Cerita Akhir Pekan: Eksistensi Lahan Perkebunan Teh Indonesia

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia salah satu produsen teh terbesar di dunia. Namun, keprihatinan muncul karena areal perkebunan teh ternyata semakin berkurang setiap tahunnya.

"Setiap tahun areal perkebunan teh berkurang 3.000 hektare. Berkurangnya itu dialihkan ke properti, seperti dibangun vila. Jadi, peraturan daerahnya untuk penataan lahan belum ditegakan," kata ekonom pertanian di Pusat Penelitian Teh dan Kina, Rohayati Suprihatini saat dihubungi Liputan6.com, Jumat, 29 Mei 2021.

Selain itu, sambung Rohayati, penggunaan untuk lahan yang konservasinya berbahaya, seperti lahan sayuran. Orang beralih menanam sayur-sayuran, seperti wortel, kentang, yang tidak memperhatikan kontur tanah.

"Sementara teh dari aspek konservasi sangat bagus, populasinya seperti permadani, akarnya juga menghujam ke dalam tanah. Jadi, perkebunan teh itu bagus karena dapat mencegah banjir dan longsor. Sementara sayuran setelah dipanen, maka akan menjadi lahan terbuka yang bisa mengakibatkan longsor," ujar alumnus Pascarsarjana Universitas Pertanian Bogor (IPB)

Rohayati sangat prihatin dengan kondisi tersebut. Ia memprediksi pada 2050, teh hanya akan menjadi sejarah, tak ubahnya seperti kina.

Di Indonesia, kina tinggal sejarah, sedangkan industrinya masih ada, seperti Kimia Farma. Namun, perkebunannya sudah tidak ada sehingga Indonesia harus impor dari Afrika.

"Sayang banget, ya. Padahal, dulu itu ada kombinasi teh dan kina. Teh ditanam di lahan yang bagusnya, sedangkan kina di lahan yang marjinal, seperti di tanam di bagian tebing-tebing. Sekarang kina sudah hilang dan perkebunan teh berkurang 3.000 hektare per tahun," tutur Rohayati.

Rohayati mencontohkan, berkurangnya lahan perkebunan teh di kawasan Puncak, Gunung Mas, itu terjadi karena jadi lahan bancakan. Saat Hak Guna Usaha (HGU) di sana hampir habis, banyak orang yang mendatanginya.

"Dalam beberapa hari berubah kebun pisang, tiba-tiba banyak yang mencabuti pohon-pohon teh itu. Selain itu, mulai muncul warung-warung, vila, dan lain-lain," ungkap Rohayati.

Proteksi

Warga beristirahat di kawasan wisata Kebun teh Puncak Kabupaten Bogor Jawa Barat, Sabtu (31/10/2020). Libur panjang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dimanfaatkan warga untuk mengunjungi lokasi-lokasi wiisata. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)
Warga beristirahat di kawasan wisata Kebun teh Puncak Kabupaten Bogor Jawa Barat, Sabtu (31/10/2020). Libur panjang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dimanfaatkan warga untuk mengunjungi lokasi-lokasi wiisata. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Berbeda dengan negara-negara produsen utama teh, mulai dari India, Turki, Sri Lanka, mereka memproteksi pertanian tehnya dengan tarif yang tinggi. Rohayati mencontohkan dengan India, sebagai negara produsen teh terbesar kedua di dunia.

"Tarif masuk tehnya 119 persen. Jadi, otomatis kita tidak bisa masuk ke India. Kalau teh kita bisa masuk ke India, maka harga teh kita harganya bisa dua kali lipat dari teh India di dalam negeri mereka. Jadi, mereka kemudian memproteksi tehnya," kata Rohayati.

Begitu juga dengan Turki yang menetapkan tarif impor tehnya 145 persen. "Kita itu baik banget, hanya 20 persen. Belum lagi dengan impor Vietnam yang nol persen ke Indonesia, sedangkan kita ekspor ke Vietnam 50 persen," kata Rohayati. "Jadi, kalau tidak ada proteksi, maka harga teh Indonesia rendah sekali, apalagi dengan masuknya teh-teh impor," imbuhnya.

Dalam sebuah kesempatan, Ketua Dewan Teh Indonesia, Rachmat Gunadi mengungkapkan bahwa ekspor teh Indonesia mengalami penurunan beberapa tahun belakangan ini. Saat ini ekspor teh Indonesia 48.000 ton dan sebelumnya 90.000 ton per tahun.

"Peminum teh dunia sekarang ini kehilangan sekitar 42 ribu ton teh Indonesia. Ini yang harus kita ambil kembali, apapun caranya," tegas dia.

Infografis Teh Artisan Lokal Gaet Pasar Kekinian

Infografis teh artisan lokal gaet pasar kekinian. (Liputan6.com/Triyasni)
Infografis teh artisan lokal gaet pasar kekinian. (Liputan6.com/Triyasni)