Cerita Akhir Pekan: Ibu, Siapkah Kembali Bekerja di Kantor?

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta - Menyandang status sebagai orangtua bukanlah perkara mudah. Ada beragam langkah yang harus dipikirkan dan dipersiapkan secara menyeluruh untuk buah hati, tidak terkecuali bagi ibu yang akan kembali bekerja di kantor setelah melahirkan.

Psikolog klinis dari Enlightmind Nirmala Ika menyampaikan persiapan mental jadi salah satu hal yang penting terkait kesiapan ibu kembali bekerja di kantor. Ibu harus benar-benar yakin akan kembali bekerja apapun alasannya, baik ingin atau harus bekerja.

"Harus yakin dahulu bahwa bekerja menjadi pilihan yang diambil secara sadar karena kadang ibu menjadi galau ketika bekerja, merasa bersalah, merasa ketakutan karena meninggalkan anak," kata Ika saat dihubungi Liputan6.com, Rabu, 22 Desember 2021.

Ika menambahkan saat sudah yakin akan kembali bekerja, ibu harus memetakan support system yang dipercaya untuk menjaga buah hati. Lalu, langkah selanjutnya memastikan pengawasannya agar ibu tenang ketika bekerja.

"Lalu secara teknis, memastikan bagaimana stok ASI, harus pumping di kantor, termasuk kalau diperlukan harus ada yang ambil ASI. Juga, harus belajar percaya kepada orang yang mengurus anak," terangnya.

Tak dapat dipungkiri gejolak perasaan dialami ibu yang harus kembali bekerja ke kantor. Hal tersebut merujuk pada kecenderungan ingin mempeoteksi anak dan memastikan buah hati tercinta dalam kondisi baik-baik saja.

"Tergantung karakter ibu apakah ada isu personal, seperti kena baby blues, tapi kadang ada kasus baby blues yang dia tidak nyaman dengan anaknya," kata Ika.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Berbagi Peran

Ilustrasi bayi tabung. Photo by Omar Lopez on Unsplash
Ilustrasi bayi tabung. Photo by Omar Lopez on Unsplash

Selain itu, masalah yang kerap menghantui keputusan ibu kembali bekerja ke kantor justru bisa datang dari orang sekitar. "Secara sadar ibu harus bekerja apapun alasannya, tapi sering pandangan masyarakat termasuk keluarga dekat memandang untuk apa bekerja karena sudah punya anak. Seolah tugas ibu adalah harus mengurus anak, kan bisa berbagi peran dengan suami," tutur Ika.

"Keputusan bekerja mingku karena mempertimbang anak secara finansial, bahkan sometimes bagus juga untuk kesehatan mental ibu karena tetap punya kegiatan lain," lanjutnya.

Maka, dalam mengurus buah hati berbagi peran secara setara antara ibu dan ayah sangat penting. Tak melulu ibu, ayah pun dapat ambil bagian dalam memandikan, memberi susu, termasuk pengembangan karakter anak, bermain dengan anak.

"Idealnya ganti-gantian siapa yang bisa," kata Ika.

Selain itu, Ika mengungkapkan me time bagi ibu jadi hal yang penting. Namun ibu tidak perlu me time yang memakan waktu lama dengan berkegiatan di luar rumah.

"Me time penting, asal jangan yang susah-susah, misal seperti baru punya bayi me time di kafe, walaupun mungkin pasangan support," jelasnya.

"Me time penting setiap hari, untuk lamanya di-adjust saja. Kalau anak masi bayi, 15 menit cukup atau saat anak tidur kita ambil waktunya untuk me time," kata Ika.

Cerita Ibu

ilustrasi bayi (Sumber: Unsplash) / Luma Pimentel
ilustrasi bayi (Sumber: Unsplash) / Luma Pimentel

Kisah seorang ibu yang akan bekerja setelah kehadiran buah hati dibagikan oleh Kresensianes Y. Perempuan yang berprofesi sebagai dokter estetika ini dijadwalkan kembali bertugas pada Januari 2022 setelah melahirkan buah hati pertamanya.

"Sejujurnya, kalau dari segi mental karena sudah jadi seorang ibu kayak enggak siap ninggalin baby. Dilema, enggak siap karena harus pisah dari baby, tapi satu sisi masih punya kewajiban buat kerja," kata Anes, begitu ia akrab disapa, saat dihubungi Liputan6.com, Rabu, 22 Desember 2021.

Anes dan suami telah berdiskusi mengenai rencana yang akan dilakukan ketika kembali bekerja. Pasangan ini berniat mencari helper untuk mengurus buah hati saat mereka sama-sama bekerja.

"Karena rumahku jauh dari tempak kerja, aku belum berani ninggalin baby sama helper di rumah. Rencananya pas berangkat kerja, aku antar anak dan helper ke rumah oma atau keluarga lain yang bisa mengawasi," tambahnya.

Anes menyampaikan ingin memberikan ASI eksklusif untuk buah hati. Maka dari itu, ia telah memulai pumping ASI untuk memperbanyak stok di kulkas.

"Walaupun nanti sudah balik kerja, tetap pumping juga diusahakan di kantor," tutur Anes.

Lahirnya Anak dan Ibu Baru

Ilustrasi ibu. (dok. Unsplash.com/sickhews)
Ilustrasi ibu. (dok. Unsplash.com/sickhews)

Menjadi orangtua baru membuat Anes dan suami saling mendukung satu sama lain. "Dia tahu aku sudah capek ngurus anak, dia bantu pekerjaan rumah, beres-beres tanpa diminta tolong," lanjutnya.

Hal tersebut dilakukan ketika sang suami pulang bekerja di malam hari. "Dia kerja dari pagi dan pulang sampai rumah sekitar jam 8--9 malam, kadang supportnya pas dia pulang kantor, dia gendong anak agar aku bisa makan dulu," terang Anes.

Terlepas dari itu, Anes mengakui sangat menikmati perannya sebagai ibu. "Menikmatinya karena berpikir sebentar lagi mau masuk kerja aku memanfaatkan waktu selama cuti ini mengurus semua kebutuhan anak, karena aku di rumah hanya berdua dengan anak, tidak ada yang bantu," ungkapnya.

"Sebenarnya cukup menantang karena disetiap proses kelahiran itu menurut aku ada dua kelahiran, enggak hanya kelahiran bayi ke dunia, tapi seorang ibu baru juga dilahirkan," kata Anes.

Infografis Ciri-ciri Ibu Tumah Tangga Punya Masalah Kesehatan Mental

Infografis Ciri-ciri Ibu rumah tangga Punya Masalah Kesehatan Mental.
Infografis Ciri-ciri Ibu rumah tangga Punya Masalah Kesehatan Mental.
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel