Cerita anak-anak mantan mujahidin di Poso: trauma kekerasan aparat dan berpotensi mewarisi ideologi ekstremisme

<span class="caption">Desa Tamanjeka di Poso, Sulawesi Tengah.</span> <span class="attribution"><span class="source">Rani Dwi Putri/CSPS UGM</span>, <span class="license">Author provided</span></span>
Desa Tamanjeka di Poso, Sulawesi Tengah. Rani Dwi Putri/CSPS UGM, Author provided

Rendra, bukan nama sebenarnya, adalah anak dari salah satu anggota Mujahidin Indonesia Timur (MIT), kelompok militan asal Indonesia yang beroperasi di wilayah pegunungan di Sulawesi Tengah.

Pada tahun 2015, ayah Rendra meninggal saat baku tembak dengan Detasemen Khusus (Densus) 88 – satuan kepolisian untuk penanganan teror.

Dua tahun sebelumnya, ayahnya masuk daftar pencarian orang (DPO) dan ikut bergerilya di Gunung Biru, Poso, di bawah komando Sabar Subagio alias Daeng Koro, anggota inti MIT yang sebelumnya juga merupakan mantan pasukan Angkatan Darat (TNI AD).

Kejadian tersebut tidak hanya menyisakan luka mendalam bagi Rendra yang kini berusia 12 tahun, tapi juga memicu dendam dan keinginan kuat untuk melanjutkan perjuangan ayahnya sebagai seorang mujahidin, sebutan umum bagi Muslim yang ikut serta dalam suatu peperangan.

Baginya, ayahnya bukanlah sosok penjahat layaknya stigma yang melekat pada seorang teroris, melainkan seorang pahlawan pemberani yang penuh kasih sayang, baik padanya dan kedua adiknya.

Tobi, bukan nama sebenarnya, baru berusia 4 tahun saat ia menyaksikan kedua orang tuanya ditangkap oleh aparat militer dalam operasi Tinombala (sekarang bernama Operasi Madago Raya), operasi militer gabungan oleh TNI dan Polri untuk menangkap teroris Santoso beserta jaringan MIT, pada 2015.

Operasi Tinombala sempat menuai kontroversi karena aparat militer diduga kuat melakukan salah tembak yang menyebabkan tewasnya dua warga sipil di Poso.

Operasi penangkapan tersebut juga abai asas kemanusian – termasuk membiarkan anak-anak di bawah umur berada di tempat kejadian. Tobi sendiri harus melihat langsung puluhan aparat datang mengobrak-abrik rumahnya dan membawa ayah ibunya.

Kedua orang tua Tobi memang terbukti membantu kelompok MIT. Ayahnya memberikan bantuan logistik, sedangkan ibunya berperan menampung dana bantuan untuk kelompok MIT. Namun kini keduanya telah lama resmi keluar dari jaringan MIT.

Memori buruk ini membawa dendam yang sangat mendalam bagi Tobi. Setelah peristiwa itu, ketika bertemu aparat keamanan, Tobi akan menunjukkan ekspresi kebencian, misalnya dengan melempar batu ke arah mereka.

Seperti Rendra, ia juga mengaku sangat ingin menjadi mujahidin, ikut bergabung dan bergerilya bersama kelompok MIT untuk melawan polisi.

Kejadian tersebut juga membuat Tobi terus menolak untuk mengikuti pelajaran Pancasila dan Kewarganegaraan di sekolahnya, bahkan hingga saat ini. Keinginannya untuk menjadi mujahidin masih sangat kuat meski kini kedua orang tuanya bukan lagi bagian dari kelompok ekstremisme.

Rendra dan Tobi merupakan anak dari para informan kami, tim peneliti dari Center for Security and Peace Studies (CSPS) Universitas Gadjah Mada (UGM), dalam riset mengenai agensi perempuan dalam lingkaran ekstremisme kekerasan yang kami lakukan selama periode 2019-2021 di Poso.

Riset ini dilakukan di bawah naungan CSPS UGM. Semua informannya merupakan perempuan. Narasi Rendra dan Tobi tidak disampaikan secara langsung, melainkan kami dapatkan dari beberapa kali sesi wawancara bersama Ibu Rendra maupun Ibu Tobi.

Pewarisan ideologi ekstremisme

Kondisi Renda dan Tobi merefleksikan bagaimana generasi termuda yang tumbuh di lingkaran kelompok MIT berpotensi mewarisi ideologi ekstremisme. Bisa jadi ini adalah salah satu faktor mengapa kekerasan di Poso seolah tak kunjung usai.

Setelah mengalami konflik komunal antara komunitas Muslim dan Kristen yang mengakibatkan ribuan orang meninggal, terluka dan kehilangan rumah, praktik kekerasan di Poso berlanjut dengan menguatnya kelompok jihadis lokal, termasuk terbentuknya MIT dan masuknya Jemaah Islamiyah, organisasi militan Islam di Asia Tenggara.

Jemaah Islamiyah disebut-sebut berusaha mendirikan negara Islam raksasa di Asia Tenggara.

Untuk mempertahankan jaringannya, salah satu strategi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok ekstremisme ini adalah dengan memastikan regenerasi terus berjalan, melalui pewarisan dan penanaman ideologi jihad sejak dini pada anak-anak mereka.

Rendra, contohnya, sejak kecil telah akrab dengan aktivitas dan hal-hal seputar jihad. Saat ayahnya masih menjadi buron, Rendra bersama ibunya beberapa kali turut serta dalam kunjungan diam-diam ke sebuah kebun sekitar tempat persembunyian ayahnya di Gunung Biru - hal yang juga dilakukan oleh beberapa istri anggota MIT lainnya.

Dalam kunjungan tersebut, menurut penuturan ibunya, Rendra diberikan pemahaman tentang pentingnya jihad. Ayahnya juga sesekali mengajari Rendra tentang cara penggunaan senjata api.

Pada proses ini, Renda berada pada tahap ‘seduksi’ (rayuan). Ini adalah tahap awal pengenalan ideologi ekstremisme dan ide-ide mengenai jihad oleh orang tua dan lingkungan sekitarnya.

Pada tahap ini terlihat betapa besarnya peran keluarga dalam menanamkan paham ekstremisme dan proses radikalisasi pada anak-anak – termasuk bagaimana mereka dibentuk untuk mengimajinasikan sosok mujahidin.

Peran perempuan dalam lingkaran ekstremisme

Dalam kasus Rendra, selain ayahnya, ibunya juga berperan penting dalam memperkuat narasi dendam atas apa yang menimpa keluarganya.

Riset kami menunjukkan bahwa beberapa perempuan memang memiliki peran yang strategis dalam menanamkan serta memelihara ideologi jihad pada anak-anaknya.

Namun, tak bisa dipungkiri, kami juga menemukan banyak perempuan di sana yang justru menjadi garda terdepan dalam memutus rantai ekstremisme dan radikalisme dalam keluarganya.

Perempuan, melalui perannya sebagai seorang ibu, mampu mendeteksi tanda awal dari radikalisasi anak-anaknya.

Tidak hanya itu, keterampilan mereka untuk membuka dialog dan komunikasi personal terbukti mampu memberikan pemahaman yang lebih toleran dan pandangan yang lebih luas pada anak-anaknya.

Melalui cara ini pula, seorang ibu membuka wawasan dan imajinasi baru tentang karir dan masa depan, yang tentunya jauh dari angan-angan menjadi mujahidin dan praktik kekerasan lainnya.

Sekolah turut menyebarkan radikalisme

Lembaga pendidikan di Poso juga mengambil peran dalam penyebaran ideologi ekstremisme terhadap anak-anak.

Laporan riset kami menemukan ada dua pesantren yang menjadi pusat dari aktivitas para pendukung Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS), organisasi militan internasional yang berasal dari Irak. Keduanya menjadi tempat penampungan untuk anak-anak anggota MIT.

Dua tempat itu adalah Pesantren Darul Anshar Putri yang berpusat di Kelurahan Kayamanya dan Darul Anshar Putra yang berada di wilayah Malino. Rendra adalah salah satu murid Darul Anshar.

Dalam kasus ini, jelas bahwa sekolah tidak hanya memberikan ruang untuk indoktrinasi yang lebih intensif, melainkan juga paparan dan akses langsung ke anggota dan jejaring kelompok ekstremisme kekerasan.

Sekolah menjadi instrumen yang strategis untuk membentuk hati dan pikiran dalam melahirkan calon-calon mujahidin yang lebih tangguh.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel