Cerita Apesnya Omid Nazari Dilempar Batu Suporter saat Baru Membela Persib

Bola.com, Jakarta - Pemain tengah asal Filipina berdarah Iran, Omid Nazari datang ke Persib Bandung pada Agustus tahun 2019. Ia diperkenalkan Tim Maung Bandung pada 15 Agustus 2019 bersama dengan Nick Kuipers dan Kevin van Kippersluis.

Omid mengawali debutnya pada 30 Agustus 2019 melawan PSS Sleman di Stadion Si Jalak harupat. Permainannya di lini tengah mampu membantu Persib, yang pada akhirnya bisa memenangkan pertandingan dengan skor 1-0.

Peran Omid dalam permainan Persib Bandung musim lalu sangatlah penting. Omid bertugas sebagai box to box midfielder yang harus mempunyai kemampuan mumpuni dalam meberikan umpan dan melalukan set piece.

Selain itu, peran tersebut dituntut juga dapat memetahkan serangan lawan ketika membangun serangan. Pemain dengan nama lengkap Omid David Lazarte Nazari ini selama Liga 1 2020 selalu menjadi pilihan utama dari pelatih Persib, Robert Alberts.

Sejauh ini, Omid selalu tampil di tiga laga awal Persib serta mencatatkan 90 menit bermain setiap pertandingannya.

Omid menceritakan ketika pertama kali ia datang ke Bandung dan mendapat sambutan baik Bobotoh. Hal itu membuat Omid merasa nyaman di Bandung dan ingin membalas kebaikan Bobotoh dengan prestasi.

"Sejak saya datang pada Agustus 2019 lalu tim ini dan bobotoh sangat menyambut dengan sangat baik. Dan mereka sangat membuat saya nyaman selama di Bandung. Saya ingin membalas kebaikan ini dengan prestasi," ungkap Omid seperti dikutip dari Pikiran Rakyat.

Sebelum berseragam Persib pada 2019, Omid telah lebih dulu memulai kariernya di Asia Tenggara bersama klub Filipina, Global Cebu dan Ceres Negros (Melaka United tak termasuk karena dia belum bermain).

"Begitu saya sampai di Filipina, di sana bukan negara sepak bola yang besar. Filipina seperti Amerika karena orang-orang lebih menyukai bola basket. Tidak banyak orang mengikuti sepak bola di sana," kata Omid seperti dilansir Aftonbladet.se.

"Tahun pertama terasa sangat amatir. Saya bermain untuk klub bernama Global FC (2016) dan levelnya hampir sama dengan jika saya bermain di Rosengard (tim divisi 2 Swedia). Semua pertandingan di seluruh liga dimainkan dalam arena yang sama di Manilla dan itu selalu dengan tribun yang hampir sepenuhnya kosong," ujarnya melanjutkan.

Namun, menurut Omid semua itu berubah pada 2017. Filipina mengumumkan bahwa mereka telah memulai liga profesional. Momen itu bertepatan saat dirinya berseragam Ceres-Negros. "Semua klub memiliki arena sendiri. Pemilik kami di Ceres-Negros berasal dari provinsi bernama Bacolod, jadi wajar bagi kami untuk bermain di sana," tutur pemain kelahiran Malmo, 29 April 1991 itu.

 

Tak Ada yang Peduli Sepak Bola di Filipina

Gelandang Persib Bandung, Omid Nazari, menghindari tekel gelandang Persebaya Surabaya, Muhammad Hidayat, pada laga Liga 1 Indonesia di Stadion I Wayan Dipta, Bali, Jumat (18/10). Persib menang 4-1 atas Persebaya. (Bola.com/Aditya Wany)

Omid menceritakan kenapa akhirnya memutuskan meninggalkan Filipina menuju Indonesia untuk membela Persib.

"Musim panas lalu, saya akhirnya memilih untuk meninggalkan Filipina. Di Asia Tenggara itu adalah klub yang sangat besar yang semua orang tahu. Dan jika Anda membandingkan sepak bola di Indonesia dengan sepak bola di Filipina, perbedaannya adalah total," ujarnya.

"Di Filipina hampir tak ada orang peduli dan semuanya berubah saat datang ke sepak bola Indonesia. Kami biasanya memiliki 30.000-40.000 penonton dan semuanya fanatik," katanya.

Namun saking fanatiknya, kerap berujung negatif. Omid merasakannya usai bertanding kontra Tira Persikabo di Stadion Pakansari, Bogor pada 14 September 2019 silam.

"Suatu hari seseorang melempar kepala saya dengan batu. Itu terjadi saat kami keluar dari stadion setelah pertandingan," ceritanya.

"Beruntung saya masih dapat melihat setelah kejadian itu. Tapi saya harus mendapat sembilan jahitan di kening. Sampai sekarang pun bekas lukanya belum hilang. Saya baru datang ke Indonesia saat insiden itu terjadi. Kejadian tersebut jadi pengalaman berharga yang mempertegas fanatisme suporter sepak bola Indonesia luar biasa walau mungkin kadang berlebihan," tutur gelandang berusia 28 tahun tersebut melanjutkan.

Video