Cerita Dokter Bantu Evakuasi Pasien Patah Tulang Korban Bencana NTT

Hardani Triyoga
·Bacaan 2 menit

VIVA – Sejumlah dokter orthopaedi yang tergabung dalam tim tanggap bencana Perhimpunan Dokter Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi Indonesia (PABOI) saat ini masih membantu korban bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT). Salah satu temuan yaitu adanya korban luka parah karena patah tulang sehingga menderita lumpuh.

Salah seorang anggota PABOI, dr. I Made Buddy Setiawan, SpOT(K), menyampaikan saat ini pihaknya membantu evakuasi pasien yang membutuhkan tindakan cukup serius. Ia menceritakan salah satu pasien tersebut yaitu seorang perempuan berusia 38 tahun yang merupakan korban bencana badai Siklon Seroja di Lembata, NTT.

I Made menjelaskan pasien tersebut mengalami patah tulang belakang dan luka-luka di seluruh tubuh. Pasien perempuan itu diduga terbawa arus banjir bandang. Kondisinya cukup memprihatinkan karena patah tulang belakang yang membuat korban lumpuh di bagian kedua kakinya.

"Kondisi ini harus segera dioperasi sehingga peluang pasien untuk bisa berjalan kembali lebih besar," ujar Made, dalam keterangan tertulisnya yang dikutip pada Rabu, 14 April 2021.

Menurut dia, untuk keluarga pasien perempuan tersebut sudah ditangani di RS Lewoleba. Terkait operasi tulang belakang untuk pasien tersebut diperlukan alat dan fasilitas khusus guna mengurangi risiko terjadinya komplikasi pascaoperasi.

Pun, ia menambahkan anak perempuan dari pasien itu yang baru berusia 8 tahun juga terpaksa kehilangan kaki kanannya. Luka yang dialami bocah itu cukup parah karena patah tulang terbuka di kaki kanannya.

Kata dia, tim dokter sudah berusaha menyelamatkan kaki kanan bocah tersebut dengan operasi pertama. Namun, dalam perkembangannya, kaki bocah itu mengalami infeksi berat sehingga harus diamputasi demi menyelamatkan nyawanya.

Dia bilang proses evakuasi pasien patah tulang cukup berat karena kondisi daerah pascabencana. Namun, jadi terbantu karena koordinasi yang baik antara tim dokter di Lembata dengan dokter orthopaedi yang bertugas di RSUD dr. Hendrikus Fernandez Larantuka.

Sementara, Ketua PABOI, Dr. dr. Edi Mustamsir, SpOT(K) mengingatkan agar petugas penanganan bencana di NTT agar tetap menjalankan protokol kesehatan. Ia menyampaikan demikian lantaran penularan COVID-19 masih bisa terjadi di area bencana ini.

"Para tim medis juga harus lebih waspada agar tidak terpapar COVID-19, mengingat masih banyak korban yang belum tertangani dan jumlah tim medis yang terbatas," tutur Edi.

Sebelumnya, Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi menyampaikan update jumlah korban meninggal dunia dan hilang akibat bencana banjir bandang di daerah yang dipimpinnya tersebut. Data terbaru itu hingga per Selasa, 13 April 2021.

“Sampai hari ini jumlah korban yang meninggal dunia ada 178 orang, dan korban yang hilang ada 47 orang,” kata Josef saat konferensi virtual.

Kemudian, Josef mengatakan korban yang mengalami luka-luka baik luka ringan, luka berat yang dirawat di rumah sakit maupun dirawat di rumah itu totalnya 259 orang.

“Ini digabung secara keseluruhan,” jelas dia.

Lalu, ia menambahkan, sebanyak 34.838 orang mengungsi akibat bencana di NTT. Namun, jumlah pengungsi rata-rata yang rumahnya hancur sudah dipulangkan ke rumah keluarga atau saudaranya. "Tapi, tetap atas biaya dari pemerintah,” ujarnya.