Cerita Akhir Pekan: Mal vs Pasar Tradisional, Mana Lebih Aman?

Liputan6.com, Jakarta - Sekian banyak mal mulai kembalii beroperasi di sejumlah daerah sebagai adaptasi new normal. Mereka sudah mempersiapkan diri dengan tetap memerhatikan serangkaian protokol kesehatan.

Mal mewajibkan pengunjung menggunakan masker, di samping menyiapkan tempat cuci tangan, serta melakukan pengecekan suhu tubuh pengunjung. Pihaknya juga mempersiapkan petugas di setiap pintu dan mengimbau pengunjung menjalankan protokol kesehatan.

"Protokol ini wajib dijalankan dengan kedisiplinan, lho! Mulai dari pintu masuk, saat berada di dalam mall hingga keluar dari area mall," tulis akun Summarecon Mall Bekasi (SMB), Kamis, 18 Juni 2020.

Dalam video yang dibagikan melalui akun Instagram @summareconmal.bekasi, ada aturan yang harus diterapkan pada pengunjung, seperti scan QR code terlebih dahulu sebelum masuk ke mal menggunakan kamera pengunjung. Hal tersebut juga berlaku saat keluar dari mal.

Di samping itu, pengunjung harus menjaga jarak dengan pengunjung lain dan harus menggunakan masker saat berada di area mal. Aturan jaga jarak juga berlaku di dalam mal, termasuk di area makan maupun ibadah.

Protokol kesehatan juga diberlakukan bagi semua yang bekerja di Summarecon Mall Bekasi. Untuk keamanan dan kenyamanan, SMB juga melakukan pembersihan dan penyemprotan disinfektan secara rutin dan berkala, tak hanya di dalam mal, tapi juga area outdoor.

Selain membatasi jumlah pengunjung, pembayaran juga disarankan untuk melakukan secara nontunai.

Bagaimana dengan Pasar?

Ilustrasi – Suasana pasar tradisional Karangpucung, Cilacap, Jawa Tengah. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Seperti mal, pengunjung pasar sebenarnya juga harus disiplin menjalankan protokol kesehatan.

"Kedisiplinan menerapkan protokol kesehatan sangat penting agar tetap aman. Namun, hal itu tidak sepenuhnya dilakukan para pengunjung, seperti banyak yang tidak menggunakan masker," kata Wakil Ketua Umum Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI), Ngadiran, saat dihubungi Liputan6.com, Jumat, 19 Juni 2020.

"Lihat saja di pasar-pasar, banyak orang yang bandel tidak pakai masker," imbuhnya. 

Berbeda dengan mal, tempat-tempat para pedagang pasar berjualan pun saling berdekatan dan sempit. Begitu pun dengan ruas jalan antara pedagang satu dengan yang lain.

"Kalau mal kan ruangan-ruangannya segede gaban (sangat besar), kalau pasar sempit. Ya, apakah dengan kondisi itu, pasar harus dibongkar? Kan, tidak, karena kondisinya memang seperti itu," ucap Ngadiran.

Selain itu, jumlah pengurus pasar tidak sebanyak mal. Dengan begitu, tidak mudah untuk membatasi jumlah pengunjung pasar.

"Pintu masuk dan pintu keluar harus diatur dan dijaga, bukan hanya pengelola dan pedagang, tapi dari Pemda terkait, seperti Satpol PP dan satuan lain harus saling bekerja sama," ujar Ngadiran.

Dengan kondisi seperti itu, Ngadiran menolak pasar dijadikan kambing hitam sebagai lokasi tak aman akibat adanya kasus positif Covid-19. Bagi Ngadiran, transmisi virus corona baru bisa terjadi di mana saja, tak hanya pasar, tapi juga bisa di mal, rumah ibadah, dan tempat lain.

"Kan banyak mereka yang sudah menggunakan APD, masker, dan berada di tempat yang bersih, seperti dokter, tapi mereka positif Covid-19," tandas Ngadiran.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: