Cerita Akhir Pekan: Peluang Desa Wisata Berkembang di Tahun 2022

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta - Sepanjang 2021, pesona desa wisata dari berbagai wilayah di Indonesia terus disebarluaskan. Nama-nama desa wisata yang sebelumnya kurang terdengar sekarang mulai muncul ke permukaan, menjelma jadi pilihan wisata autentik nan menarik.

Sugeng Handoko, pengelola Desa Wisata Nglanggeran, menyebut kunjungan ke desa wisata yang baru saja dinobatkan sebagai Desa Wisata Terbaik 2021 oleh UNWTO ini berangsur membaik pada 2021 dibandingkan 2020. Sementara, Mariani, ketua Badan Pengelola Desa Wisata (BP Dewi), mengatakan angka kunjungan ke Desa Wisata Tetebatu belum menunjukkan grafik peningkatan secara signifikan.

Di sisi lain, ketua Pokdarwis Bonjeruk Permai, Usman, menjabarkan kunjungan ke Desa Wisata Bonjeruk sepanjang 2021 didominasi wisatawan lokal sejumlah 95 persen dan lima persen dari wisatawan nusantara (wisnus).

"Fokus kunjungan ke tempat kuliner Pasar Bambu dan Kantin 21, juga beberapa karena acara-acara dan penyewaan sepeda dengan angka total per 2021: 8,2 ribu (pengunjung)," paparnya melalui pesan pada Liputan6.com, Jumat, 31 Desember 2021.

Berdasarkan survei terbaru dari raksasa teknologi perjalanan Amadeus, dilansir City Nomads, turis akan menyasar desa-desa sebagai tujuan perjalanan sebagai implementasi wisata berkelanjutan. Menerima "bola lambung" tren dunia, Usman menanggapinya dengan menyatakan itu sangat berkaitan dengan sarana dan prasarana wisata yang memberikan layanan.

Ia mencontohkannya dengan "ramah anak, ramah disabilitas, ramah lingkungan dan kesehatan, budaya sebagai penguat, membangun kreativitas SDM sebagai andalan wisata, bekerja bersama masyarakat, serta promosi yang terukur." "Kami akan fokus ke hal-hal ini, sehingga tren (pariwisata) dunia bisa ditangkap," imbuhnya.

Terkait menjaga tren kunjungan di situasi serba tidak pasti mengingat pandemi masih berlangsung, Sugeng menuturkan, pihaknya mengandalkan implementasi sertifikasi Cleanliness (Kebersihan), Health (Kesehatan), Safety (Keamanan), dan Environment (Ramah lingkungan) (CHSE), meyakinkan penerapan protokol kesehatan dilakukan dengan baik, serta mengembangkan wellness tourism.

"Wellness tourism yang kami kembangkan menyajikan kuliner wedang empon-empon, spa dengan rempah-rempah, relaksasi, dan meditasi di alam," urainya melalui pesan, Kamis, 30 Desember 2021.

Gagasan serupa juga dihadirkan Desa Wisata Bonjeruk, yang berlokasi di Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). Mereka secara lebih luas memetakan wilayah dalam cakupan kecil dan mendata potensi yang ada, lalu dikembangkan. "Inilah yang disebut localized tour, jadi pergerakan wisatawan lebih mudah dikontrol," tuturnya.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Ada Apa Saja di Desa Wisata pada 2022?

Desa Tetebatu, Masbagik, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). (dok. Instagram @canafotografia/https://www.instagram.com/p/B5ZAa4fAB8_/)
Desa Tetebatu, Masbagik, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat (NTB). (dok. Instagram @canafotografia/https://www.instagram.com/p/B5ZAa4fAB8_/)

Usman menyambung, pihaknya menyiapkan rencana 2022--2025 dengan unggulan produk wisata bernilai sejarah dan budaya melalui berbagai kalender acara. Ini termasuk agro edu tourism mencakup tanaman hias, tanaman organik, apotek hidup, dan pengolahannya yang prosesnya sekarang sudah 70 persen, produk kuliner dan UMKM yang sudah 90 persen, dan wisata edukasi bambu yang sudah 50 persen.

Tahun depan, Desa Wisata Nglanggeran menyiapkan paket studi banding yang semakin beragam dan komplet. Itu menyusul tren kunjungan studi banding ke desa wisata di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta ini setelah dinobatkan sebagai Desa Wisata Terbaik 2021 oleh UNWTO.

Ada juga wisata edukasi untuk segmen pelajar, baik TK, SD, SMP, dan SMA. Sugeng menjabarkan, "Wisata edukasi yang kami tawarkan antara lain edukasi budi pekerti atau unggah-ungguh, edukasi pertanian, peternakan, kesenian, dan pengolahan cokelat."

Ia menyambung, inovasi terbaru mereka selama pandemi adalah pengembangan kawasan Kedung Kandang Glamping, sehingga pelancong bisa staycation di desa wisata.

Sementara tahun depan, Desa Wisata Tetabatu, yang berlokasi di Kecamatan Sikur, Lombok Timur, NTB, tidak semata mengandalkan lanskap alamnya yang menawan. Mariani mengatakan, Tetebatu mulai membenahi konservasi budaya dan nilai luhur untuk menarik wisatawan.

"Tradisi dan nilai budaya lokal yang telah mengakar lama direvitalisasi kembali sebagai kekayaan wisata budaya. Misalnya kami punya tradisi, jika ada yang menikah, mereka harus menanam satu pohon," katanya lewat pesan, Rabu, 29 Desember 2021.

Sedangkan soal fasilitas, pihaknya terus mengkaji detail dengan pihak terkait dan stakeholder terkait apa saja yang benar-benar dibutuhkan untuk mendukung pengembangan pariwisata berkelanjutan. Ia berkata, "Intinya jangan asal bangun fasilitas, tapi enggak bermanfaat dan memang tidak dibutuhkan."

Menjaga Keseimbangan Peran Desa Wisata

Beragam jajanan pasar yang dijual di Pasar Bambu, Desa Wisata Bonjeruk, Lombok Tengah. (dok. Biro Komunikasi Publik Kemenparekraf)
Beragam jajanan pasar yang dijual di Pasar Bambu, Desa Wisata Bonjeruk, Lombok Tengah. (dok. Biro Komunikasi Publik Kemenparekraf)

Yang tidak boleh dilupakan, desa wisata tidak semata destinasi melancong, namun juga rumah bagi warga lokal. Menjaga keseimbangan peran-peran ini, disebut Mariani, merupakan yang paling dekat dengan konsep pengembangan pariwisata berkelanjutan, yang mana semua pihak merasakan dan terlibat, kemudian merasakan dampak secara berkelanjutan.

Sedangkan, Sugeng menanggapi dua peran itu sejatinya bisa saling menguatkan, asalkan seimbang dan punya tata kelola yang baik. Ia mengatakan, "Tidak bisa desa wisata terlalu 'dipaksa' jadi 'industrialisasi pariwisata.'"

"Jadi, harus ada batasan-batasannya, harus bisa bilang 'cukup.' Kami memiliki konsep pariwisata untuk silaturahmi dan persaudaraan, sehingga cita-cita kami bisa mewujudkan 'Desa Wisata, Berwisata untuk Bersaudara,'" imbuhnya.

Mariani mencatat, membangun pariwisata di era revolusi Industri 4.0 ini perlu dilakukan dengan pendekatan lebih progresif. Salah satunya dengan menanamkan cara pikir kolaboratif. "Jadi, tidak ada kata 'aku,' tapi 'kita semua,'" ucapnya.

"Lebih dari itu, kami belajar dari kegagalan memenangkan (Desa Wisata Terbaik 2021) UNWTO, agar pengembangan pariwisata fokus pada dampak yang benar-benar berkelanjutan dan memiliki daya dukung terhadap konservasi sumber daya alam, sumber daya budaya, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia pariwisata, sehingga peningkatan kesejahteraan melalui sektor ini bisa lebih dekat," ia menambahkan.

Yang lebih penting, Mariani mengatakan, jangan membangun pariwisata dengan instan, hindari seremoni yang tidak berkontribusi kuat untuk mengelola sektor pariwisata, serta kontribusinya pun harus punya ukuran. Ia menyebut, "Jangan terpaksa dikait-kaitkan, padahal tak berkaitan langsung."

Sugeng menilai banyak pihak yang sebenarnya bisa membantu pengembangan desa wisata sesuai porsi dan fungsi masing-masing, baik pemerintah, akademisi, bisnis, komunitas, maupun media. "Jadi, yuk kolaborasi untuk desa wisata lebih baik lagi," tutupnya.

Infografis 4 Unsur Wisata Berkelanjutan

Infografis: 4 Unsur Wisata Ramah Lingkungan atau Berkelanjutan
Infografis: 4 Unsur Wisata Ramah Lingkungan atau Berkelanjutan
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel