Cerita Akhir Pekan: Main Gawai Saat Liburan Sekolah, Perlukah Pembatasan?

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta - Liburan sekolah di masa pandemi Covid-19 membuat ruang gerak anak jadi lebih terbatas dan harus menghabiskan waktu di rumah saja. Salah satu kegiatan yang tak jarang dilakukan untuk mengisi liburan, yakni penggunaan gawai, baik untuk bermain dan juga menonton.

Psikolog klinis anak, remaja dan keluarga, Roslina Verauli menyampaikan, saat berlibur, anak butuh memiliki kegiatan yang berbeda dari kegiatan rutin biasanya. Liburan bermanfaat, jika anak dan remaja juga punya andil dalam menentukan ingin berkegiatan seperti apa.

"Sayangnya, anak belum mampu mengendalikan diri, belum paham kegiatan-kegiatan tertentu yang berlebihan dampaknya buruk ke mereka, salah satunya bermain gadget," kata Vera saat dihubungi Liputan6.com, Rabu, 30 Juni 2021.

Dari penelitian Vera dan tiga rekannya di masa pandemi pada 2020, salah satu yang dikeluhkan adalah meningkatnya penggunaan gadget oleh anak, tak hanya untuk games, tetapi ada pula yang melihat situs porno di usia anak. Penelitian ini melibatkan 519 keluarga di seluruh wilayah di Indonesia, terutama di beberapa kota besar.

"Anak selama liburan perlu punya kegiatan berlibur, kegiatan yang berbeda, agar kegiatan ini positif terhadap perkembangan psikososial anak, termasuk aspek fisik," lanjutnya.

Dikatakan Vera, bermain aktif untuk anak di usia sekolah dan remaja, contohnya adalah kegiatan olahraga di sebagian besar waktu bermain. "Mumpung liburan, anak mengembangkan minat dan hobi, agar pilihan bermain anak bermakna untuk dirinya, menjadikan dirinya berkembang sehingga dia siap nanti kembali ke sekolah dengan semangat yang baru," jelas Vera.

Namun di sisi lain, ada pula anak-anak yang preoccupied dengan gawai. Vera menyebut, asosiasi dokter anak di Amerika Serikat membatasi pemakaian gawai di usia anak enam tahun ke bawah hanya satu jam per hari. Untuk usia sekolah, penggunaan gawai maksimal 1--2 jam.

"Jadi, tidak boleh lebih dari itu, karena ada impact-nya, baik secara fisik, keluhan yang paling banyak ke dokter mata terkait mata kering, gangguan jauh dan dekat, postur tubuh anak bermasalah, sampai tidak dapat cukup sinar matahari karena selalu di rumah," tambahnya soal dampak pemakaian gawai berlebihan.

Tujuan Penggunaan Gawai

Ilustrasi anak main gawai. (dok. Pixabay.com/StockSnap)
Ilustrasi anak main gawai. (dok. Pixabay.com/StockSnap)

Menurut Vera, sering kali anak-anak menjadikan gawai sebagai pelarian dari masalah psikososial mereka sehari-hari. Misalnya, anak merasa tidak kompeten di sekolah, punya masalah emosional seperti orangtua selalu sibuk, tidak dekat dalam relasi bersama orangtua, dan secara sosial tidak berkemampuan membina pertemanan yang asyik sehingga lari ke games.

"Apakah perlu dibatasi, sangat butuh dibatasi. Itu sebab, kalau penggunaan gadget pada anak, beda usia anak, beda tujuan penggunaan dan perlu ada tips-tips untuk orangtua di setiap usia tadi," ungkap Vera.

Ia menjelaskan, ketika orangtua sama sekali membatasi anak pada pemakaian gawai, akan membuat anak tidak mampu berfungsi secara adaptif. "Karena dunia berubah dalam pengertian melibatkan teknologi digital, teknologi komputer dan internet, jika anak tidak terbiasa dengan device-device multifungsi, sebetulnya mereka tidak adaptif secara optimal sesuai tahap usianya," tuturnya.

"Tujuan dari penggunaan gadget di setiap tahun (usia), tujuannya untuk belajar, sebagai proses learning. Tentu tidak semua belajar menggunakan gadget, ada banyak kegiatan practical yang dibutuhkan anak. Usia dua tahun pertama sebagai learning, 3--5 tahun tidak sekadar learning, tujuannya buat bermain," jelas Vera.

Memasuki usia sekolah, penggunaan gawai bukan hanya untuk belajar dan bermain, tetapi juga bagian dari bersosialisasi. "Jamnya untuk usia enam tahun ke bawah satu jam, di atasnya 1--2 jam, tidak boleh lebih dari itu," tegas Vera.

Pendampingan Orangtua

Ilustrasi Anak Bermain Gadget Credit: pexels.com/Julia
Ilustrasi Anak Bermain Gadget Credit: pexels.com/Julia

Cerita soal anak mengisi waktu libur sekolahnya datang dari seorang ibu yang berprofesi sebagai wirausaha, Ayu Windasari. Meski putranya yang kini berusia empat tahun disebutnya bukan tipe anak yang suka bermain gawai, namun pembatasan penggunaan gawai tetap ia lakukan.

"Tetap aku batasi, kadang ada film-film tertentu yang dia senang nonton. Kalau pas sibuk, aku kasih handphone, tapi kalau dia minta handphone itu enggak," kata Winda kepada Liputan6.com, Sabtu, 3 Juli 2021.

Ia menyebut, pembatasan penggunaan gawai setidaknya 10 menit dan tidak intens. Tayangan-tayangan juga ia atur agar tidak ada yang berisi konten kekerasan atau pornografi.

"Cara membatasinya, diajak main. Kita lebih capek ajak dia main apapun yang dia lagi senang, semakin kita bisa menjadwalkan dia untuk bermain dengan mainan baru, sebenarnya anak enggak ingat dengan gadget," tambahnya.

Winda menyebut, kini anak-anaknya tengah menyukai kerajinan, mulai dari menempel hingga mewarnai. "Intinya lagi tertarik sama hal-hal yang berbau tekstur. Kebetulan anak keduaku berusia dua tahun dan anak pertamaku empat tahun, sedang dalam fase yang lebih banyak explore mainan cair atau padat," jelas Winda.

Pendampingan pun selalu diberikannya dan suami ketika dalam proses bermain anak-anak. "Pasti didampingi, karena mereka belum bisa membuat sendiri dan belum bisa menjadwalkan mainannya sendiri," tambahnya.

Selama mengisi waktu liburan, ia banyak membeli buku untuk anak-anaknya. "Mereka lagi senang lihat gambar, dengar suara-suara. Aku bagi tugas, ayahnya bacakan cerita, kalau aku ngajak main di outdoor," tutupnya.

Cara Generasi 90-an Jalani Liburan Sekolah

Infografis Cara Generasi 90-an Jalani Liburan Sekolah. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis Cara Generasi 90-an Jalani Liburan Sekolah. (Liputan6.com/Abdillah)

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel