Cerita Akhir Pekan: Berkebun dan Bertani di Rumah Sendiri

·Bacaan 5 menit

Liputan6.com, Jakarta - Berkebun dan bertani termasuk kegiatan produktif yang menyehatkan karena dapat meredakan stres, terutama di masa pandemi ini. Selain itu kegiatan ini dapat memudahkan Anda mendapatkan bahan makanan untuk kebutuhan keluarga.

Tak selalu butuh lahan yang luas untuk dapat berkebun di rumah. Cara berkebun di rumah bagi pemula pun dapat pula dilakukan dengan mudah. Belakangan ini bahkan muncuk istilah urban farming yaitu bertani atau berkebun di tengah perkotaan yang lahannya tidak begitu luas.

Hal itu membuat bermunculan beragam komunitas urban farming, salah satunya Komunitas Jakarta Berkebun. Menurut Kurnia dari Komunitas Jakarta Berkebun, sebelum memutuskan untuk berkebun di rumah, sebaiknya cari referensi dulu tanaman apa saja yang mudah ditanam untuk para pemula.

Setelah itu siapkan bahan-bahan dan peralatan untuk berkebun. Tanaman sayuran dan buah-buahan bisa jadi pilihan untuk pemula. "Kalau untuk pemula disarankan tanam kangkung dan bayam dulu, karena mudah ditanam, gampang perawatannya dan cepat panen juga, sekitar 21 hari sudah bisa panen," kata Kurnia pada Liputan6.com, 23 September 2021.

Komunitas Jakarta Berkebun sendiri kerap melakukan berbagai kegiatan. "Sebelum pandemi kita biasanya seminggu sekali ada kegiatan rawat kebun. Kalau selama pandemi ini kita memberikan edukasi dan pelatihan secara virtual. Kalau ingin lebih tahu tentang cara berkebun, bisa menyimak pelatihan yang kita adakan," terang Kurnia .

Sementara menurut Zakiah Ambadar, Youtuber ramah lingkungan yang aktif berkebun di rumah sendiri, setidaknya ada lima tips untuk bisa berkebun di rumah yang lahannya tidak begitu luas. Pilih tanaman yang Anda butuhkan, mudah tumbuh, mudah perawatannya, ditanam secara vertical atau gantung dan bisa juga ditanam di dalam ruangan.

"Kalau untuk jenis tanamannya, saya sarankan tanaman produktif, minimal bisa kita konsumsi sendiri atau untuk keluarga. Misalnya, sayuran, buah-buahan dan obat-obatan atau herbal," jelas Zakiah lewat pesan pada Liputan6.com, 24 September 2021.Ia menambahkan, kita bisa menanam sayuran atau buah-buahan yang biasa ditanam petani di rumah sendiri.

Dengan sistem hidroponik kita bisa menanam sayuran yang biasa ditanam pada dataran tinggi bisa juga ditanam di dataran rendah atau perkotaan. "Dengan adanya urban farming misalnya, ini bisa jadi salah satu cara meningkatkan ketahanan pangan keluarga, terutama agar kita bisa mendapatkan sayuran dan buah segar dan sehat karena tanpa pestisida atau bahan kimia lainnya," kata Zakiah.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Mudah dan Praktis

Komunitas Jakarta Berkebun. (dok.Instagram @jktberkebun/https://www.instagram.com/p/B877XySD-DX/Henry)
Komunitas Jakarta Berkebun. (dok.Instagram @jktberkebun/https://www.instagram.com/p/B877XySD-DX/Henry)

Menurut Zakiah, ia suka menanam apa saja dengan sistem hidroponik dan microgreens (sayur super mungil yang sehat) karena mudah dan praktis. Meski tidak disiram tiap hari, tanaman-tanaman tersebut bisa tumbuh subur dan cepat panen..

"Tanamlah tanaman yang mudah tumbuh maupun perawatannya, seperti kangkung, bayam, selada, cabai terutama cabai rawit, tomat, jeruk nipis atau lemon, kacang panjang, labu siam, dan melon," ungkap pemilik kanal Youtube ‘Healthy Living’ ini. Ia juga menyarankan tanaman herbal seperti bunga telang, mint, rosemary, organo, sereh, jahe, kunyit, kencur dan kelor untuk ditanam.

Yang terpenting, pilih tanaman sesuai dengan kebutuhan kita. Sedangkan menanam tanaman hias juga banyak manfaatnya seperti memberikan keindahan dan kebahagiaan. Zakiah mengatakan, tanaman hias tidak perlu yang mahal, yang penting indah dipandang dan mudah perawatannya. "Banyak tanaman hias yang bisa menyerap hawa/udara kotor atau bahkan mengusir nyamuk tanpa menyemprot obat nyamuk," ucapnya.

"Bagi saya, berkebun sangat menyenangkan, melihat tanaman tumbuh subur dan menikmati prosesnya serta hasilnya suatu anugerah yang sangat luar biasa. Kita merasa bersyukur atas karunia Ilahi melalui alam yang kita rawat," tambahnya.

Zakiah sendiri suka memberikan pelatihan langsung pada mereka yang ingin belajar berkebun di rumah, tapi selama pandemi ini ia hanya melakukan kegiatan secara online. "Intinya saya senang berbagi, semuanya saya lakukan dengan senang hati , Pelatihannya gratis(, hanya perlu biaya untuk alat-alat yang diperlukan saja. Biasanya saya kirim sebelum pelatihan, jadi masing-masing bisa langsung praktek," ucapnya.

Bisa Dikonsumsi Sendiri

Zakiah Ambadar. (Foto: Dok. YouTube Zakiah Ambadar)
Zakiah Ambadar. (Foto: Dok. YouTube Zakiah Ambadar)

Berkebun dan bertani di rumah sendiri juga dilakukan Gibran Tragari. Ia sudah berkebun sejak 2016 saat dirinya sedang mencari pekerjaan. Meski belum pernah berkebun sebelumnya, Gibran mencoba ikut volunteering di kebun permakultur Bumi Langit di Jogja. Hal yang menarik perhatiannya, ada keluarga yang hidup dari hasil kebunnya.

"Jadi waktu itu, saya pikir daripada kerja cari duit untuk makan, kenapa nggak langsung menanam makanannya sendiri. Waktu itu melihat ada contoh yang berhasil di Bumi Langit, jadi tertarik untuk mencoba berkebun dengan serius," terang Gibran pada Liputan6.com, Jumat, 24 September 2021.

Ia mengakui mengalami kesulitan saat memulai berkebun di rumah, apalagi kondisi tempat tinggalnya di Depok, Jawa Barat, sangat berbeda dengan di Jogja. Ia kenudian bergabung di komunitas Jakarta Berkebun dan mendapat banyak ilmu dan wawasan.

Ia pun menanam beragam tanaman dengan memanfaatkan potensi urban farming, yaitu diversifikasi pangan. "Untuk umbi-umbian kami ada empat jenis yaitu singkong, ubi, gembili dan uwi. Lalu sayur ada yang musiman, seperti sawi, selada, kailan , dan ada yang tahunan kayak katuk, gedi, ginseng Jawa," terangnya.

Gibran megakui ada banyak keuntungan dan manfaat dari berkebun di rumah. Salah satunya untuk diversifikasi pangan dengan menanam berbagai sayuran dan buah-buahan yang lebih sehat dan bisa dikonsumsi sendiri.

Berani Mencoba

Gibran Tragari dari Komunitas Sendalu Permaculture. (dok.Instagram @gibongtr/https://www.instagram.com/p/BchgyZGgAwR/Henry)
Gibran Tragari dari Komunitas Sendalu Permaculture. (dok.Instagram @gibongtr/https://www.instagram.com/p/BchgyZGgAwR/Henry)

Selain itu, dengan berkebun kita juga bisa mengelola sampah dari rumah, kebun juga didesain untuk memaksimalkan penyerapan air serta menampung air hujan. Berkebun juga bisa jadi kegiatan olahraga karena kita aktif bergerak setiap hari.

Bagi pendiri komunitas Sendalu Permaculture ini, lahan bukan masalah utama dalam berkebun, tapi matahari. Apakah tempat menanamnya dapat sinar matahari yang cukup atau tidak. Karena tidak ada lahan, kita tetap bisa menanam, baik di teras atau halaman dan bahkan di tempat parkir kendaraan.

Ia bahkan pernah melihat ada yang menanam di atas got depan rumah, dengan dipasang teralis lebih dulu. Tapi kalau mataharinya kurang, yang bisa dilakukan adalah memilih tanaman yang cocok seperti rimpang. Hasil tanaman ini biasa digunakan sebagai bumbu dapur seperti lengkuas dan kunyit.

Menurut Gibran, media yang paling pas untuk belajar berkebun adalah dengan belajar langsung pada ahlinya ataupun komunitas. Karena banyak yang dilakukan berdasarkan rasa dan pengalaman, tapi dari buku dan media lain pun masih mungkin dilakukan. "Yang terpenting adalah berani mencoba, dari situ akan terkumpul pengalaman, dan sedikit-sedikit tanaman yang ditanam pun akan semakin baik," tutupnya.

Tanaman Sayuran yang Cocok Ditanam di Lahan Sempit

Infrografis Tanaman Sayuran yang Cocok Ditanam di Lahan Sempit
Infrografis Tanaman Sayuran yang Cocok Ditanam di Lahan Sempit
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel