Cerita Ari, Ojol yang Terdampak Covid-19

Syahdan Nurdin, pppadaqu
·Bacaan 3 menit

VIVA – Namanya adalah Ari Suryana, ia merupakan salah seorang warga Kecamatan Ciledug, Kota Tangerang, Banten. Ari, sapaan akrabnya, adalah ayah dari tiga orang anak. Namun, anak pertamanya telah meninggal dunia. Sementara anak keduanya saat ini sudah duduk di bangku kuliah.

Keseharian lelaki 48 tahun itu adalah sebagai ojek online (ojol). Pekerjaan ini bukan hal yang baru baginya, Ari sudah empat tahun terbiasa mondar-mandir di jalanan menjadi seorang ojol. Meski sempat keluar masuk berbagai perusahaan, akhirnya ia melabuhkan pilihannya menjadi ojol.

"Saya full di ojol, pernah kerja, itu pun juga nggak bertahan lama, namanya perusahaan individual, tergantung modal usaha, kalau yang permanen ya bisa bertahan dengan kondisi sekarang, kalau yang pas-pasan ya keluar," ungkap Ari.

Ari pernah merasakan manisnya menjalani pekerjaan ini, yakni saat Covid-19 belum mewabah. Ketika itu, penghasilannya cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya. Bisa dibilang, hasil keringatnya cukup untuk menghidupi istri dan kedua anaknya.

Akan tetapi, Covid-19 seakan menjadi mimpi buruk bagi Ari dan keluarganya. Selain karena ancaman kesehatan, penghasilannya pun kian hari kian menurun. Jasa antar jemput karyawan, anak sekolah dan langganannya kini perlahan sepi karena adanya pembatasan kegiatan masyarakat.

Tak hanya itu, bertambahnya saingan di kalangan ojol juga membuatnya semakin gigit jari. Menurutnya, para karyawan yang sebelum adanya Covid-19 hanya menjadikan ojol sebagai pekerjaan sampingan, terpaksa banting stir dan menjadikan ojol sebagai pilihan utama ketika mereka dirumahkan oleh perusahaannya.

"Sebenarnya begini, kalau sebelum Covid-19, alhamdulillah ketutup buat sehari-hari, tapi setelah Covid-19, aktivitas karyawan juga dibatasi, anak sekolah libur, terus saingan yang tadinya punya sambilan aplikasi ojol, setelah mereka dirumahkan otomatis mereka full di ojol, jadi namanya orderan ya terbatas, sedangkan saingan bertambah," jelas Ari.

Bukannya tanpa alasan, rumah yang masih ngontrak dengan bayaran Rp 855.000 per bulan juga membuat Ari harus berpikir keras untuk mencari uang tambahan. Di sisi lain, kedua anaknya yang masih sekolah juga membutuhkan uang saku setiap harinya. Belum lagi saat mereka ditagih bayaran oleh sekolah.

"Saya, sih, berharap Covid-19 cepat berlalu, aktivitas anak sekolah mulai dari PAUD sampai tingkatan SMA normal kembali, karena di ojol penghasilan itu lebih banyak dari anak-anak sekolah," harapnya.

Meski demikian, bukan Ari namanya jika harus menyerah kepada semua keadaan itu. Dengan seluruh tenaga yang ia miliki, Ari berusaha keras agar tidak membuat keluarganya kelaparan di masa krisis ini. Di mata istri dan keluarganya, penghasilan berapapun tak masalah, asal halal dan Ari mencarinya dengan ikhlas.

Alhamdulillah, pada Rabu (7/4) lalu, PPPA Daarul Qur'an singgah di kediaman Ari untuk menyalurkan bantuan sembako. Ia dan istri nampak gembira saat menyambut PPPA Daarul Qur'an. Kepada para donatur, Ari mengucapkan terima kasihnya atas bantuan tersebut.

"Terima kasih PPPA Daarul Qur'an dan para donatur yang sudah bersedekah, alhamdulillah kami punya persediaan sembako lagi, semoga Allah lipat gandakan kebaikannya," ujar Ari sumringah.

PPPA Daarul Qur'an memang secara rutin memberikan dukungan kepada para pejuang nafkah, khususnya mereka yang terdampak Covid-19. Terlebih saat memasuki bulan suci Ramadan nanti, PPPA Daarul Qur'an akan menyalurkan ribuan paket sembako kepada para pejuang nafkah, UMKM, guru ngaji, santri dhuafa dan banyak lagi. Harapannya, dukungan yang dilakukan oleh PPPA Daarul Qur'an dapat meringankan beban mereka sehingga masa sulit ini dapat segera dilalui.