Cerita Ary Yulistiana, Menjadi Guru Berprestasi dengan Menulis Buku

·Bacaan 4 menit

Liputan6.com, Jakarta - Guru yang menulis bisa mengabadikan pemikirannya ke dalam bentuk tulisan. Pengalaman Ary Yulistiana mengisi suatu acara di Papua secara daring dua tahun lalu membukakan kesadarannya bahwa ada tempat yang masih terasing, kesulitan sinyal internet, dan sangat minim bahan bacaan.

"Itulah salah satu hal yang menyemangati saya untuk terus menulis. Dengan tulisan kita bisa merekam jejak pengalaman hidup ke dalamnya dan membagikannya kepada orang lain tanpa harus kesulitan sinyal internet,” kata Ary Yulistiana kepada Liputan6.com pekan lalu.

Perbedaan Guru yang Menulis dan Tidak

Mereka yang menulis pasti merupakan individu yang rutin membaca. Menulis dan membaca adalah dua aktivitas yang saling terkait. Apabila dilakukan secara rutin, konsisten, dan berkelanjutan akan dapat mendatangkan manfaat dan pengalaman. Hal tersebut akan membawa guru pada pengalaman baru dan kemanfaatan baru yang mungkin belum terpikir sebelumnya.

Nilai-nilai tersebutlah yang kemudian membedakan guru yang biasa menulis dengan yang tidak. Kemanfaatan itu di antaranya dirasakan melalui bukunya yang berjudul Belajar Pendidikan Abad 21 di Queensland Australia yang terbit tahun 2020, menjadi bahan bacaan yang menginspirasi para guru di Papua. Dengan membaca buku tersebut, mereka mengatakan bahwa seolah benar-benar mengikuti pelatihan di Australia.

Buku itu berisi rekam jejak pengalaman Ary menjejak Negeri Kanguru pada bulan Februari hingga Maret 2019 lalu dalam rangka mengikuti pelatihan singkat yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

"Inilah bukti bahwa menulis bukan hanya menjadi media menuangkan gagasan, tapi juga merekam pengalaman nyata yang dialami seorang guru, yang bisa dibagikannya kepada orang lain," kata Ary yang telah menulis 25 buku ini.

Satyalancana Pendidikan dari Presiden RI

Dokumentasi Pribadi Ary Yulistiana
Dokumentasi Pribadi Ary Yulistiana

Saat Olimpiade Guru Nasional (OGN) di tahun 2019 Ary dianugerahi medali emas atas pencapaiannya menjadi yang terbaik di mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Hal itu yang kemudian membawanya mendapatkan Penghargaan Satyalancana Pendidikan dari Presiden Republik Indonesia.

Satyalancana Pendidikan merupakan Tanda Kehormatan Negara yang diberikan kepada guru dan pamong belajar yang memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam perundang-undangan. Proses penilaian panjang selama 6 bulan pun dilewatinya. Saat itu, dia terpilih menjadi salah satu dari total 9 orang guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus dari seluruh Indonesia.

"Saya rasa, aktif menulis dan menghasilkan karya terutama buku menjadi salah satu poin plus saat penilaian. Itu salah satu faktor yang membuat saya berhasil mendapatkan penghargaan yang saat itu diserahkan langsung oleh Mendikbudristek, Nadiem Makarim," tambah Ary yang saat ini masih aktif sebagai guru Bahasa Indonesia di SMKN 9 Surakarta ini.

Kiat untuk Tetap Produktif

Ary Yulistiana dan Koleksi Bukunya
Ary Yulistiana dan Koleksi Bukunya

"Setiap orang punya alokasi waktu yang sama kan ya. Kita sama-sama punya 24 jam dalam sehari. Tapi, kenapa kok hasil yang didapat bisa berbeda?" ujarnya sembari melempar pertanyaan sebagai bahan diskusi pada pewarta.

Ternyata yang perlu dilakukan adalah mengelola waktu dengan bijak. Kiat aplikatif untuk tetap produktif menulis yang tetap dilakoninya antara lain:

Fokus, hadir penuh, sadar utuh, menetapkan prioritas (priority thinking). Bedakan mana urusan atau pekerjaan yang mendesak dan penting, mana yang tidak atau bahkan bisa ditunda untuk sementara waktu. Kemampuan untuk mendelegasikan tugas juga diperlukan.

"Sadari kalau kita tidak bisa mengerjakan semuanya sendiri. Beberapa pekerjaan yang sekiranya bisa didelegasikan dapat mengefektifkan waktu yang dimiliki," dia mengatakan.

Penting juga untuk menciptakan habitat yang mendukung, membangun support system. Salah satu caranya menciptakan habitat baca tulis di lingkungan rumah. Mengatur waktu pemakaian gadget juga jadi hal yang kerap diperhatikannya. Itu bisa jadi sumber penyebab ketidakfokusan diri, dan membuat waktu habis tak terkontrol.

"Sejak kecil saya juga membiasakan membacakan buku cerita untuk anak-anak sebelum tidur. Meski lelah setelah seharian bekerja, tapi tetap rutin saya lakukan. Ini penting untuk memupuk habit literasi sejak dini di lingkungan rumah," kata guru kelahiran Surakarta itu.

Hal ini terbukti mendukung profesi kepenulisannya. Anak-anak tak merasa asing ketika melihat ibunya membaca atau menulis. Mereka mengerti dan tidak protes karena perhatian yang kadang terbagi. Bahkan, di rumah saling menyemangati untuk membaca dan menulis.

Tips Mengatasi Rasa Malas Menulis

"Rasa malas bisa diatasi, asal ada kemauan dari dalam diri sendiri. Bisa terapkan dengan cara-cara berikut," kata dia.

  1. Menetapkan target menulis.

  2. Pengaturan waktu (time management).

  3. Membuat to do list yang realistis, tidak terlalu muluk dan tidak memberatkan. Permudah akses diri untuk melakukannya to do list tersebut.

  4. Mengikutsertakan diri pada kompetisi menulis. Kompetisi dapat memantik adrenalin dan memotivasi diri.

  5. Kalahkan konten negatif dengan membuat konten positif.

  6. Menulis itu bisa memperhalus budi pekerti.

  7. Peran penting untuk berkontribusi pada bangsa dan negara, bahwa kita memiliki tanggung jawab untuk membangun literasi.

"Ingat dan ingat lagi akan mereka yang terinspirasi dari tulisan kita, mereka yang menanti karya-karya kita,” pungkas mentor buku Antologi KINANG itu pada peliput.

Simak video pilihan berikut ini:

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel