeka.com/Arie Basuki)

Pemilik Anjani Trip Rachmat Julio menyebut, per Agustus sejak border di Labuan Bajo dibuka, ia mencoba ke lapangan meriset data. Ketika itu, ia menemukan, tingkat kunjungan wisata masih cenderung sepi.

"Di tanggal 15 Agustus, saya sebagai pelaku wisata membuat campaign 'Kembali Berwisata' di Labuan Bajo. Dari Agustus--September saya jalankan campaign itu peningkatan signifikan sekitar 70--80 persen dibanding yang lalu-lalu," kata Julio saat dihubungi Liputan6.com, Jumat, 30 Oktober 2020.

Ia melanjutkan, periode September hingga Oktober kunjungan kian ramai, terlebih long weekend ini. Julio memprediksi, November hingga Desember wisata komodo akan mengalami peningkatan.

"Karena saya melihat data base kita, per November sudah mulai keliatan banyak yang booking. Saya rasa di Indonesia, Labuan Bajo paling ramai dikunjungi saat pandemi karena orang-orang berpikir wisata di sana lebih aman dibanding lainnya," tambahnya.

Hal tersebut merujuk pada beragam aktivitas wisata, mulai dari trekking hingga renang. Ditambah, setiap tour operator atau travel agent menerapkan SOP yang tegas dan menjadi harga mati, apabila melanggar, akan dikenakan sanksi oleh Pemda.

Terkait penutupan sementara Pulau Rinca, dikatakan Julio, tidak akan memengaruhi wisata komodo. Ia menyebut, traveler dapat melihat komodo tak hanya di Pulau Rinca saja.

"Memang betul Pulau Rinca punya beberapa kelebihan, seperti kalau mencari komodo tidak sulit, trekking 10 menit bisa lihat komodo, view bagus, tapi kalau dialihkan di Pulau Komodo, tidak jauh berbeda cuma bedanya kalau trekking di Pulau Komodo, trekking agak jauh sekitar 15 menit," tambahnya.

Sementara di Pulau Komodo, Julio menyebut, ada begitu banyak yang menjual suvenir buatan tangan warga lokal, kemudian dapat melihat komodo dari bibir pantai. "Jadi di Pulau Komodo sendiri ada pantai, jadi kadang komoda ada di dekat pantai, dan bagus untuk foto, panoramanya juga bagus, trekking melewati semacam hutan belantara dan masih banyak satwa-satwa liar di dalamnya," lanjutnya.

Kampanye Kembali Berwisata

Jika Yunani punya Balos Lagoon sebagai pantai berpasir merah jambu, maka Indonesia memiliki Pink Beach yang ada di kawasan Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur. (Liputan6.com/ Ahmad Ibo).
Jika Yunani punya Balos Lagoon sebagai pantai berpasir merah jambu, maka Indonesia memiliki Pink Beach yang ada di kawasan Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur. (Liputan6.com/ Ahmad Ibo).

Ketika Labuan Bajo kembali membuka pintu bagi wisatawan, Julio menggaungkan kampanye 'Kembali Berwisata'. Langkah ini diambil guna membangkitkan kembali geliat wisata di sana.

"Langkah yang saya ambil pure pakai kocek pribadi sebagai bentuk kepedulian terhadap destinasi. Walaupun impact-nya tidak impactful ke perusahaan saya, setidaknya teman-teman lain sudah merasakan sektor perekonomian kembali normal dengan protokol-protokol yang berlaku," ungkap Julio.

Di Anjani Trip sendiri, wisata komodo dikemas selama tiga hari dan dua malam. Ada dua pilihan yang ditawarkan, satu di antaranya adalah untuk solo traveler atau beberapa orang yang tidak ingin mengeluarkan biaya banyak, dapat ikut sharing trip yang tersedia setiap akhir pekan.

"Friday to sunday itu satu orang bisa join, dan dua orang pasti berangkat jaminan pasti berangkat setiap minggunya. Ada juga tipikal traveler yg tidak mau sharing dengan orang lain dia pilih carter boat atau yang kita sebut private trip, start Rp22 juta kalau dipaket saya, bisa diisi 10 orang," tambahnya.

"Rutenya mengunjungi 10 destinasi, destinasi inti di Labuan Bajo, seperti Pulau Padar, Pulau Komodo, Pink Beach, dan lainnya selama tiga hari dan dua malam hopping island, sailing around dan berhenti di setiap pulaunya," kata Julio.

Harga sharing trip sendiri, mulai dari Rp2,4 juta. Mengingat di masa new normal, ia ingin memperkenalkan publik wisata di era pandemi dengan menghadirkan promo.

"Lagi ada promo sampai Februari 2021 dengan potongan harga Rp350 ribu--Rp400 ribu per orang. Harga paket sudah termasuk, mulai dari penjemputan sampai kembali ke bandara, makan sehari tiga kali, snack sore, tour guide, sampai dokumentasi," jelasnya.

Infografis Jangan Remehkan Cara Pakai Masker (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis Jangan Remehkan Cara Pakai Masker (Liputan6.com/Abdillah)

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: