Cerita Balada Kambing dan Harimau Letjen TNI Prabowo

Radhitya Andriansyah
·Bacaan 2 menit

VIVA – Kayaknya, kalau membicarakan soal kepemimpinan sama sosok ini, tidak akan selesai kalau cuma sehari semalam. Sebab, pengalamannya soal memimpin sudah terlalu banyak. jenderal bintang tiga TNI ini sampai di akhir kariernya selalu jadi pentolan satuan elite tempur.

Bisa dibilang kalau bertaruh nyawa di medan perang, Letjen TNI H. Prabowo Subianto Djohadikusumo adalah salah satu jagoannya. Mengendalikan satuan elite tempur dari balik meja tak jadi masalah. Sebab, dia juga pernah jadi orang nomor satu Komando Pasukan Khusus (Kopasus) dan Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (Kostrad).

Sehabis kariernya usai di dunia militer, bukannya beristirahat dan menghabiskan masa pensiun. Ya, Pak Prabowo terjun di dunia politik. Kita semua tahu, sekarang pria kelahiran Jakarta 17 Oktober 1951 itu punya jabatan sebagai Menteri Pertahanan Republik Indonesia (Menhan RI) di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Maklum, darah prajurit yang mengalir dalam diri Prabowo membuatnya tetap semangat. Padahal, usianya sudah hampir memasuki kepala tujuh.

Soal menjadi seorang pemimpin, Prabowo mengakui kalau dirinya memang banyak mendapatkan pelajaran berharga selama 24 tahun dinas di Kopassus. Jangan salah, Prabowo enggak cuma belajar dari senior-seniornya. Tapi, ia juga selalu mengambil pelajaran dari para anak buahnya.

"Banyak pelajaran yang saya dapatkan dari senior saya, dan anak buah saya mengenai kepemimpinan, dan sikap membela NKRI yang saya ingat sampai sekarang," tulis Prabowo di akun Twitter pribadinya.

Apa yang dibilang Prabowo itu memang benar. Sebab, jauh sebelum ia bisa jadi orang nomor satu di Korps Baret Merah, Prabowo lebih dulu jadi komandan pleton dan lanjut sesuai tingkatan pangkatnya.

Jadi kalau istilah anak milenial dipakai, kepemimpinan Prabowo "bukan kaleng-kaleng". Karena Prabowo enggak langsung tiba-tiba jadi jenderal. Tapi merintisnya lebih dulu dari tingkatan bawah.

Prabowo percaya banget kalau yang namanya prajurit atau anak buah tidak ada yang buruk. Yang ada menurut Prabowo, hanyalah komandan yang buruk. Hal ini sesuai dengan pepatah yang berlaku dan dipercaya militer di seluruh dunia, "there are no bad soldiers, only bad commanders".

Uniknya, Prabowo mengibaratkan seorang pemimpin yang baik itu bisa memotivasi semangat anak buahnya. Ia mengambil contoh seribu ekor kambing yang diibaratkan sebagai prajurit. Walaupun cuma seekor kambing, tapi kalau pemimpinnya seekor harimau bisa jadi kambing-kambing itu akan mampu bertarung dengan sangar seperti harimau.

Sebaliknya, kalau ada seribu ekor harimau tapi yang jadi pimpinannya seekor kambing. Bukannya tak mungkin para harimau itu justru kehilangan kemampuan bertarungnya.

"Ada sebuah adagium (pepatah) yang berlaku bagi setiap tentara sepanjang sejarah. "There are no bad soldiers, only bad commanders," kata Prabowo melanjutkan.

"Tidak ada prajurit yang jelek. Hanya ada para komandan yang jelek. Seribu kambing dipimpin oleh seekor harimau, akan mengaum semua. Tetapi, seribu harimau dipimpin kambing akan embek semua," ujarnya.