Cerita Conte Ada Kesamaan Melatih Inter Milan dan Juventus

Zaky Al-Yamani
·Bacaan 2 menit

VIVAAntonio Conte mengungkapkan dirinya merasakan tantangan yang dihadapinya sebagai pelatih Inter Milan hampir serupa dengan kesulitan yang dialaminya saat masih pertama kali menangani Juventus satu dasawarsa silam.

Masa-masa di Juventus merupakan momen pemantik kegemilangan karier kepelatihan Conte yang sempat terseok-seok dalam sekira empat tahun pertamanya sebagai juru taktik.

Sebelum itu rekam jejak Conte hanyalah membawa Bari juara Serie B pada 2009 dan membawa Siena promosi ke Serie A dua musim kemudian.

Dua raihan menjanjikan itu membuat Conte dipercaya menduduki kursi pelatih Juventus, selepas pemecatan Luigi Delneri pada penghujung musim 2011.

Conte tiba di Juventus yang dua musim beruntun cuma finis di posisi ketujuh, lima tahun setelah skandal calciopoli yang membuat mereka terdegradasi ke Serie B berlalu.

Menurut Conte, situasi yang dihadapinya di Juventus sama beratnya dengan apa yang ia rasakan selama dua musim terakhir menangani Inter Milan, yang sudah satu dasawarsa tidak juara ketika ia tiba di Giuseppe Meazza.

"Keduanya situasi yang sangat sulit, sebab saya bergabung dengan Juventus setelah meraih promosi bersama Siena dan Juventus baru saja finis ketujuh di liga," kata Conte dilansir laman resmi Inter.

"Tidak ada visi yang jelas dan kami tidak diunggulkan, tetapi mampu mengalahkan tim-tim kuat. Sejak itu, siklus penting dimulai," ujarnya menambahkan.

Conte pada akhirnya jadi peletak batu pondasi dinasti Juventus dengan memenangi tiga dari sembilan gelar scudetto beruntun Si Nyonya Tua sebelum ia dipercaya menangani tim nasional Italia.

Setelah tenor yang medioker di skuad Gli Azzurri, Conte hijrah ke Chelsea dan di musim pertamanya langsung membawa The Blues juara Premier League hanya untuk jadi korban rutinitas pemecatan Roman Abramovich semusim berselang.

Menganggur setahun, Conte kembali ke tanah kelahirannya dan menerima pinangan Inter Milan, keputusan yang diakuinya sebagai sesuatu yang tidak mudah.

Sebab Conte tak semata harus menangani tim yang sudah lama tidak juara tetapi juga memenangi hati para tifosi yang menjadikannya sosok antagonis semasa melatih Juventus maupun kala mengemban ban kapten Si Nyonya Tua.

"Datang ke sini adalah keputusan terberat saya, sebab banyak orang akan bersembunyi dari tantangan ini. Saya ingin menguji diri sendiri, saya menyukai tantangan dan saya selalu bilang saya adalah penggemar nomor satu setiap tim yang saya wakili," katanya.

"Tidak mudah memenangi hati para suporter dan saya paham itu, tetapi saya yakin selalu memberi segalanya untuk tim yang saya latih. Saya terlibat hanya untuk memberikan kemampuan terbaik dan saya puas sebab kami sudah melakukan hal yang luar biasa," ujar Conte melengkapi. (Ant)