Cerita Akhir Pekan: Praktik Sehari-hari dan Konsistensi, Kunci Pelestarian Budaya Indonesia

·Bacaan 8 menit

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia tak hanya memiliki banyak suku, tapi juga beragam budaya. Keanekaragaman budaya ini telah diwariskan secara turun-temurun oleh nenek moyang bangsa Indonesia. Keberagaman budaya menjadi identitas yang berharga untuk bangsa Indonesia. Keragaman budaya juga mampu memelihara kesatuan dan persatuan bangsa.Oleh karena itu, kita sebagai masyarakat harus terus menghargai dan melestarikan budaya bangsa.

Salah satu cara yang dilakukan untuk melestarikannya adalah dengan mempelajari nilai dan makna-makna budaya Indonesia serta mengajarkannya atau menyampaikannya kepada anak-anak sejak masih dini, karena mereka adalah generasi yang akan menjadi penerus bangsa yang akan memimpin negeri kita tercinta ini.

Budaya dan seni biasanya sudah diperkenalkan pada anak-anak sejak mereka masuk Sekolah Dasar (SD). Bisa menjadi bagian dari mata pelajaran atau kegiatan eksta kurikuler di sekolah.

Berbagai usaha pun dilakukan Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek). Selain melalui pengajaran di sekolah, pemanfaatan media komunikasi maupun internet juga bisa digunakan untuk lebih memperkenalkan kebudayaan Indonesia pada generasi muda.

Menurut Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), Hilmar Farid, kata kuncinya adalaj akses dan relevansi. "Kita perlu membuka akses bagi masyarakat luas, baik itu komunitas atau keluarga, untuk mengikuti perkembangan budaya di Indonesia," terangnya lewat pesan pada Liputan6.com, Jumat, 19 November 2021.

"Di satuan pendidikan, Dirjen PAUD Dasmen dan Dirjen Dikti tentu punya program tersendiri. Kalau kita di Ditjen Kebudayaan membuat kanal budaya indonesiana.tv. Ini sebagai bagian dari multichannel platform Kanal Budaya Indonesiana yang memublikasikan pengetahuan dan informasi publik dalam bentuk tayangan audio-visual," sambungnya.

Beragam budaya yang hidup di Indonesia mendapat kesempatan untuk hadir di kanal yang dikelola oleh Ditjen Kemendikbudristek itu."Soal relevansi, kita terus membuat perpaduan antara tradisi dengan ekspresi seni/budaya ygan modern atau kontemporer," ucap Hilmar. Ia menambahkan, pihaknya juga mengadakan beragam event seperti Pekan Kebudayaan Nasional (PKN), program Presisi, Seniman Masuk Sekolah, Seniman Mengajar, dan masih banyak lagi.

Yang terbaru adalah PKN yang baru saja dibuka oleh Presiden Jokowi dan Mendikbudristek Nadiem Makarim pada Jumat, 19 November 2021 dan akan berlangsung sampai 26 November 2021. PKN tahun ini dilaksanakan kembali secara virtual karena pandemi Covid-19 belum usai. Selain budayawan, aktor film, sutradara, pelaku seni, dan seniman yang tampil, ada pula sederetan musisi band dan penyanyi ternama kegiatan akbar setahun sekali itu.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Memperkuat Pelajaran Mulok

Ilustrasi kamus
Ilustrasi kamus

Sementara itu, pengamat pendidikan yang juga Koordinator Nasional Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Satriwan Salim mengatakan, setidaknya ada beberapa strategi yang bisa dilakukan untuk melestarikan seni dan budaya lewat pendidikan formal, seperti melalui pembuatan kebijakan.

"Pemerintah dalam hal ini Kemendikbud pernah membuat aturan tentang kebudayaan di tahun 2015, yaitu bagaimana cara agar para guru, siswa dan warga sekolah bisa menanamkan nilai-nilai luhur budaya bangsa dalam bingkai karakter kebangsaan," ujar Satriwan pada Liputan6.com, Jumat, 19 November 2021. Meski sudah ada aturannya, Satriwan mengusulkan agar Kemendikbudristek dan Kementerian Agama (Kemenag) membuat atau memperkuat regulasi agar nilai-nilai budaya seperti permainan tradisional misalnya bisa dipraktekkan di sekolah.

"Selama ini wadah aktualisasi nilai-nilai luhur budaya seperti bahasa atau lagu daerah tercover di mata pelajaran Mulok (muatan lokal), tapi Mulok ini kenyataannya jadi mata pelajaran yang terpinggirkan alias anak tiri. Pengajarnya pun bisa berasal dari latar belakang apa pun atau tidak ada syarat profesionalismenya, nah ini kan jadi masalah juga," kata Satriwan.

"Kalau negara memang ingin melestarikan dan mewarisi nilai-nilai budaya seperti bahasa daerah melalui pendidikan, mestinya mata pelajaran Mulok ini menjadi penting. Jadi harus ada persyaratan khusus untuk bisa menjadi pengajar Mulok ini," lanjutnya.

Ia pun berharap, pemerintah bisa membuat peraturan yang memperkuat mata pelajaran Mulok yang fungsinya sangat mulia karena untuk melestarikan dan menjaga budaya, kesenian atau peradaban bangsa Indonesia. Caranya, bisa dengan membuat kebijakan tentang budaya sekolah. Misalnya, di hari-hari tertentu, wajib mengenakan pakaian atau bahasa daerah di sekolah, mulai dari PAUD sampai SMA/SMK.

"Dengan pembiasaan seperti ini, kalau dibuat secara konsisten bisa lebih merawat tradisi lisan dari budaya kita. Karena di beberapa sekolah terutama di daerah perkotaan ada hari khusus menggunakan bahasa Inggris atau bahasa asing lainnya. Jadi, tak ada salahnya kalau kita menerapkan kebijakan serupa untuk penggunaan bahasa asing," tuturnya.

Satriwan mengakui, budaya asing seperti dari Korea sangat diminati anak-anak maupun remaja atau biasa disebut Korean Wave. Ia mencontohkan komunitas BTS Army, penggemar berat grup BTS yang sangat diminati di Indonesia. Sayangnya, tidak ada atau sangat jarang ada komunitas serupa yang menggemari budaya khas Indonesia. "Untuk mengimbanginya, bisa dengan membuat proyek pembelajaran atau project learning seputar budaya seperti bahasa daerah lewat platform media sosial seperti Youtube, TikTok atau Instagram," ujarnya.

Kebiasaan di Rumah

Belajar Tari Tradisional di Museum Nasional. (Liputan6.com/Henry)
Belajar Tari Tradisional di Museum Nasional. (Liputan6.com/Henry)

Dalam konteks keluarga, Satriwan memperkenalkan berbagai budaya kepada keluarga dan anak-anaknya. Caranya, dengan membiasakan dan menggunakan bahasa daerah maupun kebudayaan khas Indonesia di rumah.

"Saya dan istri kebetulan dari daerah berbeda. Saya sendiri ada darah Sunda dan Minang, kalau istri ada darah Betawi dan Jawa. Kita kadang menggunakan baahasa dari daerah-daerah itu selain bahasa Indonesia juga. Saya sendiri dari kecil sudah terbiasa menggunakan berbagai bahasa daerah karena orangtua saya berasal dari daerah yang berbeda juga," ungkapnya.

Ia menambahkan, bisa juga dengan memberikan bacaan atau tontonan yang bernuansa beragam budaya Indonesia. Kalau kebiasaan itu dilakukan semua keluarga dan konsisten, maka kebudayan seperti bahasa daerah tidak akan punah.

"Iya memang harus kita lakukan atau praktekkan sehari-hari kalau mau melestarikan budaya kita seperti bahasa daerah. Ini tugas kita bersama, kebetulan saya sebagai pengajar mata pelajaran Pancasila Kewarngegaraan, ini jadi materi pengajaran kita juga agar bia mnejaga identitas nasional bangsa kita," tutupnya.

Penerapan pelestarian budaya dan kesenian Indonesia tentunya juga dilakukan pelaku dan penggiat budaya itu sendiri. Salah satunya Diah Kusumawardani, founder yayasan Belantara Budaya Indonesia (BBI). Sejak kecil, ia sudah memperkenalkan berbagai budaya Indonesia, termasuk mengajari anak-anaknya menari tari-tarian tradisional. Tak hanya pada anak-anaknya, Diah bahkan mengajarkan beragam tarian khas Indonesia pada siapa saja yang ingin belajar secara gratis sejak sekitar enam tahun lalu.

Wanita lulusan S2 Arkelologi dari Universitas Indonesia ini tiap akhir pekan menggelar kelas tari di berbagai museum dan bahkan mal di Jakarta. Tak hanya di Jakarta, kelas serupa juga diadakan di berbagai daerah karena semakin banyak peminatnya.

Salah satunya diadakan di Museum Nasional, Jakarta, yang bisa diikuti lebih dari ratusan pesertaDi awal masa pandemi, kegiatan tersebut sempat terhenti tapi berlanjut lagi dengan menggelar kelas virtual. Sudah banyak peserta kelas tari tersebut yang kemudian menurunkan ilmunya pada banyak orang, bahkan ada yang berprofesi sebagai penari.

Pelestarian dan Perekonomian

Perempuan Berkebaya Indonesia dan Ikatan Perempuan Pecinta Seni Betawi menyuarakan semangat Sumpah Pemuda dengan kerja sama kembangkan busana dan budaya Betawi ke kalangan milenial. (dok. Instagram @perempuan.berkebaya.indonesia/https://www.instagram.com/p/CGtTQyzgHiG/)
Perempuan Berkebaya Indonesia dan Ikatan Perempuan Pecinta Seni Betawi menyuarakan semangat Sumpah Pemuda dengan kerja sama kembangkan busana dan budaya Betawi ke kalangan milenial. (dok. Instagram @perempuan.berkebaya.indonesia/https://www.instagram.com/p/CGtTQyzgHiG/)

Mereka juga kerap diundang tampil di berbagai acara bahkan sempat tampil di Istana Negara.Fakta itu membuat Diah meyakini, pelestarian budaya nasional bukan hanya membuat budaya kita tetap lestari tapi juga menggerakkan perekonomian. "Mereka yang mengikuti kelas tari ini sudah banyak juga yang jadi penari. Berkat jadi penari mereka mendapatkan penghasilan dan bisa membantu perekonomian keluarga," terang Diah pada Liputan6.com, Jumat, 19 November 2021.

"Kelas tari saya kalau tampil di sebuah acara, biasanya saya beli kain khusus untuk para penari, termasuk juga aksesori mereka yang semuanya khas Indonesia. Nah itu kan termasuk menggerakkan roda perekonomian, jadi banyak hal yang bisa didapat dari melestarikan budaya kita," tambahnya.

Dengan menggelar kelas di museum dan mal, kelas tari yang digagas Diah juga secara tidak langsung mempromosikan museum dan mal tempat mereka berlatih. Pengunjung museum bisa saja bertambah karena mereka yang datang berlatih atau sekadar mengantar, bisa saja tertarik untuk mengujungi museum.

"Begitu juga di mal, ya kemungkinan bisa lebih banyak yang belanja di mal tempat kita latihan. Tapi itu bukan itu saja. Awalnya banyak yang menganggap latihan menari di mal agak aneh. Tapi kalau menurut kita di BBI, justru dengan menggelar di mal bisa lebih memperkenalkan dan mempopulerkan budaya Indonesia seperti tari-tarian tradisional ini," terangnya.

Yang terbaru, Diah akan membuka kelas tari tradisional di AEON Mall Tanjung Barat, Jakarta Selatan. Dengan membuka kelas baru, tentunya akan semakin banyak yang mempelajari dan melestarikan beragam tari tradisional.

Dari sisi budayawan, perkara mengenai bahasa dan kesenian yang mulai tergerus akibat globalisasi, dinilai terlihat saling tarik ulur. Misalkan dengan tidak mempelajari bahasa dan kesenian daerah, pastinya akan berdampak pada identitas seseorang.

"Hal ini juga sama ketika juga tidak mempelajari bahasa Inggris bahkan Korea, upaya manusia/personnya tadi malah dianggap gagal menjawab tantangan zaman," kata budayawan Feby Triadi pada Liputan6.com, Jumat, 19 November 2021.

Cara yang Menyenangkan

Siswa Sekolah Dasar (SD) membaca buku di ruang baca Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Jakarta, Selasa (18/2/2020). Selain megah dan memiliki koleksi lengkap, Perpusnas juga menyediakan ruangan perpustakaan untuk anak-anak, layanan untuk penyandang disabilitas dan lansia. (Liputan6.com/Angga Yuniar)
Siswa Sekolah Dasar (SD) membaca buku di ruang baca Perpustakaan Nasional (Perpusnas), Jakarta, Selasa (18/2/2020). Selain megah dan memiliki koleksi lengkap, Perpusnas juga menyediakan ruangan perpustakaan untuk anak-anak, layanan untuk penyandang disabilitas dan lansia. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

"Nah, makanya diperlukan institusi formal maupun non-formal yang bermain di dalamnya. Sebenarnya sekolah formal saja belum cukup, karena sekolah formal malah menawarkan pembelajaran yang kompleks," tambahnya. Sementara itu sekolah non-formal, kata Feby, justru hadir dengan tawaran kepakarannya tersendiri. Jalan tengahnya, sebaiknya kedua aliran sekolah ini didudukkan dalam satu jalan yang mampu berbagi tugas.

Menurut Feby, budaya dan kesenian tumbuh dari kebiasaan yang terkait dengan nilai dan norma dari masyarakat. Mengenai pelestarian kesenian ini, ada baiknya diajarkan sejalan dengan falsafah yang menyangkut dengan norma dan nilai tadi.

Pola learning by doing dirasa paling cocok untuk diterapkan. "Misalnya seorang anak yang sudah bisa membedakan baik dan tidak baik, diajarkan dari falsafah perilaku kesenian. Dengan begitu, ada keselarasan antara falsafah (nilai dan norma) dan sejalan dengan pertunjukan kesenian itu sendiri," ucapnya.

Di era globalisasi sekarang ini, pertunjukan kebudayaan sebagai seni memang perlu diperkenalkan dengan cara yang menyenangkan dan kekinian. Feby mengatakan, hal itu bisa dimulai dari keluarga dan dilakukan secara rutin atau konsisten. "Kalau saya sendiri, sering mengajak keponakan saya berkunjung ke pentas seni busaya, atau ke museum, galeri sejarah, kota-kota atau bangunan tua, situs-situs peninggalan, jadi diperkenalkan secara langsung," tuturnya.

Bagi Feby, waktu akhir pekan bukan hanya tentang rekreasi menikmati alam, tetapi rekreasi ke situs peninggalan. Hal itu juga harus mendapat perhatian yang sama dengan rekreasi atau wisata alam. "Lewat situlah kebudayaan mengenai seni dan bahasa bisa dijelaskan secara lebih menyenangkan," pungkasnya.

Infografis: Warisan Budaya Indonesia yang Sudah Diakui UNESCO

Infografis: Warisan Budaya Indonesia yang Sudah Diakui UNESCO
Infografis: Warisan Budaya Indonesia yang Sudah Diakui UNESCO
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel