Cerita Akhir Pekan: Makanan Para Raja yang Turun Takhta

·Bacaan 5 menit

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia sudah lama dikenal punya kekayaan kuliner yang luar biasa. Kepulauan dari Sumatera sampai Papua yang dulunya bernama Nusantara, terdiri dari banyak kerajaan yang tersebar di berbagai wilayah. Kerajaan-kerajaan tersebut memiliki beragam kekayaan, salah satunya adalah makanan khas yang menjadi favorit para raja.

Bahkan ada beberapa kuliner yang khusus disajikan saat acara-acara tertentu, sehingga dianggap penting dan sakral. Namun seiring dengan perkembangan zaman, kuliner kerajaan kini sudah bisa dinikmati oleh masyarakat luas. .

Dilansir dari beragam sumber, berikut empat dari sejumlah makanan yang dulu hanya disantap para raja dan keluarganya.

1. Gudeg Manggar

Kuliner khas Yogyakarta, Gudeg, biasanya dibuat dari buah nangka yang dimasak dengan rasa manis disertai dengan beberapa lauk bacem, seperti tempe, tahu, telur, ayam dan sambel krecek.Namun ada satu jenis gudeg yang langka atau jarang dijual, yakni gudeg manggar.

Beda dari gudeg pada umumnya, gudeg manggar terbuat dari bunga buah pohon kelapa (dalam bahasa Jawa disebut manggar). Biasanya penyajian gudeg ini akan dilengkapi dengan lauk seperti sambal krecek, tahu dan telur bebek bacem.Gudeg ini telah dikenal sejak masa Kerajaan Mataram pada abad ke-16.

Kabarnya, gudeg manggar jadi makanan favorit dan diciptakan oleh Putri Pembayun, putri dari Panembahan Senopati, raja Mataram Islam saat itu. Menurut legenda, siapapun yang memakan gudeg manggar konon akan dikelilingi oleh aura keraton.

2. Bistik Glantin

Bistik Galantin adalah kuliner Belanda tempo dulu yang jadi menu khas di Keraton Surakarta. Bistik ini termasuk salah satu makanan favorit para raja di Keraton Surakarta dan sering dihidangkan untuk menyambut tamu kerajaan.

Tampilan Bistik Galantin cukup mewah karena terdiri dari banyak komponen. Ada potongan daging cincang yang dicampur dengan roti dan telur, lalu ditambahkan potongan wortel, tomat, kentang goreng, telur dan kacang polong. Seporsi Bistik Galantin biasanya sudah bisa membuat kenyang.

3. Nasi Blawong

Nasi Blawong merupakan makanan khas Keraton Yogyakarta. Kuliner ini dianggap cukup sakral karena dulunya hanya disajikan ketika ada acara peringatan Tingalan Dalem atau ulang tahun Sultan Hamengkubuwono.

Nasi blawong terdiri dari nasi putih yang dimasak dengan beberapa jenis rempah dan setelah matang akan berubah warna menjadi merah. Di atasnya ditambahkan berbagai lauk seperti ayam goreng laos atau ayam bacem, daging lombok kethok, telur masak pindang dan peyek ikan teri.

4. Pali-pali

Di Kesultanan Ternate, dulu para sultan suka menyantap Pali-pali. Bentuknya sekilas mirip lontong. Bedanya adalah lontong dibungkus daun pisang, sedangkan pali-pali dibungkus daun lontar. Makanan ini khusus untuk para raja dan rakyat jelata tak diizinkan memakannya.

Makanan ini sudah jarang dijumpai karena tak sembarang orang Ternate bisa membuat Pali-pali. Dulu, pemasaknya harus diseleksi dan dipilih sendiri oleh sultan, dan akan ditugaskan secara turun-temurun untuk menyajikan ini.

Terkait Ajaran dan Kepercayaan

Manggar adalah putik dari bunga kelapa muda yang dipakai sebagai bahan utama pengganti nangka muda.
Manggar adalah putik dari bunga kelapa muda yang dipakai sebagai bahan utama pengganti nangka muda.

Selain itu, masih ada beberapa lagi makanan yang dulunya hanya boleh dikonsumsi para raja atau keluarganya. Menurut pakar kuliner Indonesia, Sisca Soewitomo, di dalam kisah "Kakawin Ramayana" disebutkan makanan seperti pindang, gulay, haseman, lawar, dan bekasem.

Makanan-makanan itu disajikan untuk para prajurit. Secara tidak langsung, makanan ini dianggap sebagai makanan kawula/kawulo (kaum di luar istana) makanan untuk rakyat yang jelas berbeda dengan makanan para raja atau "rajamangsa".

Yang termasuk rajamangsa para raja di Jawa antara lain disebutlah tuak siddhu, badawang, baning, wedus gunting, karung putih, karung pulih, karung mati ring gantungan, asu tugel, dan taluwah. Dibanding dengan makanan rakyat biasa tadi, nama-nama 'rajamangsa' memang kurang akrab di telinga.

"Walaupun bahan dasarnya bisa dikira-kira, namun tak diketahui wujud makanannya seperti apa. Bisa dibilang, makanan rakyat malah terus hidup dan lestari keberadaannya. Buktinya, hingga kini pindang, gulai, lawar, dan bekasem masih bisa kita santap," terang wanita yang akrab disapa Bu Sisca ini melalui pesan elektronik pada Liputan6.com, Sabtu, 24 April 2021.

Bu Sisca menambahkan, mengenai makanan para raja yang kemudian turun takhta dan bisa juga dinikmati rakyat jelata, biasanya terkait dengan dharma atau ajaran dalam tiap kepercayaan yang mereka anut. "Misalnya, dalam dharma caruban ada beberapa larangan atau pantangan dalam mengonsumsi makanan, berbanding terbalik dengan gambaran pada Kitab Negarakertagama. Ajaran-ajaran spiritual lah yang mempengaruhi tiap-tiap kerajaan," lanjutnya.

Bahan Sama, Pengolahan Beda

Ahli kuliner dan masakan, Sisca Soewitomo. (dok.Instagram @sisca.soewitomo/https://www.instagram.com/p/BswbpW7jCdm/Henry
Ahli kuliner dan masakan, Sisca Soewitomo. (dok.Instagram @sisca.soewitomo/https://www.instagram.com/p/BswbpW7jCdm/Henry

Menurut Bu Sisca, sekarang ini sudah tidak ada yang namanya makanan khusus para raja, karena sejak era Bung Karno, sudah tidak ada perbedaan kasta dalam bidang kuliner.

Sementara, menurut Chef Hugo yang suka mengamati kuliner tradisional, di zaman kerajaan memang ada beberapa makanan dan bahkan bahan makanan yang hanya boleh dikonsumsi para raja dan keluarganya dan terlarang untuk masyarakat umum. Misalnya, beras hitam yang di beberapa daerah tidak boleh dikonsumsi rakyat jelata.

Di Kerajaan Mataram dulu rakyat tidak boleh sembarang menanam tanaman utuk bahan makanan, karena ada beberapa bahan makanan yang hanya boleh dikonsumsi keluarga kerajaan.

"Kalau pun rakyat biasa boleh membuatnya, biasanya itu hanya untuk sesajen. Di masa Kerjaaan Majapahit misalnya, konon raja hanya makan nasi empat warna. Dulu juga ada tradisi di beberapa daerah, rakyat hanya boleh menanam tanaman yang sudah disetujui raja, dan sang raja akan berkeliling untuk memberkati bahan makanan di daerah kekuasaannya," terang Chef Hugo saat dihubungi Liputan6.com, Sabtu, 24 April 2021.

Pria yang juga seorang pengajar di Universitas Ciputra Surabaya ini menambahkan, yang paling membedakan antara makanan para raja dengan rakyat biasa sebenarnya adalah bahan-bahannya dan cara pengolahannya.

Filosofi Makanan

Sate Lilit, makanan khas Bali. (martha.diniyanti/Instagram)
Sate Lilit, makanan khas Bali. (martha.diniyanti/Instagram)

"Kalau menu makanan mungkin bisa ditiru atau bahkan sama, tapi yang beda itu bahan makanannya. Para raja atau bangsawan dari sejak dulu dan mungkin sampai saat ini, biasanya memilih bahan makanan yang terbaik dan tentunya harganya lebih mahal. Belum lagi pengolahannya, terkadang bumbu, peralatan dan cara memasaknya juga beda dengan masakan biasa," ungkap Chef Hugo.

"Setahu saya dulu di Keraton Madura itu, kalau keluarga raja mau makan daging, itu dagingnya harus digoreng dulu dan baru direbus untuk menghilangkan lemaknya. Belum lagi bumbu-bumbunya pasti dipilih yang terbaik. Jadi wajar kalau rasanya lebih enak meski nama makanannya sama dengan yang dimakan rakyat biasa," sambungnya.

Selain itu, kata Chef Hugo, tiap kerajaan punya filosofi sendiri termasuk dalam hal makanan. Di Bali misalnya, para raja kalau mau makan sate seperti sate lilit, jumlahnya harus sembilan karena disamakan dengan senjata dewa Hindu atau dewa Bima.

"Perbedaan lainnya, variasi makanan raja itu lebih banyak, tidak cuma ikan sama sayur kayak kita. Ada banyak menunya. Kebiasaannya juga beda, ada yang makan ayam tapi ayamnya tidak boleh dipotong harus dimasak utuh, dan harus ayam jago. Kebiasaan seperti itu ada yang sudah hilang tapi ada juga yang masih bertahan sampai sekarang ini," pungkas Chef Hugo.

Infografis Diplomasi Lewat Jalur Kuliner

Diplomasi Lewat Jalur Kuliner (Liputan6.com/Abdillah)
Diplomasi Lewat Jalur Kuliner (Liputan6.com/Abdillah)

Saksikan Video Pilihan Berikut: