Cerita Akhir Pekan: Menjadi Wisatawan Sadar Diri di Masa Pandemi

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta - Momen liburan, apalagi masih di suasana llibur Lebaran seperti sekarang ini, selalu dinant untuk rehat dari kesibukan, baik itu bersama keluarga maupun kerabat. Meski pandemi Covid-19 belum berlalu, berbagai tempat wisata sudah banyak dikunjungi wisatawan.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, jumlah pengunjung tempat wisata mengalami kenaikan signifikan di masa pra lebaran, lebaran hingga pasca lebaran. Dilansir dari kanal Bisnis Liputan6.com, berdasarkan data Kemenko Perekonomian, kenaikan jumlah wisatawan di lokasi wisata mencapai angka 38,42 persen hingga 100,8 persen.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan, efek libur Lebaran akan mulai terlihat dua atau tiga minggu ke depan. Karena itu, dia berharap masyarakat tidak terlena dengan data kasus Covid-19 yang saat ini mengalami penurunan.

Meski begitu tak semua wisatawan mau dan disiplin mengikuti aturan dan protokol kesehatan. Bagi Ferdiansyah yang tinggal di Jakarta, ia lebih memilih liburan di dalam kota atau yang lokasinya tak jauh dari Jakarta. Tahun ini, Ferdi memilih menginap selama beberapa hari di sebuah vila di kawasan Puncak, Bogor, bersama keluarganya.

"Saya lebih pilih menginap bersama keluarga di villa karena kita bisa mengatur sendiri kebutuhan kita dan yang terpenting bisa menjalankan protokol kesehatan, karena naik mobil sendiri bersama keluarga," ujar Ferdi pada Liputan6.com, Jumat, 21 Mei 2021.

Ia menambahkan, tipe akomodasi seperti vila bisa menampung seluruh anggota keluarga dan ketersediaan area serbaguna, seperti ruang keluarga, ruang makan, dapur, dan kolam renang, yang dapat digunakan secara privat. Ia juga tidak perlu khawatir harus menghindari kontak fisik dengan tamu-tamu lainnya. Adanya fasilitas pribadi tersebut juga dinilai lebih higienis, karena dapat berbelanja dan memasak sendiri di dapur villa.

Hal berbeda dijalani Rangga, karyawan swasta yang juga tinggal di Jakarta. Ia memilih berwisata ke pantai di Ancol bersama keluarganya. Meski kondisinya cukup ramai, Rangga mengaku tidak khawatir karena hanya duduk santai di tepi pantai dan tetap memakai masker.

"Ya terkadang kita lepas masker juga biar bisa merasakan udara pantai, maklum aja selama ini kan lebih banyak tinggal di rumah. Suasananya memang ramai, tapi wajar aja sih kita juga sudah sering ke Ancol dan biasanya selalu ramai. Memang agak susah jaga jarak, tapi kita duduk-dudu aja dan nggak berenang," tutur Rangga, Jumat, 21 Mei 2021.

Sikap Wisatawan

Pengunjung bermain di Pantai Karnaval Ancol, Jakarta, Jumat (14/5/2021). Pemprov DKI Jakarta pada libur Lebaran 2021 membuka sejumlah tempat wisata, salah satunya Ancol. (Liputan6.com/Johan Tallo)
Pengunjung bermain di Pantai Karnaval Ancol, Jakarta, Jumat (14/5/2021). Pemprov DKI Jakarta pada libur Lebaran 2021 membuka sejumlah tempat wisata, salah satunya Ancol. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Apa yang membuat tiap orang berbeda sikap menghadapi aturan seperti protokol kesehatan di tempat umum, termasuk di tempat wisata?Menurut Maharani Ardi Putri, psikolog dari Universitas Pancasila Jakarta, ada empat faktor utama yang menyebabkan sikap seseorang berbeda terhadap aturan.

Yang pertama, pendidikan dalam keluarga. Aturan/ pendidikan maupun nilai-nilai yang kita pelajari dalam rumah/ dari orangtua akan membentuk perilaku kita. Kalau kita disiplin mengikuti aturan yang dibiasakan oleh orangtua, maka mematuhi aturan di luar rumah pun tidak akan menjadi masalah.

Yang kedua faktor lingkungan. Kalau lingkungan disekitarnya mendukung perbuatan yang melanggar disiplin atau menggampangkan aturan maka bagi mereka yang kurang memiliki kontrol diri internal (dalam diri) akan cukup mudah terpengaruh dan akhirnya melakukan konformitas dengan kelompoknya.

Yang ketiga faktor pengetahuan. Di masa pandemi ini, masih ada kecenderungan untuk membaca berita secara sekilas dan kurang mampunya seseorang membedakan berita hoaks dan berita benar. Dampaknya, banyak orang mendapatkan informasi yang salah atau kurang tepat dan akhirnya bertindak atas informasi tersebut.

Yang keempat adalah false belief/ atau keyakinan yang salah. Hal itu terkadang membuat seseorang terlalu cepat/percaya diri dalam mengambil keputusan. Misalnya karena sudah divaksin maka bebas Covid-19, sehingga menjadi tidak waspada lagi. Atau menganggap dirinya kebal Covid-19 karena rajin berjemur atau mengonsumsi minuman herbal.

Untuk membuat seseorang bisa patuh atau ikut aturan protokol kesehatan sehingga menjadi wisatawan yang sadar diri, ada beberapa langkah yang bisa diambil.

Tegas Melaksanakan Protokol Kesehatan

Calon pengunjung melintas di depan gerbang utama kawasan Kebun Binatang Ragunan, Jakarta, Minggu (16/5/2021). Sejumlah kawasan wisata di DKI Jakarta ditutup sementara untuk umum hingga 18 Mei 2021 untuk pemberlakukan penguatan protokol kesehatan COVID-19. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)
Calon pengunjung melintas di depan gerbang utama kawasan Kebun Binatang Ragunan, Jakarta, Minggu (16/5/2021). Sejumlah kawasan wisata di DKI Jakarta ditutup sementara untuk umum hingga 18 Mei 2021 untuk pemberlakukan penguatan protokol kesehatan COVID-19. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

"Penguatan dan penegakkan sistem aturan. Sebaiknya pengelola memang tegas melaksanakan protokol kesehatan di tempat wisata. Namun masih banyak tempat wisata yang sepertinya belum memiliki urgensi untuk mengetatkan pengawasan, sehingga cenderung pengunjung akan melanggar," terang Putri pada Liputan6.com, Sabtu, 22 Mei 2021.

Selain itu, bisa dengan melengkapi fasilitas, misalnya dengan menyiapkan tempat duduk berjarak, tempat cuci tangan di sejumlah titik, menyediakan masker bagi pengunjung yang tidak memakai masker, sehingga tidak ada alasan tidak memakai masker. "Bisa juga dengan sosialisasi yang berkelanjutan, sampai pengunjung benar-benar aware dengan peraturan yang berjalan," terang Putri.

Ia menambahkan, tidak ada korelasi penuhnya tempat wisata dengan terhadap kebijakan larangan mudik Lebaran karena merupakan dua hal yang berbeda.

"Masyarakat kita memang senang berkumpul, karena memang sudah bagian dari budaya. Oleh karena itu masyarakat akan cenderung pergi ke tempat yang menurut mereka akan ramai dikunjungi. Selain itu kebutuhan untuk melepas penat atau stres juga cukup kuat karena di rumah terus menerus dalam waktu lama, sehingga apabila ada kesempatan pergi maka akan digunakan," pungkasnya.

Ancaman Klaster Covid-19 di Lokasi Wisata

Infografis Ancaman Klaster Covid-19 di Lokasi Wisata. (Liputan6.com/Trieyasni)
Infografis Ancaman Klaster Covid-19 di Lokasi Wisata. (Liputan6.com/Trieyasni)

Saksikan Video Pilihan Berikut: