Cerita Budak Seks Jepang

Oleh Mari Yamaguchi / Associated Press

Tokyo (AP) – Wali kota di Jepang yang memicu kemarahan terkait masa perang Jepang dan layanan seksual modern menanggapi pernyataannya sendiri dan mengatakan, ia mungkin kurang “sensitif terhadap dunia internasional.”

Wali kota Osaka Toru Hashimoto mengatakan, kurangnya kepekaan dirinya terhadap persepsi orang Amerika mengenai prostitusi mungkin telah menyebabkan kemarahan. Sebelumnya, dia berkata bahwa pasukan AS yang berpangkalan di selatan Jepang harus melindungi tempat hiburan orang dewasa, untuk mengurangi kejahatan seks di sana.

Hashimoto, salah satu pemimpin partai nasionalis, juga telah memicu kemarahan negara tetangga Jepang gara-gara mengatakan bahwa praktik militer Jepang pada masa perang (yang membuat perempuan Asia masuk ke dalam prostitusi) diperlukan untuk menjaga disiplin dan memberikan hiburan terhadap para prajurit agar bisa bersantai.

Pada Kamis, ia mengklaim bahwa hal itu diterapkan secara luas oleh sejumlah negara selama Perang Dunia II dan Jepang diperlakukan secara tidak adil.

Departemen Luar Negeri AS menyebut komentar Hashimoto "keterlaluan dan ofensif”.

Sejarawan mengatakan hingga 200.000 perempuan, terutama dari Semenanjung Korea dan Cina, dipaksa memberikan layanan seks kepada tentara Jepang di rumah bordil militer. Meskipun beberapa tentara Perang Dunia II lainnya memiliki rumah bordil militer, Jepang adalah satu-satunya negara yang secara luas dituduh melakukan perbudakan seksual yang terorganisir.

Komentar Hashimoto menambah kemarahan negara-negara tetangga yang mengalami agresi perang Jepang.

Pada Kamis, Hashimoto mengatakan bahwa dia tidak berniat mencabut komentarnya sebelumnya. Namun dia mengatakan bahwa sambutannya mungkin dianggap tidak pantas oleh orang-orang di luar Jepang yang memiliki nilai-nilai yang berbeda dari Jepang.

"Jika ada satu kesalahan besar yang saya lakukan, mungkin karena saya kurang memahami budaya di balik industri seks Amerika Serikat — jika Anda menyebutkan hiburan dewasa di Amerika Serikat, maka semua orang mengira itu prostitusi," kata Hashimoto dalam program bincang-bincang yang disiarkan secara langsung di TV dari Osaka, Jepang barat. "Saya mengakui bahwa sensitivitas internasional saya tidak terlalu baik ketika saya harus bertugas di luar batas-batas negara."

Keributan dimulai pada Senin ketika Hashimoto mengomentari "perempuan penghibur" masa perang yang memberikan layanan seks untuk Tentara Kekaisaran Jepang. Hashimoto mengatakan bahwa saat kunjungan terbarunya ke pulau selatan Okinawa, dia berkata kepada komandan AS di sana bahwa pasukan memanfaatkan industri seks yang legal.

Lebih dari separuh dari sekitar 50.000 tentara AS yang berbasis di Jepang yang ditempatkan berdasarkan perjanjian keamanan bilateral berada di Okinawa, tempat terjadinya kejahatan yang telah lama memicu sentimen antimiliter AS.

Para pejabat AS menolak proposalnya. "Hal tersebut tidak perlu diungkapkan," kata Pentagon Press Secretary George Little pada Selasa di Washington.

Dalam sebuah twit, anggota parlemen Mike Honda, seorang Demokrat yang telah mendesak Jepang untuk bertanggung jawab atas perbudakan seks masa perang, menyebut pernyataan Hashimoto tentang "wanita penghibur" adalah hal yang "hina dan menjijikkan," dan menuntut pemerintah Jepang "meminta maaf atas kekejaman ini."

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Jen Psaki, mengatakan perdagangan perempuan untuk tujuan seksual pada masa itu adalah "pelanggaran HAM berat."

"Kami berharap bahwa Jepang akan terus bekerjasama dengan tetangga-tetangganya untuk mengatasi ini dan masalah lain yang timbul dari masa lalu dan membangun hubungan yang memungkinkan mereka bergerak maju," kata Psaki kepada wartawan pada Kamis.

Pada Kamis, Hashimoto mengatakan bahwa komentarnya tidak dimaksudkan untuk membenarkan atau menutupi penggunaan prostitusi pada masa perang Jepang dan Jepang harus meminta maaf kepada para wanita tersebut entah mereka dipaksa atau tidak untuk terlibat di dalam protitusi.

Komentar Hashimoto muncul di tengah kritik yang terus datang tentang janji Perdana Menteri Shinzo Abe sebelumnya untuk merevisi permintaan maaf Jepang di masa lalu atas kekejaman masa perang. Sebelum ia menjabat pada Desember, Abe telah menganjurkan untuk merevisi pernyataan 1993 oleh mantan sekretaris kabinet Yohei Kono yang mengakui dan mengungkapkan penyesalan atas penderitaan yang disebabkan terhadap budak seks.

Abe mengakui "wanita penghibur" ada tapi membantah mereka dipaksa menjadi pelacur, mengutip kurangnya bukti resmi. Baru-baru ini dia juga mengatakan bahwa definisi "agresi" masih belum terbentuk, hal yang memicu kritik dari tetangga Jepang.

Pada Senin, sebuah foto yang diterbitkan dalam surat kabar Jepang menunjukkan Abe berpose di sebuah jet tempur dengan nomor 731 (kode unit terkenal Jepang, yang melakukan eksperimen kimia dan biologi di Cina saat Perang Dunia II). Dia pun dikritik kurang memiliki kepekaan.

Rangkaian pernyataan dan tindakan oleh para pemimpin politik Jepang bisa memengaruhi cara pandang dunia terhadap Jepang, tutur ahli.

"Saya pikir hal itu benar-benar merusak. Mereka adalah orang yang terkenal. Jika ini adalah satu-satunya cara pemberitaan Jepang untuk menarik perhatian … maka itu tidak baik bagi negara," kata Koichi Nakano, seorang profesor ilmu politik di Universitas Sophia di Tokyo.

Memuat...
PEDOMAN KOMENTAR

Ayo berpartisipasi membangun budaya berkomentar yang baik. Bila menemukan komentar bermuatan menghina atau spam, berikan jempol bawah, tanda Anda tak menyukai muatan komentar itu. Komentar yang baik, berikan jempol atas.


Kolom komentar tersedia untuk diskusi, berbagi ide dan pengetahuan. Hargai pembaca lain dengan berbahasa yang baik dalam berekspresi. Setialah pada topik. Jangan menyerang atau menebar kebencian terhadap suku, agama, ras, atau golongan tertentu.


Pikirlah baik-baik sebelum mengirim komentar.