Cerita Dua Srikandi KPK Tak Gentar Melawan Intimidasi Demi Berantas Korupsi

·Bacaan 3 menit

Merdeka.com - Merdeka.com - Surya Tarmiani melawan stigma. Perempuan tak sekadar berkutat dengan urusan domestik. Dia ingin menunjukkan. Wanita juga mampu melakukan hal-hal positif di luar tugas utamanya.

Surya adalah satu dari sekian banyak wanita yang bekerja di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Tugasnya tidak main-main, menyidik kasus-kasus korupsi yang tak jarang menyeret nama sejumlah orang penting di negara ini.

Sebagai penyidik, setiap harinya dia mengumpulkan barang bukti, melakukan pemeriksaan saksi hingga menganalisis bukti-bukti dalam bentuk dokumen maupun elektronik. Sesekali, kasus yang ditangani mengharuskandirinya turun ke lapangan melakukan penggeledahan.

Surya mengakui intimidasi sering dia dapatkan saat pemeriksaan. Apalagi bila yang diperiksa memberikan jawaban-jawaban sulit dan nyeleneh dari para tersangka kaum lelaki. Beberapa dari mereka terkadang memandang sebelah mata, jika penyidik perempuan bisa "diluluhkan".

Namun ragam taktik maupun ancaman dari para terperiksa, tidak membuat gentar penyidik Surya. Dia terus melakukan proses penyidikan. Penyidik Surya tetap profesional dan fokus pada pekerjaannya. Prinsipnya adalah perempuan bisa setara dan berperan dalam situasi dan rumpun profesi apapun.

"Memang penyidikan itu suatu pekerjaan yang dominannya dilakukan oleh laki-laki. Jadi memang perempuan kalau di situ (Direktorat Penyidikan) hanya (berjumlah) sebagian kecil saja. Memang banyak tantangannya, banyak di awal pasti tidak menyangka akan menghadapi pekerjaan atau risiko semacam itu," ungkap Surya, seperti dikutip dari Antara, Jumat (22/4).

Surya mengungkapkan alasannya memilih pekerjaan penyidik. Pilihan pekerjaan ini semata-mata ingin menegakkan nilai-nilai kebenaran yang ada di masyarakat. Sebab perbuatan korupsi adalah perbuatan yang tidak benar dan masyarakat harus tahu itu.

"Jadi jangan sampai masyarakat tidak tahu kebenarannya. Yang tidak benar jadi lazim dan yang benar jadi tidak lazim. Kebenaran itu harus diperjuangkan. Jadi, masyarakat terbiasa dengan nilai-nilai kebenaran," ujarnya.

Menurut Surya, ia sebagai salah satu perempuan yang bekerja menjadi penyidik justru dapat memberikan nilai tambah dalam proses penyidikan suatu perkara. Ada sejumlah perkara yang ia tangani, tidak bisa dilakukan oleh peran laki-laki karena harus menggunakan sisi feminitas.

Dia membagikan pengalaman. Pernah satu ketika diharuskan turun ke lapangan meninjau lokasi sawit untuk suatu perkara penyidikan. Dalam tim tersebut, hanya dia penyidik perempuan. Ia bersama tim menelusuri hutan sawit yang luasnya berhektare-hektare, lebatnya semak belukar, dan terjalnya tanah yang becek setelah diguyur hujan.

Medan berat yang dilalui tidak menyurutkan semangatnya untuk tetap bekerja.

Jaksa Wanita Bekerja Penuh Risiko di KPK

Jaksa Penuntut KPK Dame Maria Silaban juga menceritakan pekerjaannya berisiko tinggi. Mau tidak mau, dia harus melakukan penuntutan hukuman terhadap terdakwa tindak pidana korupsi.

Setiap harinya, Dame bergelut dengan waktu, menyusun dakwaan, melakukan pemeriksaan hingga melaksanakan eksekusi putusan hakim. Hal itu terus bertambah seiring tersangka korupsi yang jumlahnya juga meningkat.

Jaksa Dame juga meneliti berkas perkara untuk kecukupan alat bukti agar layak disidangkan sehingga hakim dapat memvonis terdakwa bersalah. Saat dilakukan eksekusi, lanjut Dame, jaksa masih harus memantau untuk mendapatkan pengembalian kerugian keuangan negara sebagai uang pengganti yang akan disetorkan ke kas negara.

"Meskipun perkara itu sudah selesai, tidak sampai di situ. Kadangkala terdakwa itu masih akan melakukan PK (peninjauan kembali) yang kedua, bukan hanya sekali, bahkan kedua atau ketiga. Itu juga cukup menguras waktu dan energi, sementara perkara-perkara lain sudah banyak yang menunggu di bawah," ujarnya.

Namun, hal tersebut tak membuatnya ciut menghadapi para koruptor yang didominasi kaum lelaki. Dia bahkan tak gentar ketika ancaman datang. Sebab pekerjaan ini bagian dari cita-citanya menjadi bermanfaat di masyarakat sebagai perempuan.

"Ini adalah cita-cita dan panggilan hidup, sejak kecil cita-cita saya menjadi jaksa. Bahkan tantangan ini menjadi pemicu, pemacu kita 'geregetan' menghadapi para koruptor. Bagaimana Indonesia ini bisa bebas dari korupsi," kata Jaksa Dame. [lia]

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel