Cerita Akhir Pekan: Berbagi Kebahagiaan Iduladha dalam Keterbatasan

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta - Iduladha jadi salah satu momen masyarakat untuk berbagi, meski dalam keterbatasan karena pandemi Covid-19 belum berlalu dari Indonesia. Tak ingin momen Iduladha berlalu tanpa makna, sejumlah warga berusaha untuk menunjukkan kepudliannya dengan cara menyalurkan daging kurban.

Mereka menyalurkan secara pribadi, tapi ada juga yang menyalurkan kurbannya melalui perantaraan lembaga maupun yayasan yang tersebar di berbagai daerah. "Setiap Iduladha kami membuka open donasi dari masyarakat. Apa yang kami dapatkan kemudian kami belikan hewan kurban berupa sapi atau kambing dan kemudian kami salurkan kepada masyarakat yang membutuhkan," ujar staf Yayasan Rumah Berbagi Semangat, Rahmat Arifudin saat dihubungi Liputan6.com, Jumat, 16 Juli 2021.

Yayasan yang berdiri pada Oktober 2017 ini memiliki program Semangat Sedekah yang bertujuan untuk mewujudkan aksi nyata membantu sesama. Lembaga yang berlokasi di Yogyakarta ini merupakan lembaga penyalur donasi, santunan, dan kemanusiaan.

"Sebelum pandemi, kami berbagi kebahagiaan dengan menyalurkan hewan kurban di daerah Gunungkidul. Untuk tahun ini kemungkinan besar untuk warga di sekitar yayasan," ujar Rahmat.

Rahmat mengungkapkan efek pandemi ikut mempengaruhi perolehan donasi untuk sedekah kurban. Saat ini, program di yayasannya, banyak orang yang lebih menyalurkan untuk program mereka yang sakit.

"Saat ini lebih banyak yang menyalurkan donasinya program untuk mereka yang sakit, ketimbang donasi untuk sedekah kurban. Alhamdulillah untuk program ini banyak yang memberikan donasinya," imbuh Rahmat.

Dua tahun lalu, hasil donasi untuk sedekah kurban disalurkan di Gunungkidul dan tempat lain yang belum menerima daging kurban. Dengan adanya sedekah kurban dari Berbagi Semangat, banyak warga yang senang. "Apalagi pada awal pandemi banyak orang yang kehilangan pekerjaan," kata Rahmat.

Sebar Kurban

Ilustrasi - Pembagian daging kurban pada Idul Adha. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Ilustrasi - Pembagian daging kurban pada Idul Adha. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Berbagi kebagagiaan juga dilakukan Ecoqurban kepada masyarakat di berbagai pelosok. Penyedia hewan kurban secara online ini menjembatani pada mereka yang biasa kurban di kota- kota besar, dengan memindahkan daging kurban ke pelosok- pelosok dengan konsep sebar kurban.

"Dengan begitu, daging kurban bisa terdistribusi dengan baik. Daging dari mereka yang berkurban pun menjadi lebih tepat sasaran," ujar Ketua Yayasan Bina Ternak Sejahtera (Ecoqurban), Zaenal Arifin saat dihubungi Liputan6.com.

Caranya, masyarakat di perkotaan bisa berkurban langsung di lokasi peternakan. Di sana ada peternak, hewan ternak, tempat berkurban, dan daging kurban disalurkan di sekitar lokasi peternakan.

Zaenal sempat berbicara kepada para peternak. Dari pembicaraan itu terungkap, meski mereka memelihara kambing dan sapi, tapi mereka tidak sering makan daging.

"Sapi dan kambing itu bagi mereka sebagai tabungan, tidak mungkin mereka makan. Itu kan suatu ironi. Jika peternak saja tidak biasa makan daging, apalagi warga sekitarnya. Ternyata, secara ekonomi kehidupan mereka sama dengan peternak di berbagai pelosok," ujarnya.

Kehadiran konsep sebar kurban yang dilakukan Ecoqurban akan memungkinkan orang lebih banyak yang berkurban. Mereka yang berada di pelosok pun akan bisa menikmati daging kurban.

Selama ini, kata Zaenal, hanya orang yang berkecukupan saja yang berkurban. Sementara banyak orang lain yang sebenarnya ingin berkurban di momen Iduladha. Namun, mereka tak bisa mewujudkan keinginan itu karena mahalnya hewan kurban, sedangkan dana yang dimiliki sangat terbatas.

Harga Hewan Kurban

Ilustrasi kambing (iStock)
Ilustrasi kambing (iStock)

Zaenal mencontohkan, harga kambing di Jabodetabek, terutama yang di pinggir-pinggir jalan raya paling murah antara Rp2,5 juta sampai Rp3 juta. "Jadi, kalau beli di pelosok langsung, kami bisa jual dengan bobot dan umur serta spek yang sama itu sekitar Rp1,5 juta. Tidak perlu cost tambahan lagi, biaya yang dikeluarkan langsung ke peternak," ujar lulusan Jurusan Biologi dari Universitas Indonesia.

Lelaki yang berkecimpung selama 12 tahun dalam dunia hewan kurban dan akikah menyebutkan, ada beberapa penyebab mengapa hewan kurban di perkotaan itu mahal. Ia menyebut biaya angkut hingga pakan.

"Pertama, ada ongkos transportasi yang harus dikeluarkan untuk mengangkut hewan kurban ke perkotaan. Kedua, para pedagang musiman hewan kurban di perkotaan itu harus membuat kandang, biaya operasional, biaya pakan. Hal-hal itu yang menyebabkan hewan kurban di perkotaan menjadi lebih mahal," ungkap Zaenal.

Untuk lebih meyakinkan mereka yang berkurban, Zaenal memperlihatkan hewan kurban yang dibeli, baik sebelum dan sesudah disembelih. Setiap hewan kurban yang dibeli pun ditandakan dengan nomor dan nama yang dicat di badannya.

"Jadi, kita bikin setransparan mungkin dan ada dokumentasinya. Kami juga akan mengirimkan sertifikatnya kepada mereka yang berkurban lewat e-mail," kata dia.

Kata Zaenal, untuk wilayah penyalurannya ada di Jawa Barat, seperti di Sukabumi, Cianjur, di Bogor sekitar wilayah Ciampea dan Leuwiliang. "Sementara di Jawa itu ada di Wonogiri, Gunungkidul, di Malang. Kalau mitra peternak, kami punya mitra di Lampung Tengah, kalau di Sulawesi, kami bermitra di Mamuju, kalau di Nusa Tenggara Timur, kami bermitra di Kupang," katanya.

Infografis Pelaksanaan Kurban Idul Adha 2021

Infografis Pelaksanaan Kurban Idul Adha 2021 (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis Pelaksanaan Kurban Idul Adha 2021 (Liputan6.com/Abdillah)

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel