Cerita Akhir Pekan: Proses Evaluasi Penerapan CHSE

·Bacaan 3 menit

Liputan6.com, Jakarta - Kasus kerumunan wisatawan di sejumlah destinasi wisata menimbulkan pertanyaan terhadap penerapan CHSE, Cleanliness (Kebersihan), Health (Kesehatan), Safety (Keamanan), dan Environment Sustainability (Lingkungan berkelanjutan). Sejumlah tempat wisata pun melakukan evaluasi terhadap penerapan CHSE.

"Perlu dilakukan evaluasi secara global, baik secara geografi dan demografi. Secara geografi dalam arti bagaimana mereka yang terkait (pariwisata) betul-betul fokus bagaimana Satgas Covid- 19 dapat melakukan tugasnya dengan baik," ujar Lead Auditor CHSE, I Ketut Sirna, saat dihubungi Liputan6.com, Jumat, 22 Mei 2021.

Secara geografi, lanjut dosen di Universitas Dhyana Pura, Bali, harus melihat daerahnya, baik zona merah, zona kuning, dan zona hijau. Daerah-daerah tersebut harus dikelompokan ke dalam zona-zona tersebut.

"Secara manajemennya dibagi, kemudian direncanakan, tiap-tiap daerah berapa yang bisa mengevaluasi dari semua daerah itu," ujar lelaki yang juga Asesor Kompetensi Hotel ini.

Sementara secara demografi, bahwa tiap-tiap individu atau personal menyadari bagaimana menanggulangi Covid-19 seperti sekarang. Oleh karena itu, individu harus mengikuti arahan dari pemerintah.

"Kita sadari diri untuk memakai masker, cuci tangan, memakai hand sanitizer, mengrangi kerumunan, termasuk juga dalam acara-acara penting harus dibatasi. Itu yang kita lihat bahwa sudah melebihi batas, akhirnya para satgas agak kewalahan juga," kata Sirna.

Terkait kunjungan wisata khusunya di hotel dan destinasi, Sirna mengatakan semua sudah siap, mulai dari Nusa Penida, Lembongan, Ubud, Nusa Dua, Seminyak, Legian. "Masyarakat sudah menyadari tentang pentingnya CHSE,' ujar Sirna.

Sirna mengatakan kesadaran masyarakat di Bali sudah tumbuh dan berkembang tentang CHSE. Di sana daerah-daerah yang lembap disemprot dengan disinfektan. "Kebetulan saya yang ikut menangani tentang environment. Saya juga sempat mengunjungi Patrajasa dan di sana sudah diterapkan CHSE," imbuh Sirna.

Menghindari Laporan Fiktif

The Kayon Resort, Ubud, Bali. (dok. Instagram @markusgueltzow/https://www.instagram.com/p/BtbEkrmArfF/Asnida Riani)
The Kayon Resort, Ubud, Bali. (dok. Instagram @markusgueltzow/https://www.instagram.com/p/BtbEkrmArfF/Asnida Riani)

Dalam pantauan Sirna, penerapan CHSE di Bali terbilang sudah bagus, karena mereka dipantau, mulai dari aparat terendah. Saat ada kerumunan, mereka bisa saling mengontak satu dengan lain. Mereka kemudian diberi tahu dengan baik-baik.

"Mungkin beda dengan di tempat lain, saat diberitahu oleh pihak Satgas, mereka justru memarahi satgasnya. Jadi, beda sekali dengan kondisi yang ada di Bali," kata Sirna.

Bicara proses, lanjut Sirna, tentu perencanaan itu sudah dilakukan dan proses berikutnya sudah ada ketentuan dan termasuk juga SOP-nya, termasuk juga langkah-langkah pengerjaannya. Tentu kontrol dan evaluasi itu sangat perlu karena manusia itu ada salahnya.

"Dari kontrol dan evaluasi itu dapat diketahui pihak-pihak mana saja yang sudah menerapkan CHSE, kalau perlu diidentifikasi ulang, baik secara geografi dan demografi. Selain itu, sudah seberapa besar CHSE diterapkan.

Karena Indonesia itu sangat luas, maka bisa saja ada "jalur tikus" dan di Bali itu juga diperhatikan. Secara kasat mata mungkin penerapan CHSE sudah dianggap aman, tapi faktanya bisa saja berbeda.

"Kalau hanya menunggu report, bisa jadi laporan yang diberikan itu fiktif, tanpa kita terjun mengecek ke lapangan, kita evaluasi dan tindaklanjuti secara langsung. Tapi kalau kita sudah melihat secara langsung dan mencocokkan dengan laporan, maka itu akan meminimalisir apa yang tidak diinginkan," tuturnya.

Pelibatan Masyarakat

Pengunjung berenang di Pantai Karnaval Ancol, Jakarta, Jumat (14/5/2021). Pemprov DKI Jakarta pada libur Lebaran 2021 membuka sejumlah tempat wisata, salah satunya Ancol. (Liputan6.com/Johan Tallo)
Pengunjung berenang di Pantai Karnaval Ancol, Jakarta, Jumat (14/5/2021). Pemprov DKI Jakarta pada libur Lebaran 2021 membuka sejumlah tempat wisata, salah satunya Ancol. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Dihubungi secara terpisah, pengamat pariwisata Robert Alexander Moningka mengatakan bahwa hotel maupun lokasi pariwisata sudah menerapkan CHSE dengan baik, termasuk di Bumiayu, Jawa Tengah, yang baru saja ia kunjungi. Namun, CHSE itu baru menyentuh dari objek wisata yang ramai dikunjungi orang ramai saja.

"Orang yang beli dagangan di perjalanan itu juga termasuk pariwisata. Orang beli oleh-oleh ketan pencok Bumiayu, serundeng, itu juga pariwisata," kata lelaki yang akrab disapa Bob ini saat dihubungi Liputan6.com.

Bob menilai, mereka belum disentuh dengan program CHSE. Padahal, tidak ada pariwisata tanpa keterlibatan masyarakat. Oleh karena itu, sentuhlah mereka dengan program CHSE itu.

"Jangan-jangan saat ditanya apa yang dimaksud CHSE, mereka itu justru nggak tahu. Sekalipun masyarakat dilibatkan dalam CHSE, bisa jadi itu hanya pada pemilik objek wisatanya saja atau travel agent-nya. Hanya di situ-situ saja, kan. Tapi tidak sampai ke grassroot-nya," kata Bob.

Bagi Bob, masyarakat atau market itu juga perlu dibina terkait CHSE. Jika masyarkaatnya tidak dibina, maka akan repot karena mereka merasa tidak memiliki parisiwata tersebut. Membeludaknya sejumlah tempat pariwisata baru-baru ini terjadi karena mereka tidak diberi penjelasan tentang CHSE itu.

"Benarkah sudah memberikan penjelasan kepada market tentang apa itu CHSE?" tanya Bob.

Infografis 5 Tips Liburan Aman Saat Pandemi

Infografis 5 Tips Liburan Aman Saat Pandemi. (Liputan6.com/Trieyasni)
Infografis 5 Tips Liburan Aman Saat Pandemi. (Liputan6.com/Trieyasni)

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: