Cerita Alitt Susanto Haus Kasih Sayang

Lutfi Dwi Puji Astuti, Wahyu Firmansyah
·Bacaan 3 menit

VIVAAlitt Susanto penulis buku Shitlicious dan Skripshit menceritakan momen yang membuatnya bisa berubah. Kecelakaan yang dialaminya pada tahun 2003 lalu membuat Alitt mulai berubah.

Alitt yang dulunya menggunakan logika dalam setiap kesehariannya akhirnya berubah setelah kecelakaan itu.

"Iya kecelakaan, secara fisik, mental, dan juga IQ. Kecelakaan mengubah gua karena dulu gua logis banget senang matematika, bahkan belajar programing iseng-iseng. Abis kecelakaan gua enggak, gak suka angka sama sekali," kata Alit dalam video di kanal YouTube Andhika Pratama dikutip, Jumat, 6 November 2020.

Alitt menceritakan jika sejak kecil ia sudah kehilangan sosok orang tua. Perceraian orangtuanya membuat Alitt kehilangan kasih sayang itu sejak usia 4 tahun.

"Aku kecil tuh logis banget dan suka banget belajar aku selalu juara dua satu dua satu. Jeleknya aku mikirnya cepat aku dapet juara bawa pulang ke rumah. Terus yang kesalnya tuh di sekolah kalau juara itu dipanggil ke podium nah biasanya mereka ditemani orang tua. Nah aku gak ada siapa-siapa kadang minta temenin orang tua temen aku," ucapnya.

Kehilangan masa kecil yang menyenangkan membuat Alitt menjadi gampang marah. Ia selalu kesal saat melihat keluarga yang bahagia.

"Lama-lama aku mikir jadi anak baik gak pernah diapresiasi apapun. Mama pun karena belum ada telepon jadi berkomunikasi lewat surat itu pun lama banget. Aku triggernya kalau aku liat keluarga bahagia pingin ngamuk. Anak di ayun-ayunan di dorong bapaknya kesel banget. Aku sebenernya di harapin gak sih," ucapnya.

Sejak masuk STM, Alitt mulai berubah menjadi nakal. Ia melakukan hal itu hanya untuk membuat orang tuanya memperhatikannya. Sayangnya meski sudah sering mabuk-mabukan orang tuanya tetap terkesan cuek.

"Kenapa aku pricing waktu itu karena mama masih pulang aku berharap dipanggil guru. Dikasih tahu Alit ini sebenarnya berprestasi tapi sayang kenapa anting-antingan ya. Aku berharap abis itu dimarahin. Ternyata enggak jawab gurunya cuma namanya anak muda nanti kalau bosen juga dilepas," katanya.

Bahkan pada momen itu, Alitt menganggap menyakiti orang tuanya hingga marah ataupun menangis adalah hal yang menyenangkan karena ia bisa mendapatkan perhatian itu.

"Sampai pas SMA aku berontak dalam artian yang bisa bikin aku happy itu kalau bikin nyokap marah atau nangis. Di situ oh ternyata aku bisa nyentuh hatinya. Ternyata cara nyentuh hatinya aku sakiti. Omongan kasar dulu sering banget," katanya.

Alitt pun mengalami kecelakaan yang membuatnya harus dirawat selama tiga pekan. Namun, ternyata saat itulah ia mendapat apa yang selama ini diinginkan. Kasih sayang sang ibu yang selalu merawatnya membuat Alitt akhirnya tersadar.

"Nyokap bilang sejelek-jeleknya apapun kamu, seburuk-buruknya apa yang kamu lakuin kemarin kamu masih anak ku kamu darah daging ku dan aku yakin ada waktunya kamu akan berubah dan aku sabar nunggu itu," katanya.

Sejak saat itu pemikiran Alitt tentang berbagai macam hal mulai berubah. Ia yang tadinya ingin langsung bekerja setelah lulus sekolah justru ingin berkuliah.

"Sampai akhirnya fikiran ku yang awalnya logis jadi imajinatif gitu. Jadi liat jam itu aku mikir ini bagus nih jadi awal cerita. Sampai akhirnya coba nulis ah pas lulus sekolah. Waktu itu aku bilang ke nyokap abis sekolah aku mau kuliah. Nyokap bingung duitnya darimana," katanya.

Alitt yang tidak ingin membebankan orang tuanya lagi memilih untuk bekerja untuk bisa membiayai kuliahnya. Setahun kemudian setelah uang itu terkumpul akhirnya Alitt berkuliah di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta jurusan Pendidikan Bahasa Inggris.