Cerita Akhir Pekan: Strategi Cerdas Menjual Kuliner Indonesia di Luar Negeri

·Bacaan 6 menit

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia kaya beragam kuliner yang tersebar di berbagai provinsi dan kabupaten/kota. Setiap daerah memiliki kekhasan kuliner masing-masing dan bahkan kuliner Indonesia sudah diterima di luar negeri, seperti di Jepang.

"Di Jepang kuliner Indonesia cukup dikenal karena kedua negara memiliki kedekatan. Tak sedikit orang Jepang ingin bernostalgia dengan makanan dari Indonesia karena mereka pernah tinggal di Indonesia. Kuliner Indonesia juga tak hanya ada di kota-kota besar, seperti di Tokyo, tapi juga di prefektur-prefektur atau provinsi lain, ada kuliner Indonesia. Artinya, kuliner Indonesia sudah diterima di Jepang," ujar Atase Perdagangan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tokyo, Arief Wibisono, saat dihubungi Liputan6.com, Jumat, 23 April 2021.

Namun, akibat pandemi cukup menghambat perkembangan bisnis kuliner, tak hanya kuliner Indonesia, tapi juga kuliner dari negara lain. Hal itu terjadi karena semua orang dibatasi dengan jam makan malam dan makan di tempat.

"Sebelum pandemi, banyak industri kuliner Indonesia yang bertumbuh, seperti sebuah restoran betawi yang menjual soto betawi dan mengombinasikan dengan Jepang. Itu juga bagus," ungkap Arief.

Selain itu, ada juga restoran-restoran yang menengah yang terus bertumbuh, meskipun masih kalah jauh dengan restoran dari Thailand atau India. "Namun, kuliner Indonesia masih terus bertumbuh," lanjut Arief.

Dalam pengamatan Arief, alasan mengapa restoran Thailand dan India lebih lebih cepat tumbuh adalah karena mereka menawarkan menu yang terbatas, tidak seperti Indonesia yang menawarkan banyak menu. "Sebenarnya, itu suatu keuntungan buat kita karena memiliki beragam kuliner, tapi di satu sisi membuat orang jadi bingung," imbuh Arief.

Sebagai contoh, Indonesia memiliki beragam soto, dari soto betawi, soto madura, soto lamongan, hingga soto kudus. Bagi mereka yang awam yang sempat menikmati soto, saat ia mencicipi soto lagi, ia akan kebingungan mendapatkan cita rasa sotonya berbeda dari yang dimakan sebelumnya.

"Soto yang dulu, yang mana ya? Itu kan membuat bingung. Tapi berbeda dengan Thailand, mereka paling punya lima hingga 10 menu dan hampir semua restoran sama. Jadi, yang ada di kepala mereka sama. Rasanya juga sama. Indonesia banyak banget (menunya), bingung kadang-kadang mereka. Jadi, untuk menciptakan branding-nya jadi kurang fokus," tutur Arief.

Rasa yang Sama

Ilustrasi Soto Betawi Copyright by Ismed_photography_SS (Shutterstock)
Ilustrasi Soto Betawi Copyright by Ismed_photography_SS (Shutterstock)

Maka itu, dalam pandangan Arief, sebaiknya untuk dijual di luar negeri, cukup satu nama saja, seperti soto saja, tanpa nama-nama yang lain. "Seperti rendang, ya, rendang saja," imbuh Arief.

Berbeda dengan negara lain, paling hanya lima hingga 10 menu saja. Restoran India, misalnya, paling ada naan dan kari. Begitu juga di restoran Thailand, ada tom yam dan kari.

"Kalau kita, yang lumayan sama adalah nasi goreng dan sate ayam. Di luar itu kan (banyak), orang bisa jadi bingung. Ada gado-gado, ada pecel. Itu jadi salah satu yang mempengaruhi restoran Indonesia. Kalau restoran Thailand atau India, di mana saja, menunya relatif sama. Permasalahan itu tidak hanya di Jepang, tetapi juga di seluruh dunia," kata Arief.

Selain banyak menu, persoalan lain yang dihadapi restoran Indonesia di luar negeri adalah belum adanya rasa yang standar. Arief mencontohkan, jika ia makan tom yam atau kari, kurang lebih rasanya tidak jauh berbeda di semua tempat, meski nama restorannya berbeda.

"Kalau Indonesia, pengalaman saya, kita (rasanya) sangat bervariasi. Ada yang biasa, ada yang enak, ada juga yang enak banget. Ada yang bumbunya beda atau memang kokinya atau juru masaknya berbeda-beda. Jadi, kita juga terlalu bergantung pada koki atau juru masak," ujar Arief.

Arief kembali mencontohkan, pengalamannya saat bertugas di Amerika Serikat, seorang koki sempat mengatakan bahwa seharusnya rasanya sama. Ada semacam resep bumbu instan yang membuat rasanya konsisten meski dimasak oleh orang yang berbeda.

"Pengalaman saya di Amerika, kalau ada satu restoran buka, maka ada satu restoran yang tutup. Mengapa? Karena juru masak atau kokinya dibajak. Jadi, ketergantungan terhadap juru masak atau koki itu sangat tinggi," ucap Arief. "Kalau juru masak atau kokinya sakit, masa restorannya harus tutup. Kan nggak bisa begitu," sambungnya.

Tidak Punya Perkampungan

Warga saat mengunjungi Kampung Cina, Kota Wisata, Jawa Barat, Minggu (14/2/2021). penyebab sepinya Kampung Cina didatangi pengunjung lantaran tempat wisata berupa danau yang jadi unggulan tidak beroperasi karena akan dibangunnya Mall di kawasan tersebut. (Liputan6.com/Faizal Fanani)
Warga saat mengunjungi Kampung Cina, Kota Wisata, Jawa Barat, Minggu (14/2/2021). penyebab sepinya Kampung Cina didatangi pengunjung lantaran tempat wisata berupa danau yang jadi unggulan tidak beroperasi karena akan dibangunnya Mall di kawasan tersebut. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Dihubungi secara terpisah, pakar kuliner William Wongso mengungkapkan secara umum orang Indonesia di luar negeri tidak kumpul dalam suatu tempat, melainkan terpencar-pencar. "Kendalanya adalah siapa distributor di negara tersebut, karena kalau dibandingkan dengan negara lain, misalnya, mereka sudah punya kultur. Kalau mereka ingin memperkenalkan produk negaranya seperti Korea," ujar Wiliam kepada Liputan6.com, Jumat, 23 April 2021.

Pemerintah Korea Selatan memiliki perhatian nyata lewat Korean Trade. Mereka sering berpromosi untuk memperkenalkan produk-produk dalam negerinya. "Tapi satu hal yang perlu dipertimbangkan adalah seberapa besar di tempat itu ada masyarakat Indonesia. Kalau masyarakat Indonesianya sedikit, biasanya distributor itu tidak terlalu tertarik. Kita memang harus punya kiat untuk memperkenalkan produk-produk Indonesia, tak hanya kepada masyarakat Indonesia, tapi juga kepada masyarakat non-Indonesia," kata William.

Persoalan bagaimana memasarkan kuliner Indonesia itu tidak segampang orang yang mempertanyakan mengapa Indonesia tidak bisa. Apalagi, jumlah restoran Indonesia di luar negeri itu sangat terbatas.

"Karena memang masyarakat Indonesia itu tidak kumpul dalam satu tempat. Kita itu tidak punya perkampungan Indonesia di luar negeri dibandingkan dengan Thailand, Korea, Jepang, China. Dengan adanya perkampungan itu, mereka gampang banget memperkenalkan kuliner mereka di luar negeri. Itu beda dengan Suriname, di mana sudah puluhan tahun orang Indonesia dikirim ke sana dengan tujuan bekerja. Dengan adanya perkampungan itu, orang-orang lokal yang ada di sana mencari informasi, icip-icip, makan di restoran," papar William.

Tak hanya kulinernya, camilannya juga sama kondisinya. Camilan itu menjadi satu paket. Bila restorannya banyak, mereka tentu akan menjual camilan-camilan Indonesia.

"Masalahnya, kan, memperkenalkan, lalu siapa yang membiayai. UKM kan tidak mungkin membiayai itu. Padahal, banyak produk UKM yang bagus. Selain itu, aturan di luar negeri itu ketat soal makanan. Nah, dengan adanya gerakan Indonesian Spice Up The World atau Indonesia membumbui dunia agar bisa pakai di rumah makan Indonesia," tutur William.

Dengan gerakan itu, lanjut William, akan ada standar bumbu Indonesia. Jika orang luar ingin mengetahui lebih banyak lagi varian makanan Indonesia, mereka harus datang ke daerah masing-masing. "Rendang saja sangat banyak variannya," kata William.

Diminati Masyarakat Dunia

Gerai UniFam saat pameran Anufood di China pada 2021 (dok.Unifam)
Gerai UniFam saat pameran Anufood di China pada 2021 (dok.Unifam)

Pertumbuhan produk-produk kuliner Indonesia di luar negeri yang terus naik setiap tahunnya dibenarkan pihak United Family Food. Hal ini merupakan sinyal positif dan menandakan bahwa produk-produk makanan dan minuman buatan Indonesia memiliki kualitas yang bagus sehingga diminati oleh masyarakat dunia.

"Tentunya selain produk yang berkualitas, dukungan pemerintah dalam membantu serta memfasilitasi pengenalan industri makanan dan minuman secara global juga membantu dalam mempertemukan potential networking distributor di jaringan global," kata AVP International Business PT United Family Food, Albert Lin, secara tertulis kepada Liputan6.com, Jumat, 23 April 2021.

Albert optimistis produk buatan Indonesia bisa bersaing dengan produk dari negara lain, karena sisi bahan baku dan manufaktur, industri di Indonesia sudah memiliki standar yang tinggi dan sesuai dengan acuan global. Ciri khas cita rasa produk Indonesia juga menjadi salah satu faktor yang menjadi ketertarikan konsumen di negara lain.

"Kami juga memiliki visi yaitu berkomitmen penuh untuk menjadi Pemain Kelas Dunia di Industri Makanan yang mengutamakan pengalaman konsumen. Dengan menggabungkan strategi yang progresif dan semangat kekeluargaan yang positif, kami secara konsisten terus bergerak untuk mencapai tujuan kami untuk membuat produk Unifam mendunia," lanjut Albert.

Albert juga mengungkapkan, camilan asal Indonesia juga diterima dengan baik oleh masyarakat dunia. Produk-produk Unifam seperti Milkita, Super Zuper, Sukoka, Kata Oma, dan Pino berhasil diekspor ke lebih dari 15 negara di dunia.

"Apalagi dengan diaspora dan pameran-pameran di luar negeri yang didukung oleh pemerintah Indonesia, mereka juga menjadi potensial market bagi kami. Ke depannya kami akan terus menambah daftar negara lain untuk semakin memperluas penyebaran produk-produk Unifam," tandas Albert.

Memodernisasi Camilan Tradisional

Infografis tampilan kekinian camilan tradisional. (Liputan6.com/Triyasni)
Infografis tampilan kekinian camilan tradisional. (Liputan6.com/Triyasni)

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: