Cerita Akhir Pekan: Repotnya Orangtua Menghadapi Liburan Sekolah di Masa Pandemi

·Bacaan 6 menit

Liputan6.com, Jakarta - Meningkatnya jumlah kasus positif Covid-19 membuat pemerintah kembali memperketat Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat di berbagai wilayah. Kebijakam in dikeluarkan di sama liburan sekolah. Mobilitas warga dibatasi untuk mencegah penularan Covid-19.

Di tengah situasi ini, berlibur tentu bukan hal yang mudah direalisasikan. Padahal banyak dari Anda dan keluarga terutama anak-anak Anda ingin merasakan liburan di masa libur sekolah ini. Sayangnya hal itu tak bisa dilakukan untuk sementara waktu.

Tak hanya anak-anak yang mungkin merasa bosan, para orangtua pun mungkin kebingungan harus melakukan kegiatan apa lagi untuk mengisi liburan sekolah anak-anak mereka.

Hal itu juga dirasakan pasangan Ida dan Handoyo. Dua anak mereka yang masih duduk di bangku SD (Sekolah Dasar) awalnya masih kerasan meski liburan sekolah di rumah saja. Mereka hampir tidak pernah keluar, bahkan tidak jajan di warung dekat rumah, kecuali saat berjemur matahari di pagi hari.

Keduanya juga suka ikut membersihkan rumah dan terkadang mengulang pelajaran sekolah untuk sekadar latihan. Tapi lama kelamaan mereka mengeluh karena bosan harus terus di rumah.

"Ya memang sudah jenuh malahan mereka maunya masuk sekolah lagi dan belajar di sekolah, bukan di rumah. Terus pengin ketemu teman-temannya juga. Kasihan juga tapi mau bagaimana lagi, kita memang harus di rumah terus demi kesehatan kita bersama," ucap Handoyo pada Liputan6.com, 1 Juli 2021.

"Dulu sebelum PPKM Darurat biasanya kita sesekali ke mal atau ke taman bermain di pagi hari. Tapi sekarang kan nggak bisa, ya harus main di rumah aja," lanjutnya.

Mereka terkadang kedua anaknya bermain tapi karena masing-masing punya pekerjaan yang juga dilakukan di rumah, Handoyo dan Ida mengaku tak punya banyak waktu bermain dengan anak mereka selain di hari libur.

Kegiatan Positif

Ilustrasi Belajar Secara Online Credit: pexels.com/pixabay
Ilustrasi Belajar Secara Online Credit: pexels.com/pixabay

"Terpaksa kita kasih mereka jatah bermain ponsel atau gawai lebih lama dari biasanya, soalnya mereka memang aktif banget dan cepat bosan kalau melakukan kegiatan lain, apalagi kalau nggak kita dampingi. Kita nggak bisa sering dampngin kalau masih kerja kecuali di hari libur. Makanya repot juga harus liburan di rumah lagi tapi ya harus dijalani,’" ujar Handoyo.

Bagi psikolog Dian Kusumawardhani, kuncinya adalah kreativtas orangtua. Meski agak repot tapi memang sudah kewajiban sebagai orangtua untuk bisa mengarahkan anak-anaknya melakukan beragam kegiatan positif dan kreatif terutama saat liburan.

"Ada banyak kegiatan yang bisa dilakukan di rumah. Misalnya bikin mobil-mobilan dari kardus, dikasih lampu kecil supaya lebih menarik. Paling bisa bertahan seminggu tapi lumayan bisa mengalihkan perhatian mereka dari gawai. Proses pembuatannya juga bisa membuat anak lebih kreatif dan meningkatkan kognitif mereka. Selain itu bisa lebih mendekatkan hubungan orangtua dan anak," terang Dian pada Liputan6.com, 1 Juli 2021.

Dian menambahkan, masih banyak kegiatan lain yang bisa dilakukan di rumah selama liburan sekolah. Misalnya, mengajak anak mengurus tanaman. Mereka bisa membantu kita mengurus tanaman atau juga dibelikan tanaman kecil seperti kaktus.

"Saya juga pernah membelikan kaktus kecil buat anak saya, jadi kita ajari cara merawatnya sampai tanamannya tumbuh besar. Bisa juga dengan mengajak dia melukis atau menggambar tanaman. Jadi banyak kegiatan yang bisa dilakukan buat mengalihkan perhatian mereka dari gawai, awalnya mungkin hanya dua jam tapi setelah itu bisa ditambah lagi waktunya, harus pelan-pelan," jelas Dian.

Orangtua Harus Kreatif

Ilustrasi belajar online
Ilustrasi belajar online

Menurut Dian, gawai tetap dibolehkan karena kita tak bisa menghindar dari kemajuan teknologi dan harus terus update, tapi harus dibatasi waktunya agar anak tak bergantung dan bahkan sampai kecanduan bermain gawai. Selain itu, untuk anak-anak yang mulai beranjak remaja seperti anak SMA tentu penanganannya berbeda lagi.

Kata Dian, anak-anak SMA biasanya lebih banyak bertanya dan lebih kritis. Mereka bisa diajak bermain sepputar pengetahuan umum dan kalau mereka bisa menjawab pertanyaan dengan benar akan diberi bonus, seperti dibolehkan menonton film favorit mereka di televisi atau di internet.

"Mereka juga bisa diajak belajar masak, nggak hanya anak perempuan, yang laki-laki juga boleh karena sekarang pria juga banyak yang bisa masak. Anak saya umur sembilan tahun juga udah mulai belajar dan dia sudah bisa masak nasi sendiri," ucap Dian.

Di masa pandemi ini orangtua memang dituntut harus lebih kreatif. Meski mereka juga disibukkan dengan pekerjaan tapi memang harus tetap membimbing anak dengan baik. "Ada banyak ide kegiatan yang bisa dilakukan, kita bisa browsing di internet, ada banyak pilihannya. Kita tinggal pilih saja kira-kira apa yang bisa dan cocok dilakukan di rumah kita. Yang terpenting kita harus terus jaga kesehatan fisik dan mental keluarga kita," ujar Dian.

Sementara itu, Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI), Danang Hidayatullah juga menyarankan sejumlah kegiatan yang bisa dilakukan di rumah.

"Kalau secara umum, bisa dengan mengajak anak berolahraga seperti bermain sepeda, membaca buku, menulis cerpen, berkebun mengolah pekarangan, membantu orangtua memasak di rumah, mengikuti les musik daring, wisata virtual, bermain game edukasi, menyusun huruf berbagai kata untuk kelas rendah," terang Danang dalam pesan pada Liputan6.com, 1 Juli 2021.

"Ada juga yang bekerja untuk membantu perekonomian keluarga, atau melatih kemampuan akting melalui youtube, dan masih banyak lagi. Kalau lihat realita di pedalaman, banyak anak-anak yang bekerja untuk membantu orangtuanya. Sementara di perkotaan anak-anak lebih asik dengan gawainya," sambungnya.

Menumbuhkan Pendidikan Karakter

Ilustrasi Tanaman Hias Credit: pexels.com/Huy
Ilustrasi Tanaman Hias Credit: pexels.com/Huy

Melakukan kegiatan yang edukatif disarankan oleh pengamat pendidikan Satriawan Salim. Untuk anak-anak yang masih di bangku Sekolah Dasar (SD), ia menyarankan agar orangtua lebih mengasah kemampuan anak dalam hal membaca, menulis dan berhitung (calistung).

"Selama pembelajaran online teryata banyak anak kelas 1 SD masih kurang dalam hal calistung karena lebih banyak belajar di rumah, jarang yang tatap muka. Jadi tidak heran banyak yang masih sulit menguasai calistung, karena itu sebaiknya orangtua mengisi kekurangan itu dengan mengajari anak mereka," terang Satriawan pada Liputan6.com, 1 Juli 2021.

Sedangkan untuk anak SMP dan SMA, Satriawan menambahkan, bisa diisi dengan kegiatan yang edukatif seperti masak bersama orangtua karena bisa menumbuhkan pendidikan karakter. Untuk anak-anak yang tinggal di perkotaan biasanya bisa diajak mencuci mobil atau motor, merawat hewan peliharaan, bercocok tanam.

Menurut Satriawan, kegiatan-kegiatan positif seperti itu bagus untuk membangun karakter anak. Yang menjadi perhatian Satriawa adalah anak-anak yang tinggal di daerah pedalaman atau jauh dari perkotaan masih banyak yang melakukan kegiatan di masa pandemi di luar ruangan.

Membuat Konten Kreatif

Ilustrasi ponsel. Sumber foto: unsplash.com/Luke Porter.
Ilustrasi ponsel. Sumber foto: unsplash.com/Luke Porter.

"Di beberapa daerah di Indonesia masih banyak yang situasinya seperti biasa, seperti bukan pandemi. Jadi banyak yang melanggar prokes, seperti tidak memakai masker dan tidak menjaga jarak. Mungkin mereka menganggap daerah mereka jauh dari perkotaan jadi tidak akan terkena Covid-19, padahal tetap berisiko terpapar," jelas pria yang juga menjadi Koordinator Nasional Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) ini.

"Ini biasanya terjadi di daerah yang sulit dapat sinyal jadi tidak bisa belajar online. Ada juga yang sekolahnya tatap muka seperti biasa, seperti di beberapa daerah di Ponorogo, Pacitan dan Situbondo. Sayangnya mereka kurang disiplin menerapkan prokes. Kita berharap para orangtua dan pengajar memberi contoh yang baik dengan memakai masker misalnya, karena anak-anak kan melihat contoh dari mereka," lanjutnya.

Mengenai penggunaan gawai, Satriawan juga berharap orangtua bisa mengatur penggunaannya secara bijak. Selain mengatur waktu pemakaian bisa juga dengan mengarahkan anak agar membuat konten-konten kreatif di media sosial tapi tetap dengan pengawasan orangtua.

"Harus ada disiplin positf dan konsensus bersama antara anak dengan orangtua. Gawai memang diperlukan tapi harus dibatasi juga karena bisa berbahaya bukan hanya secara fisik tapi juga bagi kesehatan mental, karena itu orangtua harus mengarahkan dan memberi teladan yang baik," tutupnya.

Cara Generasi 90-an Jalani Liburan Sekolah

Infografis Cara Generasi 90-an Jalani Liburan Sekolah. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis Cara Generasi 90-an Jalani Liburan Sekolah. (Liputan6.com/Abdillah)

Saksikan Video Pilihan Berikut:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel