Cerita Eko Yuli Irawan Sempat Dilarang Orangtua Kini Sukses Jadi Atlet Angkat Besi Medali Olimpiade

·Bacaan 4 menit

Fimela.com, Jakarta Nama Eko Yuli Irawan sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat Indonesia. Ia merupakan atlet angket besi peraih medali di beberapa ajang olahraga internasional Olimpiade.

Prestasi terbarunya, ia membawa pulang medali perak ke tanah air lewat Olimpiade Tokyo 2021. Keberhasilannya tersebut tidak didapatkannya secara instan, ia harus melalui beberapa proses bahkan pernah ditentang oleh keluarganya.

Pria yang lahir di Lampung ini bercerita jika menggeluti bidang olahraga angkat besi ini tidak sengaja, ia hanya menyalurkan hobinya di bidang olahraga dan ingin bercita-cita memiliki piala di ruamh. Sebab Eko Yuli Irawan bukan terlahir dari keluarga atlet atau olahragawan. Dan anya ingin bercita-cita memiliki piala yang bisa dibanggakan.

TERKAIT: Update Olimpiade Tokyo 2020: Perjuangan Windy Cantika Aisah Hingga Eko Yuli Irawan Raih Medali untuk Indonesia

TERKAIT: Indro Warkop Sebut Eko Yuli Irawan Sebagai Pahlawan Indonesia

TERKAIT: Kisah Seorang Ayah Tunggal Adopsi Anak Sakit yang Kini Raih Juara Olimpiade

"Tadinya memang tidak sengaja terjun di dunia angkat besi. Di rumah pengen punya piala, kalau lewat pendidikan tidak mungkin jadi olahraga saja yang memang sudah hobi dan rezekinya di angkat besi," ungkapnya dalam acara Virtual Webinar Bincang Inspiratif Visa “Wujudkan Mimpi di Tengah Keterbatasan”.

Pria yang lahir 24 Juli 1989 ini mengatakan karena tidak ada beban, ia mengatakan jika tempat latihan menjadi tempatnya bermai. Alhasil selama latihan tidak ada paksaan, hanya kenyamanan yang dirasakan.

"Latihan itu udah kaya tempat main bagi saya, karena di sana ramai banyak teman," tambahnya.

Sempat dilarang orangtua

Eko Yuli Irawan mendapat tanda kehormatan dari Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, pada peringatan HUT ke-76 RI di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Selasa (17/8/2021). (Bola.com/Aditya Wany)
Eko Yuli Irawan mendapat tanda kehormatan dari Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, pada peringatan HUT ke-76 RI di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Selasa (17/8/2021). (Bola.com/Aditya Wany)

Awal mula latihan, pria berusia 32 tahun mengatakan tanpa sepengetahun orangtuanya. Hal ini diikarenakan ia takut tidak diijinkan karena ia memiliki tanggung jawab untuk menggembala sapi.

"Kalau bilang itu, takut orangtua mikir akan melalaikan tanggung jawab saya," tuturnya.

Namun, lambat laun Eko pun mulai berbicara kepada orangtuanya, akan berlatih angkat besi dan tidak mengabaikan tanggung jawabnya tersebut. Di tahun 2001 selama 10 bulan latihan, akhirnya ia mengikuti kejuaraan Nasional dan langsung meraih emas.

Dari situlah, Eko mulai memiliki mimpi yang besar lagi dan termotivasi dari pelatihnya. "Mulai termotivasi karena pelatih saya bilang, kalau menang bisa banggain kedua katanya pelatih saya, dari situ mulai punya mimpi," ungkapnya.

Mimpi tersebut membawa merantau ke Bogor di tahun 2001 untuk pelatihan yang mengharuskannya jauh dari keluarga. Jauh dari orangtua membuatnya berpikir ketika pulang harus membawa hasil yang memuaskan yaitu prestasinya. Namun, beberapa tahun merantau, Eko belum memperlihatkan hasilnya, hingga akhirnya orangtua terutama ibunya menyuruhnya untuk pulang.

"2004 orangtua frutasi duluan nyuruh pulang karena belum ada hasil, terutama ibu yang berpikir tidak bisa beri uang saku. Akhirnya saya menenangkan ibu dan minta waktu setahun untuk membawa hasil. Akhirnya terjawab, dan saya pun bisa memberikan sesuatu untuk orangtua," tuturnya.

Selama empat tahun di Bogor, kemudian ia mulai masuk Pelatnas yang memberinya kesempatan untuk bertanding di kejuaran Internasional.

Bertanding di ajang internasional hingga meraih medali Olimpiade

Atlet angkat besi, Eko Yuli Irawan, saat sesi latihan di Pelatnas angkat besi, Jakarta, Rabu (21/3/2018). Eko Yuli Irawan bertekad ingin memecahkan rekor pribadi di Asian Games 2018. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)
Atlet angkat besi, Eko Yuli Irawan, saat sesi latihan di Pelatnas angkat besi, Jakarta, Rabu (21/3/2018). Eko Yuli Irawan bertekad ingin memecahkan rekor pribadi di Asian Games 2018. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Eko memulai olahraga angkat besi sejak usia remaja dan memulai debut internasional pertamanya di usia 17 tahun, dalam ajang Junior World Weightlifting Championship 2006 di Hangzhou, China.

Sejak saat itu, Eko memenangkan berbagai kompetisi internasional, dengan pencapaian paling berkesan adalah meraih dua medali emas dalam ajang Asian Games 2018 di Indonesia dan International Weightlifting Federation World Championship 2018 di Turkmenistan.

Setelah berhasil meraih medali perak dalam ajang Olympic Games Tokyo 2020, Eko kini fokus untuk memenangkan medali emas dalam ajang PON XX di Papua mendatang.

"Tanding di PON tanggal 6 Oktober mewakili Jawa Timur, saya sama sekali tidak meremehkan atlet lain masih harus melihat bagaimana lawan saya nanti," ujarnya.

Sederet prestasi diraih Eko Yuli Irawan

2006 – Debut internasional pertama Junior World Weightlifting Championship, Hangzhou, China

2007 – Medali perunggu World Weightlifting Championship, Chiang Mai, Thailand

2007 – Medali emas Sea Games Thailand

2007 – Medali emas dan the best lifter Junior World Championship, Praha, Republik Ceko2008 – Medali emas PON XVII di Kaltim

2008 – Medali perak Asian Weightlifting Championship, Kanazawa, Jepang, kelas 62 Kg

2008 – Medali perunggu Olympic Games Beijing 2012

2009 – Medali perak World Weightlifting Championship, Goyang, Korea Selatan, kelas 62 kg

2011 – Medali emas Summer Universiade, China

2011 – Medali perunggu World Weightlifting Championship, Paris, Perancis, kelas 62 Kg

2012 – Medali perunggu Olympic Games London 2012

2013 – Medali emas Sea Games

2014 – Medali emas World Weightlifting Championship, Almaty, Kazakhstan

2016 – Medali perak Olympic Games Rio 2016

2018 – Medali World Championship, Ashgabat, Turkmenistan, kelas 61 Kg

2018 – Medali emas Asian Games, Indonesia2019 – Medali emas Sea Games, Filipina

2019 – Medali perak World Weightlifting Championship, Pattaya, Thailand, kelas 61 Kg

2021 – Medali perak Olympic Games Tokyo 2020, kelas 61 Kg, total angkatan 302 Kg.

Tujuan kami adalah menciptakan tempat yang aman dan menarik bagi pengguna untuk terhubung melalui minat dan kegemaran. Untuk meningkatkan pengalaman komunitas, kami menangguhkan sementara fitur komentar artikel