Cerita di Balik Patung Suro dan Boyo, Ikon Surabaya

Liputan6.com, Jakarta - Berkunjung ke Surabaya, Jawa Timur tak lengkap rasanya kalau tidak foto dengan berlatar belakang Patung Suro dan Boyo. Patung Suro dan Boyo, salah satu ikon Kota Pahlawan yang artinya ikan hiu dan buaya.

Di Surabaya, terdapat tiga patung yang dapat ditemui antara lain di Taman Skate dan Board di Jalan Ketabang Kali, Monumen berdiri di Bantaran Sungai Kalimas, dan di Jalan Pantai Kenjeran.Di antara tiga patung tersebut, patung di Jalan Pantai Kenjeran termasuk salah satu yang terbesar.

Tinggi patung Suro dan Boyo itu mencapai 25,6 meter. Tinggi dudukan patung 5 meter dan diameter 15 meter. Patung tersebut berdiri di area Taman Suroboyo yang memiliki luas 11.900 meter persegi.Mengutip Antara, Patung Suro dan Boyo ini memiliki bentuk unik berupa rumput laut menyerupai asli di antara kedua patung tersebut.

Dosen Sejarah Universitas Airlangga, Purnawan Basundoro menuturkan,patung berlambang suro dan boyo ini berasal dari legenda Suro dan Boyo yang saling berebut wilayah. Ada masing-masing pihak dari legenda itu yang melanggar wilayah. Purnawan menuturkan, kemungkinan Kota Surabaya yang dekat laut dan ada sungai pada zaman dahulu terdapat hewan tersebut.

"Saya menduga Kota Surabaya di tepi pantai dan ada sungai. Buaya di darat, suro atau ikan di laut itu binatang, dan familiar dengan masyarakat pada zaman dahulu," ujar dia saat dihubungi Liputan6.com, Jumat (12/3/2020).

Selain itu, simbol patung suro dan boyo ini juga jadi simbol keberanian pemuda-pemuda Surabaya dalam mempertahankan wilayahnya dengan menentang bahaya. Hal itu ketika Raden Wijaya selamat dari serangan dan ancaman pasukan Tar-Tar. Kemudian, hari kemenangan itu dijadikan sebagai hari ulang tahun Kota Surabaya.

"Ada juga yang dikaitkan dengan pasukan Tar-Tar dan menjadi hari jadi Surabaya pada 31 Mei 1293, semua dugaan saja,” kata dia.

Dipakai Sejak Era Kolonial Belanda

Adapun patung melambangkan Suro dan Boyo yang masing-masing artinya ikan hiu dan buaya ini menjadi simbol Kota Pahlawan. Bahkan simbol tersebut dipakai sejak era kolonial Belanda.

Purnawan menuturkan, simbol yang digunakan sejak era kolonial Belanda itu dapat ditemui sekitar Pasar Pabean. Ia pun mengapresiasi simbol dan lambang pemerintahan Kota Surabaya yang memakai Suro dan Boyo ini karena menunjukkan kearifan lokal. Ini juga menunjukkan identitas sebuah kota.

“Ini angkat kearifan lokal karena biasanya simbol dan lambang pemerintahan itu singa dan sangat kolonial sekali. Simbol kota itu juga identitas kota, dan masing-masing kota dan daerah memiliki kekhasan sendiri,” ujar dia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini