Cerita Akhir Pekan: Asal Muasal Istilah Mental Tempe

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - "Kami menggoyangkan langit, menggemparkan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2,5 sen sehari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita." Demikian pidato Presiden ke-1 RI Soekarno yang menegaskan bangsa Indonesia bukanlah bangsa yang lembek seperti tempe.

Pada masa revolusi kata 'tempe' memang kerap diidentikkan dengan hal-hal negatif, seperti cengeng, mudah menyerah atau lembek. Maka sindiran seperti 'mental tempe', 'pasukan tempe' atau 'pemuda kelas tempe' dipakai untuk meledek mereka yang dianggap lemah.

"Mental tempe dipopulerkan oleh Soekarno pada masa perjuangan dan orde lama. Sebagai bentuk agitasi, agar rakyat tidak bermental tempe (lemah, murah, rendah diri, dan terbelakang)," kata Wijaya selaku Ketua Umum Pengurus Pusat Forum Komunikasi Guru IPS Nasional PGRI (FKG IPS Nasional PGRI), saat dihubungi Liputan6.com, Kamis, 7 Desember 2020.

"Hal ini dimaklumi, karena tempe pada masa itu merupakan makanan yang murah dan dikonsumsi oleh masyarakat miskin," lanjutnya.

Tempe juga identik dengan makanan murah dan merakyat. Sajian yang terbuat dari kedelai tersebut merupakan makanan asli Indonesia yang diperkirakan telah ada sejak abad ke-16.

"Tempe merupakan makanan super food, bergizi, memiliki nilai khasiat, dan juga makanan penyelamat bagi bangsa Indonesia di masa krisis pangan pada masa orde lama," ungkap sejarawan kuliner Fadly Rahman, saat dihubungi Liputan6.com, Kamis, 7 Desember 2020.

Fadly melanjutkan, di balik ungkapan mental tempe ini, jangan seakan merendahkan makanan tempe itu sendiri. "Kita juga harus bisa melihat di balik itu semua bahwa tempe pada masa 60-an bisa menjadi makanan penyelamat," jelasnya.

"Jika kita terus-terusan melihat tempe itu makanan yang murah, kita harus mengubah mindset kita bahwa tempe adalah makanan protein nabati yang baik," ungkap Fadly.

Serba-serbi Tempe

Ilustrasi tempe goreng (dok.unsplash/ Ella Olsson)
Ilustrasi tempe goreng (dok.unsplash/ Ella Olsson)

Meski murah dan dipandang sebelah mata, tempe adalah makanan yang menyelamatkan jutaan rakyat Indonesia dari penyakit kurang gizi dan busung lapar pada 1945 hingga akhir 1960-an. Tempe terus menjadi makanan yang menemani masyarakat Indonesia dari waktu ke waktu, termasuk di saat-saat sulit.

Jika tidak ada tempe saat ekonomi Indonesia benar-benar terpuruk, entah berapa juta anak yang terlahir kurang gizi. Sebelumnya, tempe juga menyelamatkan tahanan perang dunia II yang ditawan Jepang. Cukup besar jasa makanan yang terbuat dari fermentasi kedelai ini.

"Citra tempe dalam tataran regional dan internasional mulai mendapatkan tempat bahkan digemari. Hal tersebut tidak terlepas dari sentuhan inovasi dalam pengolahan pangan berbahan baku tempe," ujar Wijaya.

"Sentuhan inovasi dalam pengolahan serta proses pengemasan menjadikan tempe semakin mendapatkan tempat di masyarakat indonesia," lanjutnya.

Bisa dikatakan, tempe memang sulit dipisahkan bahkan telah menjadi salah satu menu andalan sehari-hari masyarakat Indonesia. Mental dan tempe secara simbol memang tidak ada korelasi, namun secara filosofis, peribahasa dan historis memiliki relevansi dengan keadaan sosial suatu masyarakat, terlebih dalam konteks perekonomian.

Perumpamaan mental tempe dan produksi tempe sendiri ternyata tidak memengaruhi proses legalisasi tempe sebagai makanan. Karena tempe sudah menjadi makanan asli Indonesia yang ada sekitar abad 12 atau 13 Masehi. Seiring dengan perkembangan jaman, tempe sudah menjadi makanan yang sehat dan kayak akan protein, diolah menjadi beragam makanan yang dinikmati oleh kalangan menengah ke atas. (Melia Setiawati)

Infografis Cara Aman Pesan Makanan via Online dari Covid-19

Infografis Cara Aman Pesan Makanan via Online dari Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis Cara Aman Pesan Makanan via Online dari Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: