Cerita Burger Terjebak Tensi Geopolitik Antara Turki dan Arab Saudi

·Bacaan 2 menit

Liputan6.com, Jakarta - Tak banyak yang tahu tentang 'Burger Turki' keluaran restoran makanan cepat saji Arab Saudi, Herfy, selain tentang pencitraan merek. Tapi, itu tidak menghentikan produk makanan tersebut terjebak dalam badai geopolitik antara Turki dan Arab Saudi.

Pekan lalu, melansir laman South China Morning Post, Rabu, 28 Oktober 2020, ketika ketegangan meningkat antara Ankara dan Riyadh, rantai makanan cepat saji Saudi tersebut mengumumkan bahwa mereka mengganti patty daging sapi dengan 'burger Yunani' yang identik, berujung pada pemangkasan harga.

"Itu produk yang sama," karyawan Herfy Mahmood Bassyoni meyakinkan pelanggan dengan senyuman, menawarkan sesendok saus pedas burger untuk dicicipi. "Hanya namanya yang berubah."

Perombakan menu yang tiba-tiba dinilai sebagai tanda betapa cepat perselisihan politik antara dua pihak memburuk, berubah jadi perebutan perdagangan yang melanda merek global seperti Mango.

Hubungan tegang antara negara-negara itu memburuk setelah pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi pada 2018, seorang kritikus kepemimpinan Saudi, di konsulat kerajaan di Istanbul. Kemudian, bulan ini, setelah dua tahun ketidakpuasan, keduanya 'menyelam' lagi.

Pengusaha Turki mengatakan, Arab Saudi menghalangi masuknya barang-barang mereka, klaim yang dibantah pemerintah Saudi. Setelah itu, kepala perusahaan Arab Saudi, Ajlan Al-Ajlan, menyerukan boikot semua hal tentang Turki, dengan mengatakan bahwa tanggung jawab setiap warga Saudi untuk berhenti mengimpor produk Turki dan berinvestasi di Turki.

Bahkan, termasuk bepergian ke sana karena klaim permusuhan terus-menerus dari pemerintah Turki terhadap para pemimpin dan negara itu.

Seruan Boikot

Ilustrasi restoran cepat saji. (dok. pexels.com/@davideibiza)
Ilustrasi restoran cepat saji. (dok. pexels.com/@davideibiza)

Influencer media sosial pro-pemerintah dengan pengikut yang banyak pun memicu seruan boikot, tak hanya dengan tagar, tapi juga logo. "Warga negara sejati tak menunggu keputusan dari pemerintah," tulis Salman Aldosary, kolumnis Saudi yang dekat dengan kepemimpinan kerajaan di Twitter.

Arab Saudi adalah pasar ekspor terbesar ke-15 Turki, dengan penjualan didominasi karpet, tekstil, bahan kimia, biji-bijian, furnitur, dan baja. Pemasukannya tercatat 1,91 juta dolar Amerika (Rp28 miliar) dalam delapan bulan pertama 2020.

Selama dua minggu terakhir, serangkaian bisnis Saudi, termasuk rantai grosir besar, seperti Abdullah Al Othaim Markets Co., mengumumkan bahwa mereka akan berhenti menjual produk dari Turki.

Stok produk susu Turki yang semakin menipis masih tersedia selama kunjungan baru-baru ini ke gerai Tamimi Markets di Riyadh, tapi rantai itu sekarang juga bergabung dengan boikot.

Sebuah bisnis mode daring kecil yang menjual sebagian besar produk Turki juga mengumumkan penutupan kurang dari sebulan setelah diluncurkan. Pejabat dan pengusaha menggambarkan boikot itu sebagai keputusan spontan warga Saudi yang frustrasi dengan sentimen anti-Saudi dari Turki.

Pihak Herfy sendiri belum menanggapi fenomena ini. Di luar media sosial, tak jelas seberapa besar daya tarik boikot tersebut. "Tentu, kenapa tidak,” kata Abdullah Al-Naami, saat meninggalkan cabang Herfy di ibu kota Riyadh sambil membawa item menu favoritnya, sebuah susu kocok Oreo.

"Kami memboikot Denmark di masa lalu," katanya merujuk pada kontroversi tahun 2006 tentang kartun yang mengejek Nabi Muhammad. Mengenai boikot Saudi atas Turki, "Ini adalah pertama kalinya saya mendengarnya," aku Al-Naami. "Saya tidak mengikuti berita."

Infografis Cara Aman Pesan Makanan via Online dari Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)
Infografis Cara Aman Pesan Makanan via Online dari Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: