Cerita Akhir Pekan: Suka Duka Para Pelaku Bisnis Sambal

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta - Peluang selalu terbuka bagi mereka yang mau berusaha. Hal ini tergambar ketika para pebisnis mengambil langkah dengan mengusung potensi gastronomi Nusantara, salah satunya dengan berjualan sambal.

Sulit rasanya memisahkan sambal dalam santapan sehari-hari warga Indonesia. Animo yang tak pernah surut akhirnya melahirkan inovasi tiada henti dalam penciptaan kreasi makanan penyedap bercita rasa pedas ini.

Cerita tentang merintis berjualan sambal dibagikan pemilik Sambal Bu Djui, Merlin Soeyanto. Terciptanya usaha sambal yang hadir pada awal 2020 tersebut juga berawal dari ketidaksengajaan. Bu Djui sendiri diambil dari nama ibu kandung Merlin. Ia berkisah, sang ibu sangat gemar membuat sambal.

"Iseng upload di Instagram, enggak bermaksud buka pre-order (PO). Eh, kok teman-teman suruh buka PO karena mau coba. Waktu aku buka PO, pesanan satu minggu itu bisa 1.000--2.000 ribu botol. Waktu itu aku kewalahan karena jawab pesanan sendiri," kata Merlin saat dihubungi Liputan6.com, Kamis, 21 Oktober 2021.

Merlin melanjutkan, setelah membuka banyak PO, sahabatnya Ivonne Magdalena tertarik membuka bisnis sambal. Sinergi kedua sahabat ini melahirkan Pabrik Sambal Bu Djui di bawah naungan PT. Bukan Pangan Biasa.

"Bisnis sambal banyak juga dukanya, susah-susah gampang karena fluktuatif. (Harga) bahan-bahannya bisa berbeda 2--3 kali lipat, tidak menentu harga cabai," lanjut Merlin.

Salah satu yang menjadi tantangan adalah pemilihan bahan baku, karena ketika mendapat yang kurang baik, hal ini akan berpengaruh pada kualitas sambal. "Dukanya penyimpanan dan pengemasan kalau salah sedikit sampai ke customer bisa berjamur dan bau," tambahnya.

Namun, tak melulu duka yang dirasa ketika berbisnis sambal. "Sukanya, otomatis bisa memasarkan sambal karena kita sudah ekspor ke luar negeri dan reseller luar negeri kita memperkenalkan sambal di sana," jelasnya.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

Sambal Bu Djui

Varian sambal kecombrang dari Sambal Bu Djui. (dok. Sambal Bu Djui)
Varian sambal kecombrang dari Sambal Bu Djui. (dok. Sambal Bu Djui)

Merlin juga menyebut sebuah kebanggan dapat menciptakan kreasi resep sambal varian baru. Perjalanan Sambal Bu Djui hingga ke luar negeri turut didukung para reseller yang ada di sana.

"Spesifik reseller terbesar khusus Sambal Bu Djui beberapa perseorangan, karena mereka suka dan mau coba jual. Mostly, orang Indonesia yang sudah tinggal di luar negeri. Kita pernah kirim ke Amerika, Australia, Kanada, Singapura, dan Malaysia," tuturnya.

Selain perseorangan, ada pula reseller di Indonesia yang dapat mengirim sambal ke luar negeri. "Karena kalau kirim sambal banyak takut rusak atau enggak bisa mengontrol penyimpanan dengan baik, kan sayang kualitas tidak baik," tambah Merlin.

"Kemarin ke Australia dalam satu minggu katanya 300 botol sudah habis di Sydney. Mereka mungkin sudah tahu Sambal Bu Djui. Dulu kita diminta buka PO tapi enggak ada yang ngurus ke sana. Pas ada reseller yang tertarik dan tinggal di Sydney, langsung diserbu," ungkapnya.

Sambal Bu Djui yang sudah tersertifikasi halal dan terdaftar BPOM ini terdiri atas delapan varian, mulai dari sambal peda, sambal cumangi (cumi kemangi), sambal kecombrang, sambal mercon, sambal pingit (pindang kemangi), sambal petir, sambal curang (cumi arang), dan crispy terbang (teri kecombrang). Sederet varian ini dijual mulai Rp40 ribu hingga Rp59,5 ribu.

"Sambal kecombrang yang best seller. Kita baru keluarkan sambal cumi arang yang juga jadi favorit," tambahnya. Soal penyimpanan sambal, Merlin menyarankan tidak lebih dari tujuh hari, di kulkas selama dua minggu, dan di freezer hingga tiga bulan.

Sambal EyangCB

Sambal EyangCB. (dok. Sambal EyangCB)
Sambal EyangCB. (dok. Sambal EyangCB)

Peluang usaha sambal juga dilirik Justina Niken, pemilik Sambal EyangCB. Sebelum sambal, Niken juga sempat menjual beberapa sajian lain, mulai dari cheese stick, pempek, hingga siomai.

"Kepikiran menjual sambal ingin mengembangkan bisnis lebih baik lagi. Saya minta resep ke ibu dan coba membuat berkali-kali. Ternyata ada satu racikan yang sudah pas untuk dijual," kata Niken kepada Liputan6.com, Rabu, 20 Oktober 2021.

Awal membuat racikan, Niken meminta saran dari orang terdekatnya, mulai dari sang ibu, suami, hingga anak-anak. Respons positif pun ia terima dan mulai berani menjual dari tetangga, kakak, hingga teman kantor kakaknya.

Penamaan Sambal EyangCB ia dedikasikan untuk sang ibu. Eyang berarti nenek, sementara CB adalah inisial nama ibu Niken.

"Setahun lalu sudah ada sertifikat halal. Kecamatan mengundang pelaku bisnis dan mengadakan pelatihan. Setelah 2--3 bulan, mengadakan survei ke rumah-rumah," tambah Niken.

Dalam survei usaha itu, Niken menyebutkan beberapa kriteria yang harus dipenuhi. Mulai dari dapur dan tempat cuci piring harus terpisah, peralatan pembuatannya, dari cobek hingga piring, juga harus terpisah dari yang digunakan sehari-hari.

"Kita harus mengirimkan sampel dari semua varian sambal. Sudah ada juga sertifikat IUMK (Izin Usaha Mikro Kecil). Sebelum sertifikat halal, kita harus mendaftar ke kelurahan untuk mendapat IUMK," tambahnya.

Pemasaran Sambal EyangCB dikatakan Niken dilakukan mulai dari mulut ke mulut hingga memanfaatkan media sosial, seperti Instagram dan Facebook. Lantas, apa suka duka yang ia rasakan dalam berbisnis sambal?

"Sukanya banyak diminati produk sambalku. Dukanya kalau misalnya sudah bikin lumayan banyak, ada lebihan botol terus tawari ke teman, tapi mereka bilang sudah punya atau enggak terlalu suka sambal. Berarti sekarang buat sambal sesuai pesanan, enggak berani disimpan," jelas Niken.

Sambal EyangCB terdiri dari dua jenis, yakni sambal bawang dan sambal terasi. Sedangkan varian sambal berisi ikan teri asin, ikan asin jambal, cumi asin, dan petai dengan tingkat kepedasan mulai dari original, sedang, pedas, sampai sangat pedas.

"Pembuatan sambal kurang lebih 45 menit sampai satu jam tergantung berapa botol yang dibuat," lanjutnya.

Untuk harga sendiri, sambal original dijual Rp30 ribu, varian ikan teri Rp35 ribu, sementara varian petai, ikan jambal asin, dan cumi asin dibanderol Rp37 ribu. Masa penyimpanan di suhu ruang sekitar lima hari dan di kulkas hingga empat bulan.

"Favoritnya itu sambal bawang sedang, ikan teri, dan cumi asin," kata Niken.

Infografis: 6 Sambal Khas Beberapa Daerah di Indonesia

Infrografis:  6 Sambal Khas Beberapa Daerah di Indonesia
Infrografis: 6 Sambal Khas Beberapa Daerah di Indonesia
Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel