Cerita Akhir Pekan: Pelajaran Mahal Akibat Masalah Rasial, dari Tulsa sampai George Floyd

Liputan6.com, Jakarta - Rasisme atau sikap rasis terhadap warga kulit hitam kembali mengemuka di Amerika Serikat (AS). Kematian George Floyd pada 25 Mei 2020 memicu protes luas di seluruh AS, dinyatakan sebagai tindak pembunuhan, merujuk pada hasil autopsi resmi.

Pria berkulit hitam itu menderita serangan jantung ketika ditahan oleh polisi Minneapolis. Sebuah video memperlihatkan, seorang perwira polisi kulit putih terus “berlutut” di leher Floyd, bahkan setelah dia mengatakan bahwa dia “tidak bisa bernapas”.

Kejadian tersebut lantas memicu kembali kemarahan yang mendalam terhadap pembunuhan polisi terhadap orang kulit hitam Amerika, yang disebut sebagai tragedi rasial. Peristiwa itu juga dianggap sebagai salah satu kekacauan sipil dan rasial terburuk dalam tempo puluhan tahun terakhir.

Protes berujung kerusuhan dengan isu rasial ini bukan yang pertama terjadi di Negeri Paman Sam tersebut. Dilansir dari VOA. listverse dan beragam sumber lainnya, ada sejumlah peristiwa dan kerusuhan karena isu rasial atau rasisme yang memakan banyak korban.

Tulsa (1921)

Pada 1921, AS diguncang kerusuhan rasial terburuk dalam sejarah. Kerusuhan dipicu karena pengakuan seorang wanita kulit putih yang berprofesi sebagai operator lift mengaku telah dilecehkan seorang pria kulit hitam.  Secara keseluruhan, 35 blok kota hancur oleh kebakaran, menyisakan 10.000 tunawisma dan perkiraan kerugian hingga puluhan juta dolar AS.

Tidak diketahui secara pasti berapa korban jiwa dalam peristiwa yang disebut dengan Tulsa Race Massacre atau Tulsa Riot ini. Baru pada 2001, diperkirakan ada sekitar 150-300 korban jiwa, setelah sebelumnya diyakini hanya ada 39 korban jiwa.

Marquette Frye (1965)

Kerusuhan rasial pertama kali di AS terjadi pada 1965. Kerusuhan ini dimulai ketika Marquette Frye dan saudara tirinya dihentikan polisi dan dibawa untuk menjawab beberapa pertanyaan. Beberapa ribu orang kulit hitam dikabarkan mengelilingi kantor polisi pada saat itu.

Selain itu, terjadi pembakaran dan penjarahan selama satu pekan, lalu setelahnya, lingkungan Watts menjadi hancur. Kejadian tersebut menewaskan 34 orang dan mengakibatkan kerusakan senilai puluhan juta dolar.

Newark (1967)

Kerusuhan selanjutnya adalah yang terjadi pada 12-17 Juli 1967 di Newark, negara bagian New Jersey. Kejadian ini disebabkan dua petugas polisi berkulit putih menangkap dan memukuli seorang pengemudi taksi berkulit hitam karena pelanggaran lalu lintas kecil.

Kerusuhan rasial tersebut terjadi selama lima hari, di tengah panasnya musim panas. Akibat kejadian tersebut, jatuh korban jiwa sebanyak 26 orang serta melukai 1.500 lainnya.

Martin Luther King, Jr (1968)

Martin Luther King berdiri bersama para pemimpin hak-hak sipil lainnya di balkon Lorraine Motel di Memphis, Tennessee, 3 April 1968. Sebelum dibunuh, King menggalang kampanye untuk memperjuangkan kesetaraan ekonomi. (AP Photo/Charles Kelly, File)

Martin Luther King Jr. merupakan seorang pendeta dan aktivis anti rasialisme yang sangat populer di dunia. Ia merupakan salah satu tokoh yang meraih nobel perdamaian pada 1963.King dikenal karena jasanya berjuang melawan diskriminasi rasial tanpa kekerasan.

Namun saat ia tewas tertembak di Tennessee pada 4 April 1968, terjadi kerusuhan besar selama seminggu. Kekerasan meletus di 125 kota pada 4-11 April 1968. Hal itu menyebabkan setidaknya 46 orang tewas dan 2.600 lainnya cedera. Di Washington, Presiden Lyndon B. Johnson saat itu mengirim Divisi Lintas Udara ke-82 untuk meredam kerusuhan.

Miami (1980)

Tragedi kembali terjadi pada 1980. Pembebasan empat petugas polisi kulit putih di Tampa, Florida, memicu gelombang kekerasan di Kota Liberty, Miami pada 17-20 Mei 1980. Kerusuhan itu menyebabkan 18 orang tewas dan lebih dari 300 orang lainnya terluka. Tragedi ini bermula saat empat petugas polisi berkulit putih itu dituduh memukuli seorang pengendara sepeda motor berkulit hitam hingga tewas pada Desember 1979.

Rodney King (1992)

Nama Rodney King menjadi terkenal di dunia setelah dia dan sejumlah temannya ditangkap oleh polisi Los Angeles, pada 3 Maret 1991, setelah terjadi kejar-kejaran. King dipukul dengan menggunakan tongkat polisi dan terekam oleh seorang saksi. Video tersebut kemudian memicu perdebatan di tingkat nasional terkait kebrutalan polisi dan aksi rasisme.

Para polisi yang melakukan aksi pemukulan tersebut sempat ditahan tapi kemudian dibebaskan dari tuduhan tindakan brutal setahun kemudian. Akibatnya, sejumlah kerusuhan terjadi di Los Angeles hingga menewaskan 53 orang, sedikitnya 2.000 orang terluka, dan menimbulkan kerugian sebanyak 1 miliar dolar AS.

Selama kerusuhan itu terjadi, King menjadi terkenal di siaran televisi karena dengan tenang mengatakan, "Bisakah kita semua mengatasi hal ini bersama?". Dua orang polisi yang terbukti memukul King kemudian dijatuhi hukuman penjara atas tindak kejahatan yang melanggar hak asasi manusia terhadap King.Rodney King sendiri ditemukan tewas tenggelam di kolam renang di rumahnya pada 17 Juni 2012.

Timothy Thomas (2001)

Pelajaran Mahal Akibat Masalah Rasial, dari Tulsa sampai George Floyd. (dok.Instagram @bettybbunderwar/https://www.instagram.com/p/CBET3gHqFnj/Henry)

Satu dekade setelah tragedi Rodney King, peristiwa rasisme kembali terulang, tepatnya pada April 2001. Meski tidak memakan korban jiwa, peristiwa ini tetap menjadi catatan kelam dalam sejarah AS.

Kali ini terjadi di Cincinnati, Ohio, setelah pembunuhan seorang pria kulit hitam berusia 19 tahun, Timothy Thomas, oleh seorang polisi kulit putih. Kejadian tersebut dikatakan sebagai yang terburuk di kota itu dalam lebih dari 30 tahun, di mana 70 orang terluka.

Michael Brown (2014)

Pada 9 -19 Agustus 2014, aksi demonstrasi dan kerusuhan pernah terjadi selama 10 hari. Peristiwa itu dipicu oleh pembunuhan seorang remaja berkulit hitam yang tidak bersenjata, Michael Brown, oleh seorang perwira kulit putih. Pada akhir November 2014, polisi tersebut didakwa bersalah sehingga menyebabkan ledakan kemarahan baru.

Freddie Gray (2015)

Setahun setelah peristiwa Michael Brown, pada 19 April 2015, tragedi kembali menimpa seorang pria kulit hitam. Kali ini dialami Freddie Gray. Pria berusia 25 tahun itu meninggal seminggu usai menderita cedera tulang belakang yang serius di sebuah van polisi setelah ditangkap oleh petugas Baltimore.

Pada saat itu, penangkapan tersebut beredar dalam bentuk rekaman video dan disiarkan, yang menyebabkan kerusuhan dan penjarahan di Baltimore. Kejadian itu memicu kerusuhan dan keadaan darurat lalu diumumkan, dan pihak berwenang terkait kerusuhan tersebut.

Tak Hanya di AS

Demonstran memegang plakat saat memprotes kematian George Floyd di pusat Auckland, Selandia Baru, Senin (1/6/2020). Kematian pria kulit hitam George Floyd saat ditangkap oleh polisi Amerika Serikat memicu kemarahan di sejumlah negara. (Dean Purcell/New Zealand Herald via AP)

Lima tahun setelah tragedi Freddie Gray, kerusuhan rasial kembali terjadi di AS. Di tengah pandemi corona Covid-19, aksi protes sudah berlangsung selama lebih dari seminggu dan masih terus berlangsung.

Ribuan warga New York berkumpul dalam sebuah upacara untuk menghormati hidup George Floyd pada 4 Juni 2020.Sang adik, Terrence Floyd, bergabung dengan sekitar 5.000 orang di Cadman Plaza Brooklyn. Dengan mengenakan kaus bergambar George Floyd, warga Brooklyn itu berterima kasih kepada warga New York karena telah menunjukkan cinta mereka kepada kakaknya.

Dia menyatakan bangga dengan aksi protes, namun tidak dengan aksi perusakan, merujuk pada kerusuhan dan penjarahan yang muncul di tengah demonstrasi itu.  "Kakakku tidak seperti itu," tegas dia. Tentunya kita semua berharap aksi perusakan tidak akan berlanjut, namun peristiwa rasisme tentunya diharapkan tidak akan terjadi lagi.

Tak hanya di AS, kerusuhan rasial juga terjadi di belahan dunia lainnya. Ada banyak kejadian yang juga berujung dengan kerusuhan seperti di AS. Mulai dari Afrika, Asia, termasuk Indonesia, Eropa, Australia dan Amerika. Seperti kasus George Floyd, kita berharap ini semua jadi pelajaran mahal bagi semua umat manusia. Kita berharap peristiwa-peristiwa seperti itu tak akan terjadi lagi karena pada akhirnya sikap rasisme hanya akan menyebabkan rentetan peristiwa tidak menyenangkan.

Saksikan video pilihan di bawah ini: