Cerita Anak Penjual Ikan Teri Lulus Jadi TNI AD

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Aceh - Langit yang menaungi Desa Lhok Paoh, Kecamatan Manggeng, Aceh Barat Daya, tampak biru cerah. Kontur puncak-puncak pegunungan berwarna hijau gelap di bawah gugusan gegana yang berwarna seputih kapas.

Pagi menjelang siang begitu adalah waktu terbaik bagi Cut Kasihan (52) untuk menjemur ikan teri-ikan miliknya apalagi cuaca sedang berpihak kepadanya. Ia pun bergegas meratakan tumpukan ikan-ikan kecil itu di atas tempat pengeringan dibantu adik perempuannya.

Raut wajah Kasihan tampak lebih berbinar dari biasanya pada hari itu. Hatinya masih diliputi rasa bangga karena anaknya, Khusnul Khatam (20), dinyatakan lulus sebagai prajurit TNI AD.

Kasihan sebenarnya masih belum percaya bahwa anaknya lulus murni. Selama ini, dia menganggap bahwa untuk menjadi seorang prajurit harus mengeluarkan segepok duit yang tidak mungkin dipenuhi oleh keluarga penjual ikan teri seperti mereka.

Saat anak mereka datang membawa kabar gembira kepada Kasihan dan suaminya, sekonyong-konyong mereka menangis bersamaan. Apa yang ada di dalam hati mereka tidak bisa digambarkan dengan kata-kata pada waktu itu.

"Kenapa dia nangis? Bapaknya orang miskin, mamaknya orang miskin, anaknya jadi itu," ungkap Kasihan, saat diwawancarai oleh awak media.

Khusnul telah menjalani pendidikan prajurit Tamtama gelombang pertama di Rindam Iskandar Muda Banda Aceh. Selain dia, ada tiga orang lagi dari kabupaten yang sama juga dinyatakan lulus.

"Macam mana kita bilang ya, rasanya tidak mungkin. Kita ini, kan orang tepi laut, orang bodoh, orang tidak mampu, tidak mungkin jadi," ungkap ayah Khusnul, Taufik (60).

Tercapainya cita-cita Khusnul menjadi prajurit berkat latihan yang dijalani dengan serius jauh-jauh hari. Saban hari, Khusnul berlari di pinggir laut disertai latihan lainnya untuk mempersiapkan fisik serta membentuk otot-ototnya.

"Jujur, kecil hati saya itu hilang setelah melihat kemampuan fisik dan psikis anak saya yang begitu tinggi. Saya yakin cita-citanya itu akan terwujud, terlebih setelah adanya informasi dari Babinsa bahwa masuk TNI itu gratis tidak dipungut uang," tutur Taufik.

Istrinya masih mengingat-ingat sewaktu anak mereka itu mengutarakan niatnya untuk menjadi Tentara Nasional Indonesia dengan alasan ingin membahagiakan orangtua, terutama karena sang ayah sudah tua dan sakit-sakitan. Kini, kedua orangtuanya senang bukan main.

Simak juga video pilihan berikut ini: